Ia juga membuat narasi populis terhadap rasisme anti-Arab termasuk membuat narasi konflik dengan orang Yahudi, terutama membuat narasi anti-Palestina.[12] Pemerintahan Netanyahu telah bergeser ke arah politik sayap kanan dan digambarkan sebagai pemerintahan paling sayap kanan dalam sejarah Israel. Ia telah mengsekutukan Israel dengan para pemimpin otoriter dan tidak liberal lainnya dari Hongaria, Rusia, dan AS.[20]
Konflik Israel-Palestina
Netanyahu menentang Perjanjian Oslo. Pada 1993, Ia menentang proses perdamaian Oslo dalam bukunya yang berjudul A Place Among the Nations. Secara keliru,[21] Netanyahu menyebut bahwa Amin al-Husayni, bukan Heinrich Himmler, yang menjadi dalang terhadap Holokaus dan Yasser Arafat adalah pewaris "Nazisme eksterminatif" al-Husayni.[22] Selama masanya sebagai perdana menteri antara 1993 sampai 1996, Netanyahu mengingkari janji yang dicanangkan di Perjanjian Oslo dengan sengaja. Hal ini membuat utusan perdamaian Dennis Ross untuk mencatat bahwa "bahkan Presiden Clinton atau Sekretaris [Luar Negeri Madeline] Albright tidak percaya bahwa Bibi bersungguh sungguh memikirkan perdamaian".[23] Pada 2001, Netanyahu, tidak mengetahui bahwa ia direkam, berkata:
Mereka bertanya kepada saya sebelum pemilihan apakah saya akan menghormati [Perjanjian Oslo] […] Saya mengatakan akan, tetapi… Saya akan menafsirkan perjanjian tersebut sedemikian rupa sehingga memungkinkan saya untuk mengakhiri percepatan menuju perbatasan tahun '67. Bagaimana kami melakukannya? Tidak ada yang mengatakan apa yang dimaksud dengan zona militer yang ditentukan. Zona militer yang ditentukan adalah zona keamanan; sejauh yang saya ketahui, seluruh Lembah Yordania adalah zona militer yang ditentukan. Silakan berdebat.[24]
Pada tahun 2009, dalam rapat kabinet, Netanyahu berjanji untuk tidak mengulangi "kesalahan" penarikan pasukan dari Gaza, menambahkan bahwa "evakuasi sepihak tidak membawa perdamaian maupun keamanan. Justru sebaliknya". Ia mengatakan, "Jika kita mencapai perubahan menuju perdamaian dengan mitra yang lebih moderat, kita akan bersikeras pada pengakuan Negara Israel dan demiliterisasi negara Palestina di masa depan".[25][26] Pada 2014, Netanyahu berkata:
Kita tidak hanya menyerahkan wilayah, menutup mata, dan berharap yang terbaik. Kita melakukan itu di Lebanon dan kita mendapat ribuan roket. Kita melakukan itu di Gaza, kita mendapat Hamas dan 15.000 roket. Jadi kita tidak akan mengulangi hal itu begitu saja. Kita ingin melihat pengakuan yang tulus terhadap negara Yahudi dan pengaturan keamanan yang kokoh di lapangan. Itulah posisi yang saya pegang, dan posisi itu semakin menguat.[27]
Sebelumnya ia mengecam upaya perdamaian yang ditengahi Amerika Serikat sebagai "buang-buang waktu"[28] dan menolak memberikan komitmen untuk menghargai solusi dua negara seperti pemimpin-pemimpin Israel sebelumnya[29] sampai 2009. Ia menyampaikan pernyataan yang menganjurkan pendekatan "perdamaian ekonomi", yang didasarkan pada kerja sama ekonomi dan upaya bersama, alih-alih perselisihan terus-menerus mengenai isu-isu politik dan diplomatik. Hal ini sejalan dengan banyak gagasan penting dari rencana Lembah Perdamaian.[30] Ia mengangkat usulan ini saat perundingan dengan Sekretaris Luar Negeri Condoleezza Rice.[31] Netanyahu berkata:
