Pinklao (Thai: ปิ่นเกล้าcode: th is deprecated ; 4 September 1808 – 7 Januari 1866) adalah Raja Muda (Wazir)Siam. Ia merupakan adik kandung dari Mongkut (Rama IV), yang menganugerahinya pangkat dan kehormatan kerajaan yang setara dengan kedudukannya sendiri.
Kehidupan awal
Pinklao dilahirkan dengan nama Pangeran Chutamani dari pasangan Pangeran Itsarasunthon dan Putri Bunrot di Phra Racha Wang Derm (Istana Thonburi). Ia adalah adik laki-laki dari Pangeran Mongkut, yang berusia tujuh tahun lebih tua darinya. Pada tahun 1809, ketika Pangeran Itsarasunthon naik takhta sebagai Raja Rama II, ibunya diangkat statusnya menjadi Ratu Sri Suriyendra, dan keluarga mereka pindah ke Istana Utama.
Namun, pemerintahan Rama II sebagian besar didominasi oleh Kromma Meun Chetsadabodin, putra sang raja dari selir Sri Sulalai. Pada tahun 1824, Mongkut memasuki masa kebiaraan sesuai tradisi Thailand. Di tahun yang sama, Rama II jatuh sakit dan mangkat. Kalangan bangsawan, yang dipimpin oleh Chao Phraya Abhay Pudhorn selaku Perdana Menteri dan Prayurawongse selaku Menteri Luar Negeri, mendukung Chetsadabodin untuk naik takhta karena ia dinilai cakap dalam memerintah. Chetsadabodin kemudian dinobatkan sebagai Rama III.
Pangeran Mongkut tetap memilih berada dalam kehidupan biara untuk menghindari intrik politik. Di sisi lain, Pangeran Chutamani masuk ke dalam jajaran pemerintahan di bawah Nangklao (Rama III) dan dianugerahi gelar "Kromma Khun Isaret-rangsant". Kromma Khun Isaret kemudian pindah ke Istana Thonburi dan tinggal bersama ibunya, Ratu Sri Suriyendra, hingga sang ibu wafat pada tahun 1836.
Sama seperti kakak laki-lakinya, pangeran muda ini memiliki ketertarikan yang baik terhadap orang asing. Pada tahun 1833 saat berusia 25 tahun dan dikenal oleh diplomat Amerika Edmund Roberts dengan nama Chow-Phoi-Noi atau Mom-fa-Noi, sang pangeran secara diam-diam mengunjungi rumah misi diplomatik selama negosiasi Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan Siam–Amerika, perjanjian pertama Amerika Serikat dengan Thailand. Sang pangeran merasa senang dan puas dengan kunjungan malam hari ke kapal perang USS Peacock, di mana para awak kapal berkumpul di pos-pos mereka untuk melakukan latihan angkatan laut. Roberts menyatakan bahwa sang pangeran dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris dengan sangat lancar, serta memiliki pelafalan yang benar.[2][3]
Pemerintahan bersama Mongkut
Patung Phra Pinklao, Raja Muda dari Raja Mongkut, di dekat Teater Nasional
Nangklao mangkat pada tahun 1851. Kromma Khun Isaret pada saat itu merupakan putra mahkota yang diduga (heir presumptive) untuk takhta Siam, tetapi kembalinya sang kakak, Pangeran Mongkut, memiliki klaim dukungan yang lebih kuat. Mongkut kemudian dinobatkan pada 25 Mei 1851 dengan dukungan dari kaum bangsawan. Secara bersamaan, Pangeran Isaret dinobatkan sebagai Uparaja Pinklao dengan kehormatan yang setara dengan Mongkut. Dalam praktiknya, Pinklao memegang posisi sebagai Penguasa Istana Depan. Berdasarkan cerita rakyat yang populer, perhitungan astrologi Mongkut sendiri menyatakan bahwa adiknya, Pangeran Isaret, juga memiliki "garis nasib untuk menjadi seorang raja". Sebagai hasilnya, ia menganugerahi Pinklao gaya dan gelar kedudukan yang biasanya dikhususkan untuk seorang Raja seperti Phrabat Somdet dan Chao Yu Hua: Phrabat Somdet Phra Pinklao Chao Yu Hua. David Wyatt menganggap penunjukan ini sebagai cara Mongkut untuk mencegah Pinklao menantang posisinya sendiri.[4] Walau demikian, hubungan antara kedua bersaudara tersebut tetap berjalan damai dan baik sepanjang masa pemerintahan Mongkut.
Kendati begitu, jalannya roda pemerintahan di bawah Mongkut berada di bawah kendali kuat Prayurawongse dan Pichaiyat, di mana Prayurawongse bertindak selaku Kepala Menteri Siam. Oleh sebab itu, campur tangan dari Raja Utama maupun Wakil Raja terbilang minimal. Dalam memperluas keterkaitannya pada urusan luar negeri, Pinklao yang dikenal fasih berbahasa Inggris mampu merespons langsung surat-surat dari John Bowring. Dalam surat-surat tersebut, ia menyebut dirinya sebagai the Second king (Raja Kedua) dan kakaknya sebagai the First king (Raja Pertama). Melalui peran tersebut, Pinklao memainkan andil besar dalam negosiasi Perjanjian Bowring pada tahun 1855, serta negosiasi lanjutan untuk Perjanjian Harris 1856 yang memperbarui Perjanjian Roberts tahun 1833.
Sebagai monarki kedua dan penguasa Istana Depan, Pinklao mengelola pasukan pribadinya sendiri, serta armada angkatan laut yang terdiri dari beberapa kapal modern. Pada masa inilah kekuasaan Istana Depan berkembang dengan sangat pesat. Di luar urusan kenegaraan, Pinklao sangat tertarik pada kebudayaan Barat dan kebudayaan Laos; ia pandai berbicara bahasa Inggris, melatih pasukannya dengan gaya Eropa, suka menyanyi, menari, serta mahir memainkan alat musik khene untuk mengiringi musik mor lam.
Pinklao wafat pada tanggal 7 January 1866, mendahului kakaknya dua tahun lebih awal. Keponakannya yang berusia 15 tahun, Chulalongkorn (putra Mongkut), naik takhta pada tahun 1868, dan Wali Raja Somdet Chaophraya Sri Suriwongse mengatur agar gelar penguasa Istana Depan diteruskan oleh putra Pinklao bersama Putri Aim, yaitu Pangeran Yingyot, yang kelak bergelar Wichaichan.