Penyerbuan Pleret oleh Belanda pada masa Perang Diponegoro (gambar dibuat tahun 1900 oleh G. Kepper)Pemandangan alam di sekitar bekas Pabrik Gula Kedaton Pleret pada masa Hindia Belanda.
Tradisi juga sangat kental di daerah ini, di antaranya yang paling terkenal adalah Rabu Pungkasan. Rabu Pungkasan adalah festival tradisional yang diadakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar(Bulan Jawa). Tradisi ini awalnya diadakan untuk menyambut para tamu KH Faqih, seorang pendiri desa Wonokromo yang terkenal dengan pengobatannya, yang berdatangan untuk berobat. pengobatan itu berupa kungkum(berendam) di pertemuan Kali Opak dan Kali Gajahwong. Makanan khas yang dihidangkan saat Rabu Pungkasan adalah lemper, sehingga sebagai penutupan upacara Rabu Pungkasan tersebut, diarak sebuah lemper raksasa untuk kemudian dibagikan kepada warga.
Sate klatak yang merupakan hidangan yang banyak dihidangkan di sekitar Pleret.
Awal pembentukan Kapanewon ini berasal dari 2 kalurahan di Gondowulung dan ditambah dengan 3 kalurahan dari Kapanewon Kotagede Surakarta / Solo yakni: kalurahan Segoroyoso, Bawuran, Wonolelo.
Tahun 1647, Susuhunan Amangkurat I dari Mataram membangun kraton baru di Plered, dan pindah ke sana dari kraton lama di Karta, yang dibangun Sultan Agung antara tahun 1614 dan 1622. sehingga, Pleret pada saat itu dijadikan Ibu kota Mataram Lama
Batas
Kepanewon Pleret memiliki batas-batas sebagai berikut: