Untuk bintang yang memiliki nama tradisional Princeps, lihat Delta Boötis.
Augustus merupakan penguasa Romawi pertama yang secara konsisten digambarkan sebagai princeps.
Princeps (jamak: principes) adalah kata bahasa Latin yang berarti “yang pertama”, “yang terkemuka”, atau “pemimpin”. Kata ini dapat digunakan sebagai kata sifat maupun kata benda untuk menunjukkan seseorang yang menduduki urutan pertama atau memiliki kedudukan paling menonjol dalam suatu kelompok.[1]
Dalam sejarah Romawi Kuno, istilah ini terutama dikaitkan dengan kaisar Romawi. Sejak masa pemerintahan Augustus, princeps digunakan untuk menggambarkan kaisar sebagai warga negara atau negarawan terkemuka, bukan sebagai raja yang secara terbuka memerintah melalui lembaga monarki. Penggunaannya membantu mempertahankan kesan bahwa lembaga-lembaga Republik Romawi, termasuk Senat, masih tetap berfungsi meskipun kekuasaan politik dan militer pada kenyataannya telah terpusat pada kaisar.[2] Sistem pemerintahan kekaisaran awal yang berkaitan dengan kedudukan tersebut dikenal sebagai Prinsipat.
Etimologi dan penggunaan awal
Kata princeps dibentuk dari unsur Latin primus, yang berarti “pertama”, dan capere, yang berarti “mengambil”. Secara harfiah, kata tersebut mengandung pengertian seseorang yang “mengambil tempat pertama”.[1] Dalam penggunaan yang lebih luas, istilah ini dapat merujuk pada tokoh utama, orang terkemuka, pemimpin, atau anggota paling berpengaruh dalam suatu kelompok.
Pada masa Republik Romawi, bentuk jamaknya, principes, kerap digunakan untuk menyebut para tokoh politik terkemuka atau “orang-orang utama negara”. Penulis seperti Cicero menggunakan istilah tersebut untuk sejumlah negarawan, termasuk Pompeius dan Julius Caesar. Dalam konteks ini, princeps tidak menunjukkan sebuah jabatan dengan wewenang hukum tertentu, melainkan kedudukan sosial dan politik yang menonjol.[2]
Istilah ini juga terdapat dalam gelar princeps senatus, yang secara harfiah berarti “orang pertama dalam Senat”. Princeps senatus adalah senator yang ditempatkan pada urutan pertama dalam daftar anggota Senat oleh para sensor. Ia memiliki kehormatan untuk menyampaikan pendapat lebih dahulu dalam pembahasan Senat, tetapi bukan ketua Senat dalam pengertian modern.[2]
Penggunaan oleh Augustus
Setelah mengalahkan Marcus Antonius dan Kleopatra VII dalam Pertempuran Actium, Oktavianus menjadi penguasa dominan di wilayah Romawi. Pada penyelesaian politik tahun 27 SM, ia secara resmi mengembalikan sejumlah kewenangannya kepada Senat dan rakyat Romawi, lalu menerima gelar kehormatan Augustus.[3]
Augustus memilih menggambarkan kedudukannya dengan istilah princeps karena kata tersebut memiliki kaitan dengan tradisi republik. Sebutan itu tidak mengandung makna monarki sejelas istilah rex atau “raja”, dan berbeda dari dictator, jabatan yang dikaitkan dengan pemerintahan luar biasa dan kekuasaan Julius Caesar.[2]
Princeps bukan merupakan jabatan resmi tunggal yang memberikan seperangkat kewenangan tertentu. Kekuasaan Augustus berasal dari gabungan beberapa kewenangan dan kehormatan, terutama kekuasaan tribun atau tribunicia potestas, kewenangan prokonsuler, kedudukannya dalam Senat, kekuasaan militer, serta pengaruh pribadinya atau auctoritas.[3]
Dalam Res Gestae Divi Augusti, Augustus menyatakan bahwa ia telah menjadi princeps senatus selama 40 tahun.[4] Ia juga menyatakan bahwa setelah tahun 27 SM dirinya mengungguli semua orang dalam auctoritas, meskipun secara formal tidak memiliki potestas yang lebih besar daripada rekan-rekannya dalam jabatan pemerintahan.[5]
Dengan demikian, istilah princeps membantu Augustus menampilkan kekuasaannya sebagai kepemimpinan seorang warga negara utama di dalam tatanan republik, meskipun pada praktiknya ia telah menjadi penguasa tunggal Romawi.
Kaisar dan Prinsipat
Para penerus Augustus juga disebut principes, khususnya dalam karya sastra, sejarah, dan komunikasi politik. Istilah tersebut menekankan gagasan bahwa kaisar merupakan anggota pertama atau terkemuka dalam masyarakat Romawi, bukan penguasa yang sepenuhnya terpisah dari warga negara lainnya.
