Tekanan finansial
Dalam beberapa dekade terakhir, penerbit universitas menghadapi tekanan finansial yang semakin besar. Hanya sejumlah kecil penerbit, seperti Oxford University Press, Harvard University Press, Princeton University Press, dan Yale University Press, yang memiliki dana abadi (endowment) dalam jumlah besar. Sebagian besar penerbit universitas lainnya bergantung pada penjualan buku, penggalangan dana, dan subsidi dari institusi induknya. Besaran subsidi tersebut bervariasi, umumnya berkisar antara 150.000 hingga 500.000 dolar Amerika Serikat per tahun.[7]
Model operasional penerbit universitas juga beragam. Universitas induk biasanya menanggung biaya tetap, seperti tenaga kerja dan aset fisik, sementara penerbit diharapkan menutup biaya operasional variabel melalui penjualan buku dan sumber pendapatan lainnya. Namun, penjualan buku akademik terus mengalami penurunan, terutama karena perpustakaan universitas mengurangi pembelian koleksi baru. Penurunan penjualan monograf akademik tercermin dari data Princeton University Press. Pada dekade 1960-an, sebuah monograf hardcover rata-rata terjual sebanyak 1.660 eksemplar dalam lima tahun setelah diterbitkan. Pada tahun 1984, jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 1.003 eksemplar, dan setelah tahun 2000 rata-rata penjualan monograf akademik pada berbagai penerbit universitas berada di bawah 500 eksemplar.[8] Perpustakaan universitas juga menghadapi tekanan anggaran akibat tingginya biaya langganan jurnal ilmiah komersial, khususnya di bidang sains. Meskipun anggaran perpustakaan relatif stagnan, harga jurnal ilmiah meningkat secara signifikan sejak dekade 1970-an.[9]
Pada Mei 2012, University of Missouri Press diumumkan akan ditutup oleh University of Missouri System dengan alasan efisiensi dan penyesuaian terhadap prioritas strategis universitas. Keputusan tersebut memicu penolakan dari kalangan akademisi dan pendukung penerbitan ilmiah di berbagai wilayah Amerika Serikat. Beberapa bulan kemudian, universitas membatalkan keputusan tersebut dan penerbit tetap beroperasi.[7]
Pada tahun 2014, direktur eksekutif Association of University Presses, Peter Berkery, menyatakan bahwa penerbit universitas menghadapi tekanan baru yang bersifat mendasar, terutama akibat perubahan dalam dunia akademik dan perkembangan teknologi digital. Menurutnya, penerbit kecil memiliki sumber daya yang lebih terbatas dalam menghadapi perubahan tersebut dibandingkan perusahaan penerbitan komersial besar.[7]
Penerbit universitas baru
Sejak akhir dekade 2010-an, sejumlah universitas mulai mengembangkan inisiatif penerbitan akademik baru, sering kali berada di bawah pengelolaan perpustakaan universitas. Inisiatif ini bertujuan mendukung penciptaan, penyebaran, dan pelestarian karya ilmiah, kreatif, dan pendidikan dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam lanskap penerbitan akademik digital..[10]
Inisiatif tersebut kemudian dikenal sebagai “penerbit universitas baru” (new university presses).[11][12] Menurut definisi dari OAPEN Foundation, istilah ini merujuk pada penerbit universitas yang didirikan sejak dekade 1990-an dan sering kali berfokus pada penerbitan buku akses terbuka (open access). Meskipun demikian, dalam banyak aspek operasionalnya, penerbit tersebut tetap menjalankan fungsi yang serupa dengan penerbit universitas tradisional. Banyak di antaranya dipimpin oleh perpustakaan universitas dengan dukungan dewan akademik atau dewan editorial.[13]
Contoh penerbit universitas baru meliputi ANU Press di Australia, Amherst College Press di Amerika Serikat, University of Michigan Press di Amerika Serikat, UCL Press di Britania Raya, dan University of Huddersfield Press di Britania Raya.[14]