Pembantaian Pulau Bangka (juga dieja Pembantaian Pulau Banka) adalah pembunuhan terhadap perawat-perawat Australia yang tidak bersenjata dan tentara Sekutu yang terluka di Pulau Bangka, sebelah timur Sumatra di kepulauan Indonesia pada 16 Februari 1942. Tak lama setelah pecahnya Perang Dunia II di Pasifik, pasukan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang membunuh 22 perawat Angkatan Darat Australia, 60 tentara Australia dan Inggris, serta awak kapal Vyner Brooke. Kelompok tersebut adalah satu-satunya yang selamat dari kapal uap mereka yang telah ditenggelamkan oleh pesawat pengebom Jepang tak lama setelah jatuhnya Singapura. Setelah menyerahkan diri kepada pasukan Jepang setempat di Pulau Bangka, yang saat itu merupakan bagian dari Hindia Belanda, kelompok tersebut beserta para korban luka dibawa ke sebuah pantai di mana mereka dibunuh dengan ditusuk bayonet dan ditembaki senapan mesin di tengah ombak. Hanya perawat asal Australia Selatan, Letnan Suster Vivian Bullwinkel, warga Amerika Serikat Eric Germann, dan juru mesinAngkatan Laut Kerajaan Ernest Lloyd yang selamat.
Selama hampir 80 tahun, fakta bahwa pasukan Jepang memperkosa para perawat Australia sebelum mereka dibunuh disembunyikan. Hal ini tidak pernah dilaporkan di Pengadilan Kejahatan Perang Tokyo pada tahun 1947 atau dimasukkan dalam berbagai narasi pascaperang mengenai pembantaian tersebut. Bukti bahwa para wanita Australia telah mengalami kekerasan seksual sebelum kematian mereka baru dilaporkan pada tahun 2019 setelah terungkap melalui penelitian. Letnan Bullwinkel mengatakan bahwa ia diperintahkan oleh pemerintah Australia untuk tidak pernah membicarakan dugaan pemerkosaan yang mungkin telah terjadi.
Pembantaian
Pada 12 Februari 1942, kapal pesiar kerajaanSarawak meninggalkan Singapura tepat sebelum kota itu jatuh ke tangan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Kapal tersebut mengangkut prajurit yang cedera dan 64 perawat dari 2/13th Australian General Hospital.[1] Kapal tersebut dibom oleh pesawat Jepang dan tenggelam.[1] Dua perawat tewas saat pengeboman; sembilan lainnya terakhir diketahui berada di sekoci dan tak pernah terlihat lagi; dan sisanya terdampar di Pulau Bangka, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).[butuh rujukan]
Para perawat berkumpul dengan tentara dan korban luka dari Vyner Brooke. Setelah diketahui bahwa pulau tersebut dikuasai Jepang, salah seorang perwira Vyner Brooke melakukan proses penyerahan diri kepada pihak berwenang di Muntok.[1] Beberapa wanita dan anak-anak mengikutinya. Para perawat diam di tempat untuk menangani korban luka. Mereka mendirikan tenda berlambang Palang Merah di atasnya.[butuh rujukan]
Menjelang siang, perwira tadi kembali diiringi 20 tentara Jepang. Mereka memerintahkan seluruh prajurit terluka yang mampu berdiri untuk berjalan mengitari sebuah tanjung. Sejumlah perawat mendengar rentetan tembakan sebelum tentara Jepang kembali, duduk di depan mereka, dan membersihkan bayonet dan senjatanya masing-masing.[1] Seorang tentara Jepang memerintahkan sisanya, 22 perawat dan seorang perempuan (penumpang sipil) untuk berjalan ke tepi pantai.[1] Sebuah senjata mesin dipasang di pantai dan setelah terendam sepinggang, mereka ditembaki. Semuanya tewas kecuali Sister Lt Vivian Bullwinkel.[1] Korban luka yang masih tergeletak di tandu langsung dibayonet dan dibunuh.[butuh rujukan]
Tertembak di diafragma, Bullwinkel sedang dalam keadaan tidak sadar saat tubuhnya terdampar di pantai dan dikira sudah meninggal. Ia berhasil bertahan hidup selama 10 hari sampai akhirnya ditangkap dan dipenjara. Perang pun berakhir dan ia memberi kesaksiannya tentang pembantaian ini di pengadilan kejahatan perang di Tokyo pada tahun 1947.[2]