Paus Paulus III dan Cucu-Cucunya (bahasa Italia: Papa Paolo III e i nipoticode: it is deprecated )[1] adalah sebuah lukisan cat minyak di atas kanvas karya Titian, yang disimpan di Museo di Capodimonte, Napoli. Lukisan ini dipesan oleh keluarga Farnese dan dilukis selama kunjungan Titian ke Roma antara musim gugur 1545 dan Juni 1546.[2] Lukisan ini menggambarkan hubungan yang tidak harmonis antara Paus Paulus III dan kedua cucunya, Ottavio dan Alessandro. Ottavio digambarkan sedang berlutut di sisi kiri Paulus III; dan Alessandro, yang mengenakan jubah kardinal, berdiri di belakangnya pada sisi kanannya. Lukisan ini mengeksplorasi dampak penuaan dan manuver di balik suksesi sang paus; pada saat itu, Paulus telah berusia akhir tujuh puluh tahunan dan ia memerintah dalam iklim politik yang tidak menentu ketika Charles V, Kaisar Romawi Suci tengah mencapai puncak kekuasaannya.
Paulus bukanlah seseorang yang religius. Ia memandang kepausan sebagai alat untuk mengukuhkan posisi keluarganya. Ia mengangkat Alessandro menjadi kardinal – meskipun ada tuduhan nepotisme di dalam prosesnya, memiliki sejumlah anak di luar ikatan pernikahan, dan menghabiskan dana gereja dalam jumlah yang besar untuk mengoleksi karya seni dan barang antik. Sekitar tahun 1545, Charles memperoleh keunggulan politik dan militer, yang melemahkan cengkeraman Paulus atas kursi kepausan. Sadar akan adanya perubahan arus kekuasaan, Titian meninggalkan pesanan lukisan tersebut sebelum selesai,[3] dan selama 100 tahun berikutnya, lukisan tersebut terbengkalai tanpa bingkai di sebuah ruang bawah milik Keluarga Farnese.
Paus Paulus III dan Cucu-Cucunya menjadi salah satu karya terbaik dan paling menonjol dari Titian. Meskipun tidak selesai dan secara teknis kurang matang dibanding lukisan Potret Paus Paulus III yang ia buat beberapa tahun sebelumnya, lukisan ini terkenal karena kekayaan warnanya; warna merah tua pada taplak meja dan warna putih yang nyaris seperti bayangan pada jubah Paulus. Panel ini mengandung isyarat-isyarat halus tentang pertentangan dalam karakter sang Paus serta menangkap dinamika psikologis yang kompleks di antara ketiga tokoh dalam lukisan.[4]
Latar belakang
Kemungkinan potret dari Ottavio Farnese karya Titian, tahun 1540–45, dikenal sebagai Portret Seorang Pemuda Inggris . Ottavio membuktikan dirinya sebagai sosok yang tangguh, memperoleh Orde Bulu Domba Emas dari Charles, dan menjadi seorang Chevalier (ksatria) pada tahun 1547.[5]
Paulus III adalah paus terakhir yang ditunjuk oleh keluarga Medici yang berkuasa di Firenze.[6] Ia ambisius secara sosial, berambisi besar soal karir, dan tidak terlalu taat beragama. Ia memiliki seorang gundik,[7] memiliki empat orang anak di luar ikatan pernikahan, dan memandang takhta sebagai sebuah kesempatan untuk memperkaya diri sambil menempatkan kerabatnya pada posisi-posisi tinggi. Sebagai operator politik yang bertalenta dan licik, Paulus benar-benar merupakan tipe orang yang dibutuhkan orang-orang Firenze untuk membantu mereka dalam menghadapi ancaman dari Prancis dan Spanyol.[8]
