Pengusiran orang Yahudi dari Spanyol adalah peristiwa pembersihan etnis dan agama yang terjadi pada tahun 1492, ketika penguasa Monarki Katolik, Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Kastilia, mengeluarkan Dekret Alhambra (Edicto de Granada). Dekret yang ditandatangani pada 31 Maret 1492 ini memerintahkan seluruh umat Yahudi di wilayah Kerajaan Kastilia adn Aragon untuk berpindah agama ke Katolik atau meninggalkan negara tersebut dalam waktu empat bulan.
Peristiwa ini menandai berakhirnya era Convivencia (koeksistensi damai antarumat beragama di Semenanjung Iberia) dan memicu gelombang pengungsian massal kaum Yahudi Spanyol, yang kemudian dikenal sebagai kelompok Sefardim, ke berbagai penjuru Laut Tengah, Eropa, dan Afrika Utara.
Latar Belakang Istilah dan Etimologi
Kata Sefardim berasal dari kata Sefarad (bahasa Ibrani: סְפָרַד), sebuah lokasi geografis yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama (Kitab Obaja 1:20) yang sejak abad pertengahan diidentifikasikan oleh komunitas Yahudi sebagai Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Oleh karena itu, keturunan Yahudi yang berasal dari wilayah ini disebut sebagai Yahudi Sefardim.
Selama berabad-abad di bawah pemerintahan Muslim Al-Andalus, komunitas Yahudi mengalami masa keemasan (Golden Age of Jewish Culture in Spain). Mereka hidup berdampingan secara relatif damai dengan umat Islam dan Kristen dalam sistem yang dikenal sebagai Convivencia. Banyak tokoh Yahudi memegang posisi penting sebagai tabib kekaisaran, bendahara, dan penasihat diplomatik.
Namun, seiring meluasnya kampanye militer Reconquista—upaya kerajaan-kerajaan Kristen utara untuk merebut kembali semenanjung dari kekuasaan Muslim—toleransi beragama mulai memudar. Sentimen anti-Yahudi meningkat drastis pada abad ke-14, yang memuncak pada Kerusuhan 1391. Dalam peristiwa tersebut, ribuan orang Yahudi tewas, dan sekitar 200.000 orang terpaksa dibaptis menjadi Kristen demi keselamatan mereka. Kelompok yang berpindah agama ini dikenal dengan istilah Conversos atau Kristen Baru (Cristianos Nuevos).
Pendirian Inkuisisi Spanyol
Keberadaan kelompok Conversos memicu kecurigaan baru di kalangan mayoritas Kristen Lama (Cristianos Viejos). Muncul tuduhan bahwa banyak dari mereka yang secara rahasia masih mempraktikkan agama Yahudi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai Crypto-Judaism (Kripto-Yudaisme).
Untuk mengatasi masalah ini, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mendirikan Inkuisisi Spanyol pada tahun 1478 dengan persetujuan Paus Siktus IV. Di bawah kepemimpinan Inkuisitor Jenderal pertama, Tomás de Torquemada, lembaga ini bertugas memburu dan menghukum para pengkhianat iman di kalangan Conversos. Torquemada kemudian berargumen kepada takhta suci bahwa perilaku "murtad" di kalangan Kristen Baru tidak akan bisa dihentikan selama komunitas Yahudi yang taat masih diizinkan berinteraksi dengan mereka di Spanyol.
Dekret Alhambra
Pada 2 Januari 1492, benteng Muslim terakhir di Iberia, Emirat Granada, jatuh ke tangan tentara Kristen. Keberhasilan ini menyelesaikan misi Reconquista dan memperkuat ambisi politik-keagamaan Monarki Katolik untuk menyatukan seluruh Spanyol di bawah satu identitas tunggal: iman Katolik Roma.
Tiga bulan setelah jatuhnya Granada, pada 31 Maret 1492, Dekret Alhambra resmi dikeluarkan. Isi utama dekret tersebut mencakup:
Seluruh orang Yahudi tanpa memandang usia atau status sosial diperintahkan untuk meninggalkan wilayah Spanyol sebelum tanggal 31 Juli 1492.
