Artikel ini membutuhkan perhatian dari ahli di bidang Farmakologi. Alasannya ialah: jenis non-antivirus dalam Templat:Penghambatan enzim.. Jika Anda adalah ahli yang dapat membantu, silakan perbaiki kualitas artikel ini.(Maret 2026)
Penghambat protease adalah obat-obatan yang bekerja dengan mengganggu enzim yang memecah protein. Beberapa yang paling terkenal adalah obat antivirus yang banyak digunakan untuk mengobati HIV/AIDS, hepatitis C, dan Covid-19. Penghambat protease ini mencegah replikasi virus dengan mengikat secara selektif protease virus (misalnya protease HIV-1) dan memblokir pemecahan proteolitik prekursor protein yang diperlukan untuk produksi partikel virus menular.
Penghambat protease yang telah dikembangkan dan saat ini digunakan dalam praktik klinis meliputi:
Mengingat spesifisitas target obat-obatan ini, terdapat risiko (seperti halnya antibiotik) perkembangan virus bermutasi yang resisten terhadap obat. Untuk mengurangi risiko ini, umum digunakan beberapa obat berbeda secara bersamaan yang masing-masing ditujukan pada target yang berbeda.
Penghambat protease antiretroviral bekerja dengan mengikat situs katalitik protease HIV, mencegah pemecahan protein prekursor poliprotein virus menjadi protein virus fungsional yang dibutuhkan untuk replikasi virus. Sebagian besar ARPI adalah molekul mirip peptida yang menyerupai substrat protease virus.[4]
Penghambat protease adalah kelas kedua obat antiretroviral yang dikembangkan. Anggota pertama dari kelas ini yakni sakuinavir, ritonavir, dan indinavir, disetujui pada akhir tahun 1995–1996. Dalam dua tahun, kematian tahunan akibat AIDS di Amerika Serikat turun dari lebih dari 50.000 menjadi sekitar 18.000.[5] Sebelum ini, angka kematian tahunan meningkat sekitar 20% setiap tahunnya.
Jumlah orang di AS yang meninggal karena HIV turun 60% dalam 2 tahun setelah diperkenalkannya penghambat protease HIV pertama.
AbbVie merupakan bagian dari Abbott Laboratories ketika paten tersebut diberikan. Selain sebagai penghambat protease, ritonavir juga menghambat penguraian penghambat protease lainnya. Sifat ini membuatnya sangat berguna dalam kombinasi obat.[6]
Obat antiretroviral keenam belas yang disetujui FDA. Ini merupakan penghambat protease pertama yang disetujui untuk dosis dua kali sehari, bukan setiap delapan jam. Dosis yang praktis ini memiliki konsekuensi, karena dosis yang dibutuhkan adalah 1.200 mg, yang diberikan dalam 8 kapsul gel yang sangat besar. Produksinya dihentikan oleh produsen pada 31 Desember 2004, karena telah digantikan oleh fosamprenavir.
Hanya dipasarkan sebagai kombinasi dosis tetap dengan ritonavir (lihat lopinavir/ritonavir). AbbVie merupakan bagian dari Abbott Laboratories ketika paten diberikan.
Atazanavir adalah PI pertama yang disetujui untuk pemberian dosis sekali sehari. Tampaknya obat ini memiliki kemungkinan lebih kecil menyebabkan lipodistrofi dan peningkatan kolesterol sebagai efek samping. Obat ini mungkin juga tidak resisten silang dengan PI lainnya.
Suatu bakal obat dari amprenavir. Tubuh manusia memetabolisme fosamprenavir untuk membentuk amprenavir, yang merupakan bahan aktifnya. Metabolisme tersebut meningkatkan durasi ketersediaan amprenavir, menjadikan fosamprenavir sebagai versi amprenavir lepas lambat dan dengan demikian mengurangi jumlah pil yang dibutuhkan dibandingkan dengan amprenavir standar.
Pada tahun 2016, darunavir merupakan pilihan pengobatan yang direkomendasikan OARAC untuk orang dewasa dan remaja yang belum pernah menjalani pengobatan dan yang sudah pernah menjalani pengobatan.[7] Beberapa uji klinis fase III yang sedang berlangsung menunjukkan efisiensi tinggi untuk kombinasi darunavir/ritonavir yang lebih unggul daripada kombinasi lopinavir/ritonavir untuk terapi lini pertama.[8] Darunavir adalah obat pertama dalam waktu lama yang tidak mengalami kenaikan harga. Obat ini melampaui dua obat lain yang telah disetujui dari jenisnya, dan harganya setara dengan obat ketiga.[9][10][11]
Aktivitas antivirus non-antiretroviral
Kombinasi obat yang menargetkan SARS-CoV-2 yakni Paxlovid disetujui pada Desember 2021 untuk mengobati COVID-19.[12] Ini merupakan kombinasi nirmatrelvir (penghambat protease yang ditargetkan pada protease mirip 3C SARS-CoV-2) dengan ritonavir yang menghambat metabolisme nirmatrelvir, sehingga memperpanjang efeknya.[13]
↑"Protease Inhibitors (HIV)", LiverTox: Clinical and Research Information on Drug-Induced Liver Injury, Bethesda (MD): National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, 2012, PMID 31644200, diakses tanggal 2024-06-20
↑Madruga JV, Berger D, McMurchie M, et al. (Jul 2007). "Efficacy and safety of darunavir-ritonavir compared with that of lopinavir-ritonavir at 48 weeks in treatment-experienced, HIV-infected patients in TITAN: a randomised controlled phase III trial". Lancet. 370 (9581): 49–58. doi:10.1016/S0140-6736(07)61049-6. PMID 17617272. S2CID 26084893.