Ia menjadi seorang paus pada tahun 1534 ketika berusia 66 tahun, dan ia segera menunjuk anggota-anggota keluarganya untuk menempati posisi-posisi penting. Ia mengangkat cucu tertuanya, Alessandro, yang merupakan anak tertua dari anak tidak sahnya, Pier Luigi, sebagai kardinal saat Alessandro berusia 14 tahun, menandai penyimpangan dari tradisi Farnese yang biasanya menikahkan anak pertama mereka untuk meneruskan nama keluarga. Langkah ini dianggap perlu untuk dilakukan karena cucu tertua berikutnya, Ottavio, saat itu baru berusia 10 tahun; seorang kardinal yang terlalu muda akan dianggap tidak dapat diterima secara politik. Usia Paulus yang sudah lanjut membuat keluarga tersebut tidak bisa menunggu sampai Ottavio cukup umur. Maka, Alessandro diangkat menjadi seorang kardinal diakon; pengangkatan ini tidak mengharuskannya menerima tahbisan utama, tapi pengangkatan ini mewajibkan dirinya untuk menjalani hidup selibat dan melepaskan hak-hak primogenitur, yang kemudian dialihkan ke Ottavio.[6] Alessandro kelak akan sangat menyesali kewajiban tersebut. Paulus mengangkat Ottavio sebagai Adipati Camerino pada tahun 1538, dan pada tahun yang sama, menikahkan dirinya dengan Margaret, putri Charles V, yang di kemudian hari dikenal sebagai Margaret dari Parma.[9] Pencapaian-pencapaian karier kedua cucu Paulus ini dikritik secara luas sebagai bukti nepotisme.[5]
Pernikahan Ottavio mengganggu diri Alessandro; ia bergulat dengan beban kewajiban hidup selibat dan menghibur dirinya dengan membayangkan dirinya menikahi seorang putri. Ia merasa iri atas pengaturan hidup terhadap adiknya; selama acara pernikahan adiknya, ia "menjadi lebih pucat daripada kematian itu sendiri, dan, seperti yang mereka katakan, tidak mampu menahan kenyataan bahwa ia, si anak sulung, harus melihat dirinya sendiri kehilangan status yang begitu gemilang dan putri seorang Kaisar."[6] Pada tahun 1546, Paulus memberi Pier Luigi Kadipaten Parma dan Piacenza sebagai wilayah vasal kepausan, sebuah langkah yang sangat politis dari sang paus: dengan melakukan hal tersebut, ia memberikan gelar dan kekayaan kepada Pier sekaligus menempatkan seorang penguasa yang bergantung dan berutang budi pada dirinya, sehingga memastikan kadipaten-kadipaten tersebut tetap berada di bawah kendali kepausan. Di saat yang bersamaan, Ottavio ditempatkan di Italia Utara untuk mendukung Charles.[5] Pada tahun 1546, Ottavio telah berusia 22 tahun,[10] menikah dengan Margaret dari Austria, serta menjadi seseorang yang terampil dan terpandang. Pada tahun 1547, ayah Ottavio dibunuh dan ia mengeklaim kursi adipati Parma dan Piacenza, meskipun hal ini bertentangan dengan kehendak Charles, sang ayah mertua, dan Paulus. Dengan bertindak demikian, Ottavio bertindak berlawanan dengan keinginan sang paus untuk mempertahankan kadipaten sebagai wilayah vasal kepausan, dan bertentangan dengan Charles, yang ia percaya bertanggung jawab atas rencana pembunuhan Pier Luigi.[5]
Titian adalah teman pribadi Charles;[11] pemesanan potret ini kemungkinan besar dimaksudkan oleh Paulus sebagai isyarat kesetiaan Paulus terhadap sang kaisar. Tekanan dari para monarki yang reformis di Prancis dan Spanyol, ditambah pergeseran umum pengaruh yang menguntungkan Prancis, mengakhiri dominasi Farnese terhadap kursi kepausan tak lama setelah kematian Paulus.[4] Ottavio menunjukkan keunggulan sebagai seorang komandan militer dan dianugerahi Orde Bulu Domba Emas oleh sang kaisar. Walaupun jabatan tersebut diberikan sebagai sarana untuk memperkuat posisi keluarga, hal ini tidak datang tanpa konsekuensi. Kesuksesannya melahirkan kebencian di antara keluarganya, karena ia mulai memandang dirinya tidak bertanggung jawab kepada Roma.[5]
Pada masa pembuatan potret ini, Paulus telah meyakinkan Alessandro untuk tetap mempertahankan jabatannya, dengan memberi isyarat bahwa ia kelak akan menggantikan dirinya sebagai paus– sebuah ambisi yang akhirnya tidak terwujud. Saat Alessandro menyadari kekosongan janji tersebut, ia kehilangan kepercayaan terhadap ucapan dan kredibilitas politik sang kakek.[12]
