Kondisi kemanusiaan dan kejahatan perang
Situasi hak asasi manusia di Myanmar telah memburuk secara signifikan sejak awal konflik sipil. Militer Burma telah meningkatkan penggunaan kejahatan perang, termasuk pembunuhan, kekerasan seksual, penyiksaan, dan penargetan warga sipil. Junta juga menyita properti lawan politik sebagai bagian dari strategi intimidasi, yang berdampak pada ratusan keluarga.
Sejak awal konflik sipil, baik militer Burma maupun kekuatan perlawanan telah menggunakan fasilitas pendidikan sebagai basis dan tempat penahanan. Pada tahun 2021, lebih dari 190 serangan kekerasan terhadap sekolah dilaporkan terjadi di 13 negara bagian dan wilayah Myanmar. Pada Juni 2022, 7,8 juta anak masih putus sekolah.
Sistem kesehatan masyarakat Myanmar telah runtuh, dan perang saudara telah memperburuk krisis ketahanan pangan di negara tersebut, dengan satu dari empat orang mengalami kerawanan pangan. Kemiskinan dan kerawanan pangan telah berdampak besar pada Zona Kering di Myanmar dan wilayah delta Irrawaddy, yang mencakup lebih dari 80% wilayah pertanian di negara tersebut dan merupakan rumah bagi sepertiga populasi negara tersebut.
Pada September 2022, 1,3 juta orang menjadi pengungsi internal, dan lebih dari 13.000 anak-anak terbunuh. Pada bulan Maret 2023, PBB memperkirakan bahwa sejak kudeta, 17,6 juta orang di Myanmar membutuhkan bantuan kemanusiaan, sementara 1,6 juta orang menjadi pengungsi internal, dan 55.000 bangunan sipil telah hancur.
Pada bulan Maret 2023, Volker Türk, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, melaporkan bahwa konflik bersenjata terus meningkat. Dia menyatakan bahwa mereka sedang menyelidiki ratusan insiden pembakaran rumah dan pembunuhan warga sipil, termasuk anak-anak. Secara keseluruhan, 15,2 juta orang menghadapi kerawanan pangan.