PersofiliaLukisan Cyrus Agung, pendiri Kekaisaran Akhemeniyah dan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah Persia.
Persofilia (Persia: پارسی دوستیcode: fa is deprecated , pârsi dusti) adalah perasaan atau ungkapan ketertarikan, penghormatan, dan apresiasi terhadap orang Persia oleh seseorang yang bukan Persia. Secara lebih khusus, seorang persofil adalah seseorang yang memiliki kecenderungan atau simpati yang sangat positif terhadap Persia dan bangsa Persia, dengan kekaguman terhadap bahasa dan sastra, budaya (seni, musik, kuliner, dan lain-lain), sejarah, atau pemerintahannya. Penggunaan paling awal kata tersebut mungkin dilakukan oleh Asosiasi Numismatik Kerajaan di Britania Raya pada tahun 1838,[1] yang merujuk pada kebijakan pro-Persia seorang raja Siprus dari Marion. Sentimen yang berlawanan dikenal sebagai Persofobia.[2]
Asal-usul
Iran kuno
Kekaguman asing terhadap masyarakat Persia sangat menonjol selama dan setelah masa pemerintahan Cyrus Agung, yang mendirikan Kekaisaran Akhemeniyah sekitar tahun 550 SM. Ia sangat dihormati dalam Yudaisme karena perannya dalam mengakhiri penawanan Babilonia dan memungkinkan kembalinya bangsa Yahudi ke Zion, karena Maklumat Cyrus memberikan izin kepada bangsa Yahudi untuk kembali ke Tanah Israel dan membangun kembali Bait Suci di Yerusalem setelah jatuhnya Babilonia, yang sekaligus menandai dimulainya periode Bait Suci Kedua. Cyrus merupakan satu-satunya non-Yahudi yang dihormati sebagai Mesias (מָשִׁיחַ) dalam Alkitab Ibrani, sebagaimana dicatat dalam Yesaya 45:1, yang menyatakan bahwa ia diurapi oleh Yahweh.[3]
Banyak pemimpin Yunani kuno yang menggunakan gelar atau nama Persia selama era Akhemeniyah dianggap sebagai persofil.[4]Aleksander Agung, yang hidup dua abad setelah Cyrus, merupakan pengagum berat gaya pemerintahan Cyrus dan adat-istiadat Persia secara umum, dan ia menerapkan model yang sama bagi Kekaisaran Makedonianya, sambil berupaya memadukan budaya Yunani dengan budaya Persia untuk menyatukan kedua peradaban tersebut. Demikian pula, satrap Makedonia Peucestas memperoleh dukungan dari rakyatnya di Persis karena kecenderungan persofilnya.[5] Di Fenisia, beberapa raja Sidon, terutama mereka yang menerapkan kebijakan yang memberikan hak-hak khusus kepada orang Persia, juga dapat disebut sebagai persofil.[6]
Harun al-Rashid dan Al-Ma'mun, dua orang Arab yang memerintah Kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-8 dan ke-9, digambarkan oleh akademikus Britania Percy Sykes sebagai persofil karena kebijakan-kebijakan pro-Persia mereka.[8] Persia kemudian menjadi bagian dari warisan artistik, budaya, dan sastra di seluruh dunia Islam. Istilah Persianate merujuk pada lingkup budaya Persia yang lebih luas ini, termasuk cabang Turko-Persia dan Indo-Persia di dalamnya.
Bahasa Persia, bersama aspek-aspek lain dari masyarakat Persia, menikmati status khusus di anak benua India, terutama di kalangan Muslim setempat. Persofilia dianggap mencapai puncaknya pada masa Kekaisaran Mughal, ketika bahasa Persia digunakan dalam konteks budaya dan hukum, serta sangat dihargai oleh pejabat Mughal seperti Abdul Rahim Khan-i-Khanan, meskipun kemudian bahasa tersebut mengalami kemunduran dibandingkan bahasa Inggris yang diberlakukan di seluruh India Britania.[9] Namun demikian, bahasa Persia tetap menjadi pilihan populer untuk puisi Muslim India, berdampingan dengan bahasa Urdu.
Fenomena persofilia telah dikaji oleh sejumlah akademikus Persia, seperti Hamid Dabashi, yang menerbitkan Persophilia: Persian Culture on the Global Scene pada tahun 2015.[10]
Referensi
↑Wertheimer, Londres (1838). The Numismatic Chronicle. Royal Numismatic Society.
Online Version
↑Max Cary, Percy Gardner, Society for the Promotion of Hellenic Studies (London, England), JSTOR (Organization), Ernest Arthur Gardner (1984). Journal of Hellenic Studies. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)Online Version