Lukisan ini dipesan pada tahun 1546 setelah Titian membuat sejumlah potret diri Paulus. Sebelumnya, ia sudah pernah melukis Pier Luigi dan ketiga anaknya – Vittoria, Alessandro, dan Ranuccio.[5] Kemungkinan, ia kembali membuat lukisan potret Ottavio di tahun 1552,[8][14] dan kemungkinan besar Ottavio memesan panel asli Naples dalam rangkaian Danaë karya Titian,[8] meskipun Lodovico Dolce percaya bahwa Alessandrolah yang mendekati Titian.[13]
Reputasi sang seniman memang sedemikian tingginya sehingga ia sudah beberapa kali dipanggil ke Roma pada awal tahun 1540-an; pertama oleh Kardinal Pietro Bembo, dan kemudian oleh Keluarga Farnese. Pada pertengahan tahun 1540-an, Titian menjadi pelukis potret pilihan keluarga Farnese. Setelah beberapa potret awal Pier Luigi dan Paul, mereka memesan satu rangkaian lukisan untuk menandai kebangkitan keluarga mereka setelah Paulus diangkat menjadi paus, yang– mengingat kesadaran politik dan ambisi mereka– jelas dimaksudkan sebagai pernyataan publik akan kenaikan status sosial mereka. Paulus menyadari pengaruh Titian di Venezia, dan setelah tahun 1538, hanya mengizinkan Titian untuk melukis dirinya.[15][16]
Potret tahun 1542 karya Titian yang menggambarkan putra Pier Luigi, Ranuccio Farnese saat berusia 12 tahun. Salib putih pada dada kirinya menandakan bahwa ia adalah seorang ksatria Ordo Militer Berdaulat Malta. Karya inilah yang pertama kali mempertemukan Titian dengan Paulus III.
Titian tidak suka bepergian dan menolak tawaran-tawaran tersebut. Ketika Paulus pergi ke utara Italia untuk bernegosiasi dengan Charles pada tahun 1543, ia bertemu Titian untuk pertama kalinya dan menjadi model untuk lukisan Potret Paulus III Tanpa Topi. Pada sekitar waktu ini, putra Titian, Pomponio, memutuskan untuk masuk ke dalam kehidupan dunia klerus, dan sang pelukis berupaya untuk menggunakan hubungan-hubungannya dengan kepausan untuk memperoleh gereja dan tanah bagi putranya. Melalui hubungannya dengan Kardinal Alessandro,[12] sebagai imbalan atas potret-potret keluarga Farnese, ia meminta agar Pomponio diberikan Biara San Pietro di Colle Umberto, di tanah yang berbatasan dengan tanah milik Titian sendiri di Ceneda. Charles sendiri menghormati Titian sehingga sang pelukis memiliki pengaruh dalam bernegosiasi dengan keluarga Farnese. Ketika ia menerima tawaran komisi dan undangan ke Roma, ia menegaskan bahwa ia hanya bersedia menerima penugasan tersebut dengan imbalan pemberian manfaat seperti yang ia minta. Pada awalnya, hal ini ditolak, namun pada 20 September 1544, Titian tampaknya cukup yakin untuk mengirim sebuah pesan ke Kardinal Alessandro bahwa ia bersedia datang untuk "melukis seluruh aspek rumah tangga Yang Mulia sampai ke titik kucing terakhirnya".[17] Walaupun begitu, Titian tidak mengambil langkah apapun hingga Oktober tahun berikutnya. Saat ia akhirnya tiba di Roma, ia diperlakukan sebagai tamu terpenting kota tersebut dan diberikan apartemen di Belvedere.[17] Pada akhirnya, lukisan potret tersebut tidak selesai. Kemungkinan setelah manfaat diberikan, ia tidak lagi merasa ada alasan untuk tetap berada di Roma dan ia meninggalkan komposisi lukisannya.[4]
Deskripsi
