Pembaruan ejaan Indonesia-Malaysia tahun 1972 merupakan upaya bersama antara Indonesia dan Malaysia untuk menyelaraskan sistem ejaan yang digunakan dalam bahasa nasional mereka, yang keduanya merupakan bentuk bahasa Melayu . Sebagian besar perubahan yang dilakukan dalam reformasi tersebut masih digunakan hingga saat ini. Sistem ini menggunakan alfabet Latin dan di Malaysia disebut Ejaan Rumi Bersama dan di Indonesia Ejaan yang Disempurnakan. Sistem Ejaan ini menggantikan Ejaan Za'aba yang sebelumnya menjadi standar di Malaysia, Singapura dan Brunei, serta Sistem Ejaan Republik di Indonesia. [1]
Pada sejarahnya, Indonesia dan Malaysia—dua negara berbahasa Melayu terbesar, dalam urutan tersebut—dibagi di antara dua pemerintahan penjajahan, di bawah kemaharajaan Belanda dan Britania. Sehingga, perkembangan sistem ejaan untuk aksara Rumi sangat dipengaruhi oleh ortografi bahasa kolonial masing-masing. Tak lama setelah berakhirnya konfrontasi Indonesia-Malaysia pada tahun 1966, sistem ejaan bersama menjadi salah satu agenda pertama dalam upaya perdamaian antara kedua negara.[1]
Sistem ejaan baru, yang dikenal sebagai 'Ejaan Rumi Baru' di Malaysia dan 'Sistem Ejaan yang Disempurnakan' di Indonesia, secara resmi diumumkan di kedua negara pada 16 Agustus 1972. [1] Walau perwakilan bunyi ucapan sekarang sebagian besar serupa dalam keberagaman bahasa Indonesia dan Malaysia, sejumlah perbedaan ejaan kecil tetap ada.
Latar belakang
Upaya pertama yang diketahui untuk menggunakan aksara Latin atau ' Rumi ' untuk menulis kata-kata Melayu dilakukan oleh Duarte Barbosa pada tahun 1518 di Melaka, tak lama setelah penaklukannya oleh Portugis pada tahun 1511.[2] Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1522, kamus Melayu–Eropa pertama di dunia disusun oleh Antonio Pigafetta, seorang rekan Ferdinand Magellan dari Italia. [3][4] Ini kemudian diikuti oleh banyak pedagang, petualang, penjelajah, dan cendekiawan Eropa lainnya yang menciptakan sistem ejaan Rumi mereka sendiri. Di antara sistem ejaan Rumi yang terkenal yang ada sebelum abad ke-20 adalah ortografi Cornelis de Houtman (1595), [5][6] Davidis Haex (1631), [7] Thomas Bowrey (1701), [8][9] J.Howison (1800), [10]William Marsden (1812), [11][12] Claudius Thomsen (1820), [13]John Crawfurd (1848), [14]Straits Settlements (1878), [15]Frank Swettenham (1881), [16] dan William Edward Maxwell (1882). [17] Semua sistem ini terutama dikembangkan menggunakan metode transliterasi dari Jawi (aksara Melayu yang berasal dari bahasa Arab). Perbedaan berbagai sistem ejaan yang ada di Malaya kolonial menimbulkan kebutuhan akan sistem ejaan yang diterima secara umum. Reformasi ortografi besar-besaran diprakarsai oleh sarjana dan administrator Inggris Richard James Wilkinson pada tahun 1904, yang kemudian melahirkan ejaan Wilkinson, yang menjadi sistem resmi yang banyak digunakan di semua koloni dan protektorat Britania di Malaya, Singapura, dan Kalimantan. [1][18][19] Ejaan Wilkinson sangat mirip dengan ortografi modern yang digunakan di Indonesia dan Malaysia, kecuali bahwa huruf c dan sy modern pada saat itu merupakan ch dan sh .
Pada tahun 1924, reformasi lain dirancang oleh seorang penatabahasa Melayu terkemuka, Za'ba, yang kemudian diadopsi di semua sekolah sejak tahun 1930-an dan seterusnya. Setelah sistem Fajar Asia yang berumur pendek yang digunakan selama pendudukan Jepang (1941–1945), Kongres Melayu Ketiga memperkenalkan sistem Kongres pada tahun 1956. Sistem Kongres yang inovatif memperoleh popularitas luas melalui karya-karya yang diterbitkan tetapi tetap tidak praktis untuk digunakan oleh masyarakat umum. Sementara itu, sekolah dan publikasi pemerintah terus menggunakan sistem Za'aba. Oleh karena itu, masyarakat umum menjadi semakin bingung dengan keberadaan sistem ejaan yang berbeda. Akibatnya, pada era ini umum ditemukan beberapa sistem ejaan yang digunakan secara bersamaan di media cetak dan tulisan individu. [1]
Pada 1959, Federasi Malaya dan Indonesia menandatangani perjanjian budaya, yang mencakup penerapan sistem ejaan bersama. Sistem yang disepakati dalam perjanjian ini dikenal sebagai 'Sistem Malindo'. Namun, karena kemiripannya dengan sistem Kongres, yang terbukti tidak praktis, dan ketegangan diplomatik yang terjadi antara Indonesia dan Malaya terkait pembentukan Malaysia, sistem tersebut tidak pernah diterapkan atau bahkan dipublikasikan. Setelah berakhirnya konfrontasi Indonesia–Malaysia pada tahun 1966, sistem ejaan bersama menjadi salah satu agenda utama dalam upaya perdamaian antara kedua negara. Para ahli bahasa dari kedua negara mulai bekerja untuk merumuskan sistem baru yang praktis dan terutama diterima oleh kedua pihak yang bersangkutan. Enam tahun kemudian, pada tanggal 16 Agustus 1972, sistem ejaan bersama, yang kemudian dikenal sebagai 'Ejaan Rumi Baru' di Malaysia dan ' Sistem Ejaan yang Disempurnakan' di Indonesia, secara resmi diumumkan oleh Perdana MenteriTun Abdul Razak di Malaysia dan PresidenSuharto di Indonesia. [1]