Meskipun demikian, kedudukan kaisar tidak pernah dirumuskan melalui satu jabatan konstitusional bernama princeps. Kaisar menggunakan berbagai gelar, nama, dan kewenangan, seperti imperator, Augustus, Caesar, pontifex maximus, dan pater patriae. Gambaran mengenai kaisar juga berubah-ubah menurut masa, daerah, kelompok sosial, dan media yang menggunakannya.[6]
Istilah Prinsipat berasal dari kata Latin principatus dan digunakan oleh sejarawan untuk menyebut tahap awal Kekaisaran Romawi. Masa ini biasanya dimulai pada pemerintahan Augustus tahun 27 SM. Batas akhirnya berbeda menurut pembabakan yang digunakan, tetapi sering ditempatkan pada Krisis Abad Ketiga atau reformasi pemerintahan Diokletianus pada akhir abad ke-3.[3]
Pada masa Diokletianus, upacara istana, administrasi, dan penggambaran penguasa menjadi semakin monarkis. Istilah dominus, yang berarti “tuan” atau “penguasa”, semakin sering dikaitkan dengan kaisar. Karena itu, pemerintahan kekaisaran setelah masa tersebut secara tradisional disebut Dominatus. Namun, perubahan dari Prinsipat menuju Dominatus berlangsung secara bertahap dan tidak menghapus seluruh penggunaan kata princeps secara mendadak.[6]
Princeps iuventutis
Gelar princeps iuventutis berarti “pemimpin kaum muda” atau “orang pertama di antara para pemuda”. Pada masa awal Kekaisaran, gelar tersebut diberikan kepada laki-laki muda dari keluarga kekaisaran yang dipandang sebagai calon penerus penguasa.
Gelar ini pertama kali menjadi penting ketika para anggota golongan penunggang kuda Romawi atau equites menganugerahkannya kepada cucu sekaligus putra angkat Augustus, Gaius Caesar dan Lucius Caesar. Mereka juga menerima perisai dan tombak perak sebagai lambang kehormatan tersebut.[7][8]
Meskipun gelar tersebut menandai kedekatan seseorang dengan suksesi kekaisaran, princeps iuventutis bukan jabatan yang secara otomatis menjadikan pemegangnya sebagai pewaris resmi. Pada masa Augustus belum terdapat jabatan kaisar yang secara hukum dapat diwariskan seperti mahkota dalam monarki turun-temurun.[7]
Penggunaan militer dan administratif
Kata princeps juga digunakan dalam struktur militer Romawi. Pada masa Republik, principes merupakan salah satu barisan infanteri berat dalam legiun manipular. Mereka pada umumnya ditempatkan di belakang barisan hastati dan di depan triarii.
Pada masa kekaisaran, istilah tersebut muncul dalam sejumlah pangkat atau fungsi perwira. Princeps prior adalah seorang centurion yang memimpin salah satu centuria dalam sebuah kohor, sedangkan princeps posterior memimpin centuria pasangannya. Dalam kohor pertama sebuah legiun, princeps prior merupakan salah satu centurion paling senior dan berada tepat di bawah primus pilus dalam hierarki centurion.[9]
Istilah princeps juga dapat digunakan untuk komandan sementara suatu detasemen atau vexillatio, serta dalam gelar seperti princeps peregrinorum, princeps praetorii, dan decurio princeps. Penggunaannya tidak selalu menunjukkan satu pangkat yang seragam; maknanya bergantung pada unit, masa, dan konteks prasasti militer yang bersangkutan.[9]
Dalam administrasi sipil dan militer, princeps officii merupakan pejabat yang mengepalai sebuah officium, yakni staf administratif seorang pejabat tinggi, gubernur, atau komandan. Sebutan tersebut kadang-kadang disingkat menjadi princeps saja.[9]
Warisan istilah
Kata Latin princeps menjadi asal sejumlah kata dalam bahasa-bahasa Eropa. Kata Inggris prince, Prancis prince, Italia principe, dan Spanyol serta Portugis príncipe berasal dari istilah Latin tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, kata-kata itu digunakan sebagai gelar bagi penguasa suatu kepangeranan maupun anggota keluarga kerajaan.[10]
Kata principatus juga menjadi sumber istilah “prinsipat”, sementara kata-kata seperti “prinsipal” dan “prinsip” memiliki akar Latin yang berkaitan dengan gagasan tentang sesuatu yang pertama, utama, atau mendasar.
12Lewis, Charlton T.; Short, Charles (1879). "Princeps". A Latin Dictionary (dalam bahasa Inggris). Oxford: Clarendon Press. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
123Finer, S. E. (1997). The History of Government from the Earliest Times, Volume I: Ancient Monarchies and Empires (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. hlm.528–567. doi:10.1093/oso/9780198206644.003.0013.
12Hekster, Olivier (2022). Caesar Rules: The Emperor in the Changing Roman World (c. 50 BC–AD 565) (dalam bahasa Inggris). Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781009226776.
12Stevenson, Tom (2013). "The Succession Planning of Augustus". Antichthon (dalam bahasa Inggris). 47: 118–139. doi:10.1017/S0066477400000290.
123Speidel, Michael P. (1981). "Princeps as a Title for ad hoc Commanders". Britannia (dalam bahasa Inggris). 12: 7–13. doi:10.2307/526240.
↑"Prince" (dalam bahasa Inggris). Oxford Advanced Learner's Dictionary. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
Bacaan lebih lanjut
Cooley, Alison E. (2009). Res Gestae Divi Augusti: Text, Translation, and Commentary (dalam bahasa Inggris). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN978-0-521-84152-8.
Eck, Werner (2007). The Age of Augustus (dalam bahasa Inggris). Oxford: Blackwell Publishing. ISBN978-1-4051-5149-8.
Goldsworthy, Adrian (2014). Augustus: First Emperor of Rome (dalam bahasa Inggris). New Haven: Yale University Press. ISBN978-0-300-17872-2.
Wallace-Hadrill, Andrew (1982). "Civilis Princeps: Between Citizen and King". The Journal of Roman Studies (dalam bahasa Inggris). Vol.72. hlm.32–48. doi:10.2307/299114.