Potret ini menggambarkan ketegangan-ketegangan dan manuver-manuver politik abad ke-16. Latar belakang merah tua dan sapuan kuas yang tebal membangun suasana yang gelisah dan tegang,[4] dan hubungan yang tegang antara Paus dan para calon penerusnya.[18] Sang paus tampak tua, sakit, dan lelah serta, di mata sebagian kritikus, menatap Ottavio dengan sorotan yang bersifat menuduh. Topi atau camauro menutupi kebotakannya, namun tanda-tanda penuaan terlihat jelas pada hidungnya yang panjang, matanya yang kecil dan gelap, bahu yang membungkuk, dan janggutnya yang panjang dan tidak rata.[19] Ia terlihat jauh lebih tua dibandingkan dalam potret Naples kedua ca1545.[20] Hal ini diperkuat oleh jam yang diletakkan di atas meja di samping dirinya, yang berfungsi sebagai memento mori sekaligus pengingat bahwa waktu hampir habis.[21] Dengan demikian, kehadiran para cucunya dalam lukisan menunjukkan bahwa penugasan pembuatan lukisan ini didorong oleh pertimbangan suksesi.[15]
Meskipun begitu, Paulus tetap mempertahankan unsur sosok patriark yang kuat dan waspada. Komposisi lukisan diatur pada sudut yang tidak biasa, sehingga meskipun Paulus ditempatkan rendah dalam ruang gambar, pandangan penonton tetap diarahkan ke atas kepadanya seolah-olah sebagai bentuk penghormatan. Paulus mengenakan busana kebesaran lengkap dengan lengan lebar berlapis bulu (sebuah ciri khas dari orang Venesia untuk menandakan status), dan jubahnya diletakkan melintasi tubuh bagian atas untuk menegaskan kesan kehadiran fisik.
Potret Paus Paulus III, c.1543. Museo di Capodimonte, Naples. Setelah penunjukannya sebagai paus, Paulus mencari Titian untuk menjadi satu-satunya pelukis potret dirinya.
Karya ini seringkali dibandingkan dengan Potret Paus Leo X dengan Para Kardinal (1518–19) dan potret Yulius II (1511–12) dari Raphael karena penggunaan warna serta dinamika psikologisnya. Titian mengikuti maestro sebelumnya dalam beberapa hal, terutama dengan menekankan usia sang paus dan menampilkan sang paus dalam latar yang alami, bukan penuh pemujaan.[22] Namun, Titian melangkah lebih jauh: jika potret-potret karya Raphael menampilkan paus yang berbudi luhur dan introspektif, Titian menghadirkan subjek lukisannya dengan kondisi menatap tajam ke luar, tertangkap dalam momen kalkulasi yang penuh ketakutan sekaligus tanpa belas kasihan.[19] Tatapan menusuk paus dalam lukisan digambarkan oleh sejarawan seni Jill Dunkerton sebagai langkah yang berhasil menangkap “mata kecil sang paus yang cerah, tetapi... menghilangkan kejeniusannya”.[3]
Kanvas ini terbagi secara dramatis menjadi dua bagian oleh sebuah garis diagonal yang dipisahkan oleh warna dan nada. Dua pertiga bagian bawah didominasi oleh pigmen merah dan putih yang berat, sementara pigmen cokelat dan putih tampak menonjol di bagian kanan atas. Pembagian ini ditandai oleh garis diagonal yang membentang dari tepi atas tirai hingga ke bagian bawah pakaian Ottavio di latar tengah kanan. Pantulan warna dan pola lainnya terlihat pada kontras antara warna merah dari jubah Paulus dengan beludru kursinya serta tirai yang menjuntai di atasnya.[4] Pewarnaan dan pencahayaan yang dramatis ini sebagian dapat dikaitkan dengan rancangan komposisi ini, serta dengan teknik Titian membalik pendekatan umum teknik melukis dalam membangun nada: ia memulai dari latar gelap, lalu menambahkan lapisan warna yang lebih terang sebelum bagian-bagian yang lebih gelap. Efek ini telah digambarkan sebagai sebuah “manuver luar biasa (tour de force) dari pewarnaan simfonik”, serta puncak kemahirannya dalam memadukan pigmen merah dan oker. Titian juga menggunakan berbagai jenis sapuan kuas: sementara jubah sang paus dilukis dengan sapuan yang sangat lebar, jubah kecil (mozzetta), wajah tua, dan sisi tangan yang terlihat dari paus digambarkan dengan sangat rinci menggunakan kuas halus, bahkan hingga di titik rambut-rambutnya digambarkan helai per helainya.[4]