Mereka yang menolak pergi atau kedapatan kembali ke Spanyol setelah tenggat waktu akan dijatuhi hukuman mati tanpa pengadilan.
Mereka diizinkan menjual harta benda, tetapi dilarang keras membawa emas, perak, mata uang logam, atau barang-barang selundupan yang dilarang oleh hukum kerajaan ke luar negeri.
Aset finansial mereka terpaksa dialihkan dalam bentuk surat utang atau komoditas dagang, yang dalam praktiknya membuat mayoritas pengungsi kehilangan sebagian besar kekayaan mereka akibat harga pasar yang jatuh secara paksa.
Diaspora Sefardim
Estimasi jumlah orang Yahudi yang meninggalkan Spanyol bervariasi di kalangan sejarawan modern, berkisar antara 40.000 hingga lebih dari 100.000 jiwa, sementara sisanya memilih untuk dibaptis agar dapat menetap.
Para pengungsi menyebar ke beberapa wilayah utama dunia:
Kerajaan Portugal: Sekitar separuh dari total pengungsi melarikan diri ke Portugal. Namun, pada tahun 1497, Raja Manuel I dari Portugal mengeluarkan dekret serupa akibat tekanan politik dari Spanyol sebagai syarat pernikahan dengan putri Ferdinand dan Isabella.
Kekaisaran Ottoman:Sultan Bayezid II menyambut migrasi ini secara terbuka. Beliau mengirim armada Angkatan Laut Ottoman di bawah komando Kemal Reis untuk mengevakuasi para pengungsi dengan aman. Kaum Sefardim menetap di kota-kota besar seperti Salonika (Thessaloniki) dan Konstantinopel (Istanbul), membawa teknologi mesin cetak barat dan keahlian manufaktur senjata bagi dinasti tersebut.
Afrika Utara: Sebagian besar menetap di Maroko dan Aljazair, berintegrasi dengan komunitas Yahudi lokal (Toshavim).
Eropa Utara dan Barat: Beberapa kelompok menuju ke Belanda (terutama Amsterdam), di mana mereka nantinya memainkan peran besar dalam Zaman Keemasan Belanda.
Dampak Jangka Panjang
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Spanyol
Secara ekonomi, pengusiran ini menimbulkan guncangan bagi Spanyol karena hilangnya kelas pekerja terdidik, profesional medis, administrator keuangan, dan jaringan dagang internasional. Spanyol kehilangan dominasi merkantilisme domestik, yang posisinya kemudian banyak digantikan oleh pedagang-pedagang asing dari Genoa dan Flemish.
Kelangsungan Budaya Ladino
Di tanah diaspora, kaum Sefardim mempertahankan identitas budaya mereka, termasuk memelihara bahasa Ladino (Yudeo-Spanyol)—sebuah dialek yang berbasis pada bahasa Kastilia abad ke-15 dengan serapan bahasa Ibrani, Turki, dan Arab. Bahasa ini tetap digunakan secara aktif di wilayah Balkan dan Levant hingga abad ke-20.
Pembatalan dan Pemulihan Sejarah
Dekret Alhambra secara resmi dicabut oleh pemerintah Spanyol pada 16 Desember 1968 di bawah rezim Francisco Franco, menyusul kebijakan kebebasan beragama yang didorong oleh Konsili Vatikan II.
Pada tahun 1992, bertepatan dengan peringatan 500 tahun pengusiran tersebut, Raja Juan Carlos I mengunjungi sinagoge di Madrid dan menyampaikan permohonan maaf resmi kepada komunitas Yahudi atas kebijakan masa lalu monarki Spanyol.
Pada Juni 2015, Parlemen Spanyol mengesahkan undang-undang yang memberikan hak kewarganegaraan Spanyol otomatis bagi keturunan Yahudi Sefardim di seluruh dunia tanpa mengharuskan mereka melepaskan kewarganegaraan asalnya atau menetap di Spanyol, sebagai langkah reparasi historis atas peristiwa tahun 1492. Program ini resmi ditutup untuk permohonan baru pada tahun 2019 setelah menerima puluhan ribu aplikasi dari berbagai negara.