Rachel Fuller Brown (23 November 1898 – 14 Januari 1980) adalah seorang ahli kimia asal Amerika Serikat yang terkenal atas kontribusinya dalam pengembangan antibiotik antijamur pertama yang efektif, nystatin. Bersama mikrobiolog Elizabeth Lee Hazen, Brown mengembangkan obat ini melalui penelitian di Division of Laboratories and Research dari Departemen Kesehatan Negara Bagian New York. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Mount Holyoke College dan memperoleh gelar doktor dari Universitas Chicago. Atas pencapaiannya, ia diabadikan dalam National Inventors Hall of Fame pada tahun 1994.[1]
Nystatin, yang masih diproduksi hingga kini dengan berbagai nama dagang, tidak hanya digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur yang berbahaya bagi manusia, tetapi juga telah diterapkan dalam upaya mengatasi Dutch Elm Disease pada pohon dan melindungi karya seni dari kerusakan akibat air dan jamur.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Rachel Fuller Brown lahir di Springfield, Massachusetts, pada 23 November 1898.[2] Saat berusia 14 tahun, ayahnya meninggalkan keluarga mereka. Brown bersekolah di Commercial High School sebelum berpindah ke Central High School atas keinginan ibunya yang menginginkan pendidikan yang lebih konvensional bagi putrinya.
Keinginan Brown untuk melanjutkan pendidikan tinggi mendapat dukungan dari Henriette F. Dexter, seorang sahabat neneknya, yang membiayai studinya di Mount Holyoke College. Brown menempuh studi kimia dan sejarah di institusi tersebut, meraih gelar sarjana pada tahun 1920. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Chicago dan memperoleh gelar magister dalam bidang kimia organik. Setelah mengambil beberapa mata kuliah di Harvard, ia kembali ke Universitas Chicago untuk studi lanjut. Meskipun menghadapi kendala dalam menyelesaikan disertasinya, Brown tetap melanjutkan kariernya di Division of Laboratories and Research di New York, sebuah lembaga penelitian yang dikenal atas pengembangan vaksin dan antiserum. Setelah tujuh tahun bekerja, ia kembali ke Chicago untuk menyelesaikan gelar doktor.
Pengembangan Nystatin dan Kontribusi Ilmiah
Pada tahun 1948, Brown memulai kolaborasi dengan Elizabeth Lee Hazen dalam penelitian terhadap jamur dan bakteri. Saat itu, penggunaan antibiotik semakin meluas dalam pengobatan infeksi bakteri, tetapi sering kali menyebabkan pertumbuhan jamur yang tidak terkendali. Antibiotik membunuh bakteri, termasuk bakteri baik yang mengontrol perkembangan jamur, sehingga menyebabkan berbagai infeksi seperti sariawan dan nyeri perut. Beberapa jenis jamur bahkan menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan penyakit seperti kurap dan athlete’s foot.
Dalam proyek penelitian mereka, Hazen mengumpulkan sampel mikroorganisme dari tanah dan mengujinya untuk melihat efektivitasnya melawan jamur. Jika ditemukan aktivitas yang menjanjikan, ia mengirim sampel tersebut kepada Brown dalam toples kaca. Brown kemudian mengekstrak dan mengisolasi senyawa aktif yang berpotensi menjadi obat antijamur. Setelah menguji ratusan sampel yang sebagian besar terlalu beracun bagi hewan uji, mereka menemukan satu mikroorganisme yang menghasilkan dua senyawa antijamur. Salah satu senyawa tersebut terlalu toksik, tetapi yang lainnya terbukti efektif.
Dari penelitian ini, mereka mengembangkan obat yang kemudian diberi nama nystatin. Antibiotik antijamur ini menjadi obat pertama yang aman digunakan untuk manusia, serta dapat dikombinasikan dengan antibiotik lain guna mengurangi efek samping. Selain itu, nystatin juga digunakan untuk melindungi karya seni yang rusak akibat banjir dan jamur. Pada tahun 1950, Brown dan Hazen mempresentasikan penelitian mereka di Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional, dan pada tahun 1954, nystatin mulai diproduksi untuk keperluan medis.
Karier dan Penelitian Lanjutan
Pada tahun 1951, Brown dipromosikan menjadi associate biochemist di Departemen Kesehatan New York. Ia dan Hazen terus bekerja sama dalam penelitian lanjutan, yang kemudian menghasilkan dua antibiotik tambahan, yaitu phalmycin dan capacidin. Hingga masa pensiunnya, Brown tetap berkontribusi dalam berbagai studi bakteriologi dan pengembangan antibiotik.
Brown meninggal pada 14 Januari 1980 di Albany, New York, dalam usia 81 tahun.
Penghargaan dan Pengakuan
Keberhasilan Brown dan Hazen dalam mengembangkan nystatin menghasilkan royalti sebesar 13,4 juta dolar. Namun, keduanya memilih untuk tidak mengambil keuntungan pribadi dari dana tersebut. Sebagai gantinya, dana tersebut dikelola oleh Research Corporation dengan setengahnya digunakan untuk mendanai penelitian ilmiah dan setengah lainnya dialokasikan dalam bentuk hibah yang kemudian dikenal sebagai Brown-Hazen Fund.
Brown dan Hazen menerima berbagai penghargaan atas kontribusi mereka, termasuk Squibb Award in Chemotherapy pada tahun 1955. Brown juga diangkat sebagai anggota New York Academy of Sciences pada tahun 1957. Saat pensiun pada tahun 1968, ia dianugerahi Distinguished Service Award dari Departemen Kesehatan New York.[2] Pada tahun 1972, ia menerima Rhoda Benham Award dari Medical Mycological Society of the Americas. Pada tahun 1975, Brown dan Hazen menjadi perempuan pertama yang meraih Chemical Pioneer Award dari American Institute of Chemists.
Sebagai pengakuan atas jasanya dalam ilmu pengetahuan, Brown dilantik ke dalam National Inventors Hall of Fame pada tahun 1994.[3]
Filantropi dan Warisan
Sejak menetap di Albany, Brown menjadi anggota St. Peter’s Episcopal Church, di mana ia bertemu Dorothy Wakerley, yang kemudian menjadi sahabat dan pendamping hidupnya. Mereka tinggal bersama, merawat keluarga besar, serta menampung ilmuwan perempuan dari Tiongkok yang berkunjung untuk studi.
Brown juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai anggota dewan administrasi gerejanya serta mengajar Sekolah Minggu selama bertahun-tahun. Antara tahun 1957 dan 1978, Brown-Hazen Fund memberikan dukungan dalam pelatihan dan penelitian di bidang ilmu biomedis serta mendorong lebih banyak perempuan untuk berkarier di bidang sains. Pada masanya, dana ini menjadi salah satu sumber utama pendanaan nonpemerintah untuk penelitian mikologi medis di Amerika Serikat. Selain itu, selama lebih dari lima dekade, Brown menjadi anggota aktif American Association of University Women, di mana ia secara konsisten memperjuangkan partisipasi perempuan dalam ilmu pengetahuan.[4]
Sebelum meninggal, Brown tidak hanya membalas budi kepada Henriette Dexter, dermawan yang membiayai pendidikannya, tetapi juga menggunakan royalti yang diperoleh untuk mendanai penelitian ilmiah dan beasiswa bagi ilmuwan generasi berikutnya. Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di The Chemist pada bulan wafatnya, Brown menyampaikan harapannya untuk masa depan yang memberikan "kesempatan dan pencapaian yang setara bagi semua ilmuwan, tanpa memandang jenis kelamin."
Referensi
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.