Potret Paus Leo X dengan Para Kardinal karya Raphael, tahun 1518–19, adalah acuan bagi drama psikologis yang digambarkan dalam potret tiga tokoh karya Titian. Kedua karya ini sama-sama berpusat pada sosok patriark yang kuat yang menghadapi anggota-anggota keluarga yang muram dan penuh ketegangan. Uffizi, Firenze
Ottavio, yang digambarkan bertubuh tinggi dan berotot,[10] tampak hendak berlutut untuk mencium kaki Paus, yang merupakan sebuah cara penyambutan yang lazim pada masa itu: seorang tamu akan melakukan tiga bungkukan singkat sebelum mencium kaki paus. Titian menandai tahap upacara ini dengan menampilkan sepatu Paulus yang dihiasi sebuah salib, yang tampak menyembul dari balik jubahnya.[4] Kepala Ottavio tertunduk, namun ekspresi wajahnya yang tegas menunjukkan bahwa ia bertindak mengikuti protokol, bukan karena kerendahan hati yang tulus.[18] Nicholas Penny mencatat bahwa "... di istana Renaisans, membungkuk dan sikap merendah adalah hal yang biasa. Hal ini mememengaruhi pandangan modern terhadap [potret tersebut], membuat sikap hormat yang sopan dari kaum muda tampak seperti sikap menjilat seorang pejabat istana yang licik."[23]
Para cucu digambarkan dalam gaya yang sangat berbeda: Alessandro bersikap formal dan mengenakan pakaian dengan warna dan nada yang sama dengan Paulus. Sebaliknya, Ottavio mengenakan pakaian dengan warna cokelat pada sisi kanan atas komposisi, sebuah area lukisan yang secara visual memisahkan dirinya dari sang paus. Posenya canggung dan sulit untuk ditafsirkan, namun ia digambarkan dengan pendekatan yang lebih alami dibandingkan saudaranya.[24] Alessandro menunjukkan ekspresi yang terganggu dan muram.[18] Ia tampak memegang knop sandaran kursi Paulus, seperti halnya Klemens VII memegang kursi Leo X pada lukisan potret karya Raphael,[4] menandakan ambisinya untuk menjadi penerus. Dengan demikian, Alessandro tampak lebih diuntungkan secara politik. Ia diposisikan berdiri di sisi kanan Paulus dalam pose yang mengingatkan penggambaran tradisional Rasul Paulus, sementara tangannya terangkat seolah memberi berkat.[24] Pada akhirnya, Paulus tidak mampu memengaruhi keputusan suksesi dirinya setelah Charles V melemahkan kendali keluarga Medici atas jabatan tersebut.
Lukisan ini tidak selesai dikerjakan; sejumlah detail, paling jelas terlihat pada tangan kanan paus, tidak ada.[21] Bagian-bagian lain tampak datar dan seragam, dengan beberapa area penting lukisan masih tertutup oleh sketsa dasar. Banyak sentuhan akhir khas Titian yang hilang; lengan baju Paulus yang berlapis bulu tidak memiliki sapuan putih yang mengilap seperti pada potret tahun 1543, juga tidak terdapat lapisan glasir akhir atau efek kilap yang biasanya ia gunakan.[25]
Interpretasi
Walaupun karya ini sering dianggap sebagai gambaran yang kurang menyanjung dan dingin tentang seorang paus yang menua yang dikepung oleh kerabat yang licik dan oportunis, kenyataan di balik karya ini jauh lebih kompleks dan maksud sang seniman sifatnya lebih halus. Lukisan ini memang merupakan potret yang sangat apa adanya dari salah satu tokoh yang paling berkuasa pada zamannya, dan sangat kontras dengan dua potret Paulus karya Titian sebelumnya yang bersifat lebih penuh penghormatan. Karya ini diakui secara luas sebagai salah satu pesanan lukisan potret yang paling sulit secara politis dalam sejarah dunia seni, karena menuntut pemahaman tentang dinamika hubungan antartokoh di lukisan dengan kedalaman, yang menurut sejarawan seni Rodolfo Pallucchini dan Harold Wethey, "layak dibandingkan dengan Shakespeare".[4] Namun, Titian tampaknya berhasil mengatasi hal ini; meskipun kerumitan hubungan antartokoh tersebut seluruhnya tertuang di atas kanvas, hal ini mungkin dimaksudkan sebagai isyarat kepada Charles bahwa Paulus tetap memegang posisinya sebagai patriark yang dominan– walaupun ia tua dan rapuh, tetapi ia masih penuh vitalitas dan tetap memegang kendali atas keturunan-keturunannya yang saling berselisih.[4]
