Peran kaum wanita dalam Perang Salib sering dideskripsikan hanya dalam ranah rumah tangga atau kegiatan yang dipandang tercela selama Perang Salib. Meskipun anggapan ini tidak sepenuhnya keliru, beberapa wanita turut mengambil bagian dalam bidang lain, termasuk pertempuran di medan perang Tanah Suci. Sementara beberapa wanita tetap tinggal di wilayah asal mereka untuk bertindak sebagai wali penguasa selama Perang Salib, banyak wanita lain ikut dalam ekspedisi dan pertempuran.[1] Sejumlah wanita bangsawan bahkan ikut turun ke medan perang; pendidikan yang mereka terima agaknya mempersiapkan mereka untuk hal semacam ini, bahkan sampai mencakup latihan berkuda untuk menghadapi kemungkinan bertempur.[2]
Wanita dari kalangan rakyat jelata juga hadir sepanjang Perang Salib, melakukan tugas-tugas seperti membersihkan kutu dari kepala prajurit dan/atau mencuci pakaian. Bahkan, pencuci pakaian adalah satu-satunya peran wanita yang disetujui oleh Gereja Katolik dan diizinkan selama Perang Salib Pertama, dengan syarat mereka tidak terlihat menarik secara fisik karena dikhawatirkan pasukan akan berhubungan seksual dengan mereka. Namun, ketentuan ini kerap tidak dipatuhi, dan wanita dari berbagai kalangan ikut serta dalam Perang Salib.[1] Setiap kali pasukan bergerak, beberapa wanita akan bergabung dengan mereka sebagai pedagang perbekalan pengikut pasukan, pelayan, maupun pelacur. Peran mereka jarang disebut ketika kemenangan diraih, mereka disalahkan atas kekalahan dan disingkirkan dari ekspedisi militer beberapa kali selama Perang Salib, karena hubungan seksual dengan mereka dianggap berdosa di antara para prajurit yang telah meninggalkan tanah air mereka untuk memperjuangkan tujuan suci dan seharusnya menjaga kemurnian pikiran dan perbuatan. Banyak biarawati juga menemani para rohaniwan, terutama imam dan uskup, yang melakukan perjalanan sebagai bagian dari ekspedisi, sementara wanita lain mengangkat senjata bertempur melawan pasukan Muslim.
Keterlibatan wanita lebih jarang dicatat dalam sumber-sumber sejarah, karena sumber-sumber itu lebih banyak berpusat pada pria. Penyebutan wanita dalam Tentara Salib lebih sering ditemukan dalam catatan para penulis Muslim tentang Perang Salib, sebab agresivitas wanita Kristen kerap dipakai oleh penulis Muslim untuk menggambarkan betapa bengis dan bejatnya pihak musuh.[3] Selama Perang Salib selanjutnya, banyak kisah wanita yang masih bertahan justru berasal dari wilayah Timur Tengah, termasuk kisah seorang wanita Muslim yang melawan Tentara Salib.[4]
Kisah wanita dalam Perang Salib dimulai dengan Anna Komnene, putri Kaisar Bizantium Aleksius I Komnenus. Ia menulis sejarah Perang Salib Pertama dalam Aleksias,[5] memberikan pandangan tentang ekspedisi tersebut dari perspektif Bizantium. Ia diasingkan ke sebuah biara sebelum karyanya dapat diselesaikan.[6]
Maka sesudah berunding kembali, orang Franka mengusir para wanita dari tentara, baik yang bersuami maupun yang belum menikah, supaya jangan wanita yang tercemar oleh kehidupan liar dan penuh kemaksiatan itu mendatangkan murka Tuhan. Para wanita ini kemudian mencari perlindungan di kota-kota tetangga.
Fulcher mencatat bahwa gelombang histeria massa menyertai perjalanan suci Perang Salib. Hal ini tampak dalam keyakinan bahwa bahkan seekor angsa biasa yang dituntun oleh seorang biarawati telah diberkati oleh Roh Kudus dan akan menuntun mereka ke Yerusalem.
↑Geary, Patrick J., ed. (2003). The First Crusade, Fulcher of Chartres, Readings in Medieval History, 3rd Edition. Ontario: Broadview Press. hlm. 407–417.
Daftar pustaka
Bennett, Matthew. "Military Masculinity in England and Northern France c. 1050–c. 1225." dalam Masculinity in Medieval Europe (Routledge, 2015) hlm. 81–98.
Bom, M. Women in the Military Orders of the Crusades (Springer, 2012).
Caspi-Reisfeld, Keren. "Women Warriors during the Crusades." dalam Gendering the Crusades (2002): 94+.
Hodgson, Natasha (2006). "Women and the Crusades" dalam Alan V. Murray The Crusades—An Encyclopedia, ABC-CLIO, Santa Barbara, 2006, hlm. 1285–1291.
McLaughlin, Megan. "The Woman Warrior: Gender, Warfare and Society in Medieval Europe" Women's Studies – An Interdisciplinary Journal, 17 (1990), 193–209.
Maier, Christoph T. "The Roles of Women in the Crusade Movement: A Survey." Journal of Medieval History 30.1 (2004): 61–82 daring.
Mazeika, Rasa. " 'Nowhere was the Fragility of Their Sex Apparent': Women Warriors in the Baltic Crusade Chronicles", dalam From Clermont to Jerusalem: The Crusades and Crusader Societies, 1095–1500, ed. Alan V. Murray (Turnhout, 1998), hlm. 229–248
Nicholson, Helen J. (2016). "La Damoisele del chastel": Women's Role in the Defence and Functioning of Castles in Medieval Writing from the Twelfth to the Fourteenth Centuries, dalam Crusader Landscapes in the Medieval Levant, University of Wales Press, hlm. 387–402.
Nicholson, Helen J. "Women and the Crusades." Hereford Historical Association (2008): 24+ daring
Nicholson, Helen J. "Women on the Third Crusade", Journal of Medieval History, 23 (1997), 335–349 daring
Stock, Lorraine Kochanske. "'Arms and the (Wo) Man' in Medieval Romance: The Gendered Arming of Female Warriors in the 'Roman d'Eneas' and Heldris's 'Roman de Silence'". Arthuriana (1995): 56–83 daring.