Perjanjian Luyo adalah sebuah perjanjian damai dan kerja sama antara Persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga yang berlangsung pada abad ke-16 M.[1] Perjanjian Luyo diprakarsai oleh Tomampu dari pihak Persekutuan Pitu Ulunna Salu, dan Tomepayung dari pihak Persekutuan Pitu Baqbana Binanga.[1] Isi Perjanjian Luyo terdiri dari tiga pernyataan yang membahas tentang persaudaraan, penghormatan terhadap adat masing-masing kerajaan, dan saling dukung dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan.[2] Dua batu yang berisi Perjanjian Luyo dijadikan sebagai cagar budaya dari Kabupaten Polewali Mandar dengan nama Allamungan Batu di Luyo.[3][4]
Pemrakarsa
Perjanjian Luyo diprakarsai oleh pertemuan antara perwakilan dari Persekutuan Pitu Ulunna Salu dengan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga pada abad ke-16 M. Persekutuan Pitu Ulunna Salu diwakili oleh Tomampu dari Kerajaan Rantebulahan, sedangkan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga diwakili oleh Tomepayung dari Kerajaan Balanipa. Pertemuan berlangsung di Luyo dan dihadiri oleh semua anggota dari kedua persekutuan tersebut. Dari pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan yang dinamai Allamungan Batu di Luyo atau Perjanjian Luyo.[1]
Tujuan
Perjanjian Luyo diadakan untuk mengakhiri peperangan antara Persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga yang berlangsung pada abad ke-16 M. Peperangan tersebut terjadi akibat perbedaan pandangan hukum yang berlaku pada masing-masing persekutuan tersebut dalam menangani kasus pelarian perang dari pasukan Kerajaan Passokkorang yang telah runtuh oleh Kerajaan Balanipa.[1] Kerajaan Balanipa merupakan salah satu anggota Persekutuan Pitu Baqbana Binanga. Persekutuan Pitu Ulunna Salu menerapkan pembiaran hidup dan melindungi pasukan pelarian, sedangkan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga menerapkan hukuman mati atas pasukan pelarian tersebut. Dalam menerapkan hukum masing-masing terjadilah pertempuran antara Persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga yang penyebabnya adalah sikap yang berbeda dalam menangani pelarian dari Kerajaan Passokkorang.[5]
Isi perjanjian dan penerapan
Isi Perjanjian Luyo terdiri dari tiga pernyataan. Pernyataan pertama bahwa kerajaan-kerajaan dalam Persekutuan Pitu Ulunna Salu maupun Persekutuan Pitu Baqbana Binanga.menjalin persaudaraan sehingga tidak boleh saling menyerang maupun menaklukkan. Pernyataan kedua bahwa sistem hukum adat pada masing-masing kerajaan harus dihargai dan tidak boleh dicampuri oleh kerajaan lain. Pernyataan ketiga bahwa Persekutuan Pitu Ulunna Salu menghadapi musuh dari pegunungan sedangkan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga menghadapi musuh dari laut atau pantai sebagai usaha saling mendukung dalam mempertahankan kedaulatan.[2]
Perjanjian Luyo diresmikan oleh pihak Persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga pada dua batu perjanjian yang disebut Allamungan Batu di Luyo. Masing-masing batu mewakili masing-masing persekutuan. Peresmiannya berlangsung selama 7 hari dan 7 malam dengan penulisan naskah Lontara yang menyebutkan isi perjanjiannya. Lokasi pertemuan yang menghasilkan Perjanjian Luyo telah dijadikan cagar budaya dengan nama Allamungan Batu di Luyo.[4] Secara administratif, Allamungan Batu di Luyo masuk dalam wilayah Dusun Luyo, Desa Luyo, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar.[3]