Perairan Laut Dangkal juga disebut sebagai Zona Neritik atau area di atas Paparan Benua atau Paparan Kontinen adalah area perairan laut yang dekat dengan pantai dan memiliki kedalaman yang agak rendah. Kedalaman perairan laut dangkal biasanya kurang dari 200 meter. Kawasan ini unik karena cahaya matahari masih dapat masuk ke dasar perairan karena berada di Zona Fotik atau Epipelagik, yang memungkinkan fotosintesis intensif. Perairan laut dangkal menjadi ekosistem yang sangat produktif dan kaya keanekaragaman hayati karena kondisi ini. Ini adalah habitat penting bagi terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, dan tempat penting untuk penangkapan ikan. Laut Jawa dan Laut Arafuru, yang berada di atas Paparan Sunda dan Paparan Sahul, adalah beberapa contoh perairan laut dangkal yang terkenal di Indonesia.[1][2]
Semua karakteristik wilayah yang dipengaruhi oleh proses pesisir, seperti bukit pasir, tebing, dan wilayah dataran rendah, disebut sebagai wilayah pesisir. Cakupan daratan dalam situasi praktis bergantung pada skala waktu yang dipertimbangkan. Sejauh pasang surut dan gelombang badai memengaruhi pantai, pantai meluas ke daratan, menurut seorang ahli pesisir yang sebagian besar memperhatikan rentang waktu tahunan. Menurut ahli geologi, definisi ini relatif sempit, meskipun batas perambatan pasang surut ke daratan dapat mencapai ratusan kilometer di area muara besar. Orang banyak memanfaatkan pantai untuk berbagai alasan, seperti perikanan, rekreasi, transportasi barang, pengolahan air, dan perumahan. Bahkan deposit laut dan sungai yang sangat subur telah membantu pertanian. Penting untuk proses pengembangan dan perlindungan wilayah pesisir secara berkelanjutan karena kepadatan penduduk yang tinggi dan luasnya pembangunan infrastruktur dan properti di wilayah pesisir.[3]
Perairan laut dangkal memiliki peran strategis bagi ekosistem pesisir dan kehidupan manusia. Di kawasan seperti Pulau Karimunjawa, laut dangkal tidak hanya menjadi habitat beragam ekosistem dasar perairan seperti pasir, lamun, dan terumbu karang, tetapi juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari konservasi, budidaya perikanan, hingga jalur pelayaran nelayan lokal. Pemanfaatan ini menuntut adanya pemahaman spasial mengenai kedalaman perairan agar kegiatan ekonomi dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga kelestarian alam. Namun, survei lapangan tradisional untuk mengukur kedalaman perairan sering kali terkendala biaya, waktu, dan keterbatasan akses, khususnya di area perairan dangkal yang sulit dijangkau kapal survei. Oleh karena itu, teknologi penginderaan jauh menjadi alternatif yang lebih efisien untuk mengamati perubahan dan memetakan kondisi perairan dangkal secara berkelanjutan. Penelitian di Pulau Karimunjawa menunjukkan bahwa citra satelit Sentinel-2B mampu digunakan untuk pemetaan batimetri perairan dangkal dengan tingkat akurasi tinggi. Melalui metode band ratio Stumpf, diperoleh persamaan regresi dengan nilai determinasi (R²) sebesar 0,94 dan Root Mean Square Error (RMSE) 2,31, terutama dengan kombinasi band biru-hijau. Hasil ini menggambarkan bahwa area penelitian didominasi oleh perairan dengan kedalaman 0–20 meter di bawah MSL, di mana kedalaman 0–4 meter memanjang di sepanjang garis pantai, sedangkan kedalaman lebih dalam (10–20 meter) cenderung berada di bagian barat Pulau Karimunjawa. Temuan ini membuktikan bahwa pemanfaatan citra satelit bukan hanya relevan untuk penelitian akademis, tetapi juga krusial sebagai dasar perencanaan tata kelola wilayah pesisir dan perairan dangkal yang berkelanjutan.[4]