Hikayat Banjar secara khusus menyebutkan legenda mengenai Putri Junjung Buih yang muncul dari buih-buih di laut, yang menjadi asal dari namanya.[1][2] Putri Junjung Buih lalu menjadi saudara angkat Patih Negara Dipa, Lambung Mangkurat yang dipertemukan ketika melakukan kegiatan bertapa (Banjar:balampahcode: bjn is deprecated ) sebagai seorang gadis dari dalam kumpulan buih di sungai.
Puteri Junjung Buih, Maharani Negara Dipa dipercaya sebagai manifestasi Jata atau Tambun, penguasa alam bawah yang dideskripsikan sebagai naga maha raksasa penyangga bumi. Pernikahan Pangeran Suryanata yang melambangkan Pengeran Matahari dengan Putri Junjung Buih memiliki dasar di kepercayaan lokal kaharingan akan persatuan langit dan air.[butuh rujukan]
Mengesampingkan legenda tradisional, Putri Junjung Buih kemungkinan besar merupakan anak dari seorang bangsawan setempat yang dalam sumber-sumber belakangan disebut sebagai Ngabehi Hileer.[6] Menurut mitologi pesisir selatan Kalimantan, seorang raja yang sah haruslah keturunan dari Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata, pasangan yang dianggap "bangsawan sejati", hal ini membuat wangsa-wangsa bangsawan di Kalimantan bagian selatan menelusuri silsilah mereka ke sang Maharani. Beberapa kerajaan di Kalimantan Barat juga mengaku sebagai keturunan Puteri Junjung Buih.[7] Nama Junjung Buih juga memiliki tempat kehormatan di antara masyarakat Kalimantan, sebagai contoh dalam Perang Banjar, seorang putri dari Panembahan Muda Aling yang bernama Saranti diberi gelar Poetri Djoendjoeng Boewih.[8]
↑Mu’jizah (2004). Tempat-Tempat Perkembangan Sastra Melayu: Banjarmasin In Sastra Melayu Lintas Daerah. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 159–160.
↑Ras, J. J. (1968). Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Vol. 1. hlm. 628–629.