Selain itu, karena ia bekerja atas pesanan Keluarga Farnese, Titian tentu tidak bermaksud untuk menggambarkan para tokoh dengan cara yang tidak simpatik secara terang-terangan. Meskipun Paulus ditampilkan sebagai sosok yang tua dan rapuh, ia digambarkan dengan dada yang bidang serta mata yang licik, yang menunjukkan kecerdasan dan kelihaiannya. Ottavio ditampilkan sebagai sosok yang dingin dan tidak mudah dipengaruhi, namun kemungkinan hal ini merupakan sarana untuk menonjolkan kekuatan karakter dan keyakinannya. Alessandro lebih diunggulkan melalui posisinya yang paling dekat dengan Paus, namun analisis sinar-X mengungkapkan bahwa awalnya ia berdiri di sisi kiri paus dan kemudian dipindahkan, kemungkinan atas permintaannya sendiri,[26] ke posisi di mana tangannya bertumpu pada singgasana kursi kepausan, sebagai isyarat akan klaimnya atas takhta kepausan.[10]
Riwayat kepemilikan
Titan meninggalkan lukisan ini sebelum selesai[3] dan selama seratus tahun berikutnya, lukisan ini tersimpan tanpa bingkai dan tanpa dipajang di sebuah ruang bawah tanah milik Keluarga Farnese. Koleksi-koleksi besar karya seni dan barang antik milik Alessandro, termasuk lukisan-lukisan potret karya Titian yang dipesan oleh Paulus, pada akhirnya diwariskan kepada oleh Elisabetta Farnese (1692–1766). Elisabetta, yang menikah dengan Felipe V dari Spanyol pada tahun 1714, kemudian mewariskan koleksi ini ke putranya, Carlos, yang nantinya menjadi Adipati Parma dan Raja Spanyol. Pada tahun 1734, Carlos berhasil menaklukan kerajaanSisilia dan Naples, dan koleksi tersebut dipindahkan ke Naples. Pada tahun 1738, Carlos membangun Istana Capodimonte, yang mencakup Museo di Capodimonte, sebagian untuk menampung koleksi karya seni Keluarga Farnese. Lukisan ini tetap berada di sana sampai hari ini, dipajang di bagian Galeri Farnese.[27] Museo di Capodimonte ditetapkan sebagai museum nasional pada tahun 1950.[28]
↑Judul dalam bahasa Italia ini terkadang salah diterjemahkan menjadi Paus Paulus III dan Sepupu-Sepupunya; istilah nipote sendiri dapat berarti "keponakan" maupun "cucu". Lihat wiktionary entry for nipoteDiarsipkan 11 Februari 2017 di Wayback Machine.
↑Tiziano e il ritratto di corte da Raffaello ai Carracci (dalam bahasa Italia). Diperkirakan Titian, Museo e gallerie nazionali di Capodimonte. Naples: Electa Napoli. 2006. hlm.148. ISBN88-510-0336-X. OCLC68598735. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
↑Penny, Nicholas, 1991. "Measuring up", Review of Renaissance Portraits: European Portrait Painting in the 14th, 15th and 16th Centuries oleh Lorne Campbell, London Review of Books [Daring] vol. 13 no. 7 hal. 11-12. subscription requiredDiarsipkan 21 Agustus 2017 di Wayback Machine., Diakses 21 Agustus 2017
Phillips-Court, Kristin. The Perfect Genre. Drama and Painting in Renaissance Italy. Surrey: Ashgate, 2011. ISBN1-4094-0683-0
Ridolfi, Carlo. The Life of Titian. University Park: Pennsylvania State University Press, 1996. ISBN0-271-01627-2 (pertama kali diterbitkan pada tahun 1648)
Rosenberg, Charles M. (ed). The Court Cities of Northern Italy: Milan, Parma, Piacenza, Mantua, Ferrara, Bologna, Urbino, Pesaro, and Rimini. Cambridge: Cambridge University Press, 2010. ISBN0-521-79248-7
Woods, Kim. Making Renaissance Art: Renaissance Art Reconsidered. New Haven CT: Yale University Press, 2006. ISBN0-300-12