Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari tiangong program di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Cina meluncurkan laboratorium ruang pertama, Tiangong 1, pada tanggal 29 September 2011. Setelah Tiangong 1, laboratorium ruang yang lebih canggih lengkap dengan kapal kargo, dijuluki Tiangong 2, akan dibangun. Tiangong 3 akan terus mengembangkan teknologi tersebut. Proyek ini akan berujung dengan sebuah stasiun orbital besar, yang akan terdiri dari modul inti 20-ton, 2 modul penelitian yang lebih kecil, dan kargo transportasi.[2] It will support three astronauts for long-term habitation[1] Ini akan mendukung tiga astronaut huni jangka panjang [ 2 ] dan dijadwalkan akan selesai seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional saat ini dijadwalkan akan pensiun.[3]
Hasil penelitian Linggapuspa, dkk pada tahun 2025 tentang strategi tiongkok menghadapi perlombaan program ruang angkasa dengan Amerika Serikat tahun 2021-2023 menyimpulkan bahwa Kemunculan Tiongkok dapat menggeser dominasi Amerika Serikat  di ruang angkasa. Tiongkok memiliki prinsip multipolarisme, di mana tidak ada satu negara yang lebih dominan dalam mempengaruhi sistem internasional, akan tetapi ada banyak kekuatan yang berinteraksi, saling bersaing,  dan berkoordinasi untuk menjaga keseimbangan kekuatan. Tiongkok menggunakan strategi yang meliputi internal balancing dan eksternal balancing. Strategi  internal  yakni Tiongkok mengeluarkan buku putih dan membangun stasiun luar angkasa  Tiangong, dan  meluncurkan  satelit  navigasi  BeiDou.  Strategi  eksternal balancing yakni Tiongkok melakukan kerja sama dengan Rusia dalam pembangunan International  Lunar  Research  Station  dan  melakukan  peningkatan pada Global Navigation Satellite System dengan menggabungkan BeiDou dan GLONASS.  [4]
12
David, Leonard (2011-03-11). "China Details Ambitious Space Station Goals". SPACE.com. Diakses tanggal 2011-03-09. China is ready to carry out a multiphase construction program that leads to the large space station around 2020. As a prelude to building that facility, China is set to loft the Tiangong-1 module this year as a platform to help master key rendezvous and docking technologies.
Catatan: †Tidak pernah dihuni karena kegagalan peluncuran atau orbit, ‡ Bagian dari program militer Almaz , ° Tidak pernah dihuni, tidak memiliki mekanisme penyandaran.