Tidak lama kemudian, negara berbahasa Melayu lainnya, Brunei, memutuskan untuk mengadopsi sistem umum baru untuk menggantikan sistem Za'aba Malaysia yang sebelumnya digunakan di negara tersebut. Walau Singapura tidak menggunakan bahasa Melayu sebanyak negara-negara tetangganya, karena kebijakan empat bahasanya (terdiri dari bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil), perkembangan bahasa Melayu di Singapura selalu terkait erat dengan perkembangan bahasa Melayu di Malaysia. Tidak pernah ada pernyataan resmi dari Singapura mengenai pendiriannya terhadap ejaan baru ini, tetapi implementasi sistem ini telah terjadi sebagaimana dibuktikan oleh penerbitan berbahasa Melayu yang diproduksi di Singapura. [1]
Penerapan
Masa tenggang lima tahun diberikan di kedua negara agar masyarakat terbiasa dengan sistem baru. Di Malaysia, ini berarti para pelajar tidak dihukum karena membuat kesalahan dalam mengeja kata-kata menurut sistem lama. Namun, program yang ketat dilakukan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka pemerintah untuk melihat penerapan sistem ejaan baru dengan memberikan kelas khusus kepada masyarakat, terutama guru dan administrator, tentang cara mengeja bahasa mereka menurut sistem ejaan baru. Masa tenggang juga memungkinkan penerbit untuk membuang stok lama mereka dan menerbitkan edisi revisi dan judul baru dengan ejaan baru. Nama jalan, tempat, dan lembaga harus mengalami perubahan tampilan, menggunakan sistem ejaan baru. [1]
Dalam sistem lama, apostrof ditempatkan sebelum vokal, jika vokal tersebut merupakan vokal awal suku kata, untuk menunjukkan gesekan hulu-kerongkongan bersuara yang muncul dalam kata-kata pinjaman dari bahasa Arab. Namun, bahasa Melayu tidak memiliki fonem ini dalam inventarisnya. Sebagian besar orang Melayu mengaktualisasikan bunyi ini sebagai hentian letup. Karena vokal awal suku kata dan kata dalam bahasa Melayu selalu disertai dengan hentian glotal, apostrof untuk menunjukkan frikatif faring Arab dihilangkan, sehingga mengeja kata serapan Arab tertentu dengan satu grafem lebih sedikit, seperti: [1]
Penggunaan tanda hubung berkurang secara jauh dengan sistem ejaan baru. Sistem ejaan lama lebih banyak menggunakan tanda hubung, misalnya antara imbuhan di- atau kata penekanan postposisional lah atau bentuk klitik nya dan kata dasar, atau antara preposisi tertentu dan kata benda yang mengikutinya. Dalam ejaan baru, tanda hubung pada konteks pertama dihilangkan dan komponen-komponennya ditulis sebagai kata lengkap; dalam konteks kedua, penghapusan tanda hubung menghasilkan dua kata yang berbeda, satu preposisi dan yang lainnya kata benda. Dalam sistem baru, tanda hubung tetap digunakan antara komponen kata yang dirajek, seperti menari-nari dan rumah-rumah. [1]
Sistem ejaan lama di Malaysia dan Indonesia tidak mengakenal keberadaan gugus konsonan pada posisi awal dan akhir kata. Kata serapan yang memiliki gugusan konsonan tersebut sebagian besar berasal dari bahasa Belanda dan Inggris. Mereka dieja berdasarkan aturan fonologi Melayu yang telah ditetapkan bahwa struktur suku kata hanya terdiri dari satu konsonan sebagai awalan dan akhiran. Oleh karena itu, gugusan konsonan di awal kata dinetralkan dengan menyisipkan vokal, biasanya schwa, di antara komponennya. [1]
Dengan aturan kelanggengannya, sistem ejaan baru ini telah menerima gugusan konsonan di posisi awal dan akhir kata. Hal ini telah mempermudah peminjaman istilah-istilah teknis dari bahasa Inggris untuk berbagai ilmu pengetahuan. Namun, kata-kata yang telah lama ada dalam bahasa Melayu dengan satu atau dua komponen yang dihilangkan dibiarkan tetap ada, agar tidak menyebabkan terlalu banyak destandarisasi. Di antara kata-kata yang tidak mengalami perubahan bentuk dengan mengembalikan gugusan konsonannya adalah contoh-contoh dalam bahasa Malaysia yaitu komunis ('komunis'), rekod ('rekaman'), moden ('modern'). [1]
Asmah Omar (1989), "The Malay Spelling Reform", Journal of the Simplified Spelling Society, diarsipkan dari asli tanggal 2011-08-26
Hashim Musa (1997), Epigrafi Melayu: Sejarah Sistem Tulisan dalam Bahasa Melayu (Malay epigraphy: A history of writing systems in Malay language), Dewan Bahasa dan Pustaka, ISBNÂ 978-9-8362-5729-1
Barbosa, Duarte (2010), The Book of Duarte Barbosa, An Account of the Countries bordering on the Indian Ocean and their Inhabitants (Volume II, edited by Mansel Longworth Dames), Hakluyt Society, ISBNÂ 978-1-4094-1416-2
Collins, James T (1998), Malay, World Language: a short history, Dewan Bahasa dan Pustaka, ISBNÂ 978-979-461-537-9