Saat ini, perundingan perdamaian hanya berfokus pada satu hal, yaitu perundingan perdamaian saja. Tidak masuk akal untuk membicarakan isu yang paling mudah disepakati saat ini. Pilihannya adalah Yerusalem atau tidak sama sekali, atau hak untuk kembali atau tidak sama sekali. Hal itu telah menyebabkan kegagalan dan kemungkinan akan menyebabkan kegagalan lagi... Kita harus menjalin perdamaian ekonomi bersamaan dengan proses politik. Itu berarti kita harus memperkuat bagian-bagian moderat dari perekonomian Palestina dengan memberikan pertumbuhan yang cepat di bidang-bidang tersebut, pertumbuhan ekonomi yang cepat yang memberikan jaminan perdamaian bagi rakyat Palestina biasa."[32]
Pada Januari 2009, Netanyahu memberi tahu utusan Timur Tengah Tony Blair bahwa ia akan melanjutkan kebijakan pemerintah Israel dengan memperluas permukiman di Tepi Barat, yang bertentangan dengan Peta Jalan, tetapi tidak akan membangun permukiman baru.[33]
Hubungan dengan kepala negara lain
Mengabdi sebagai perdana menteri dalam tiga kali kesempatan sejak 1993,[34][35] Netanyahu memiliki beberapa hubungan erat dengan pemimpin dunia lain. Netanyahu memiliki hubungan dekat dengan Daftar perdana menteri HungariaViktor Orbán. Mereka telah kenal lama selama beberapa dekade karena hubungan khusus antara Likud dan Partai Rakyat Eropa (EPP). Orbán secara khusus mengagumi Netanyahu saat masih menjabat sebagai menteri keuangan dan Netanyahu pernah memberikannya saran selama masa jabatan Netanyahu sebagai Menteri Keuangan Israel.[36]
Netanyahu juga dicatat memiliki hubungan baik dengan almarhum mantan Perdana Menteri ItaliaSilvio Berlusconi.[37] Netanyahu pernah memujinya: "Kami beruntung bahwa ada seorang pemimpin seperti dirimu".[38] Netanyahu mendeskripsikan Berlusconi sebagai "salah satu teman terbaik".[37][39]
Perkawinan pertama Netanyahu dengan Dr Miriam Weizmann, di mana pasangan ini memiliki anak perempuan bernama Noa. Perkawinan yang kedua (1981-1984) dengan Fleur Cates, warga Inggris yang dia temui saat mereka berdua tinggal di Boston. Pada tahun 1991, Netanyahu menikah dengan istri ketiganya, Sara Ben-Artzi, psikologi bekerja sebagai pramugari, yang dijumpainya dalam penerbangan El Al dari New York ke Israel. Dia dan Sara memiliki dua putra, Yair dan Avner.[48]
Netanyahu menjadi seorang kakek pada tanggal 1 Oktober2009 ketika putrinya, Noa Netanyahu-Roth (menikah dengan Daniel Roth) melahirkan seorang anak laki-laki, Shmuel.[50][51]
Pada April 2026, Netanyahu mengumumkan bahwa ia telah dirawat karena kanker prostat stadium awal.[52]
Buku dan Artikel
Buku
Selama bertahun-tahun Netanyahu menulis lima buku, tiga di antaranya fokus pada anti-terorisme. Buku-buku yang ditulis meliputi:
Terorisme Internasional: Tantangan dan Respon (Lembaga Jonathon, 1980) (ISBN 0-87855-894-2)
Terorisme: Bagaimana Barat Bisa Menang(Farrar Straus & Giroux, 1986) (ISBN 0-380-70321-1)
↑Ronn, J. Michoel (1990). The Dworskys of Lazdei: The History of a Lithuanian Jewish family from the mid-1700s until the Present. Brooklyn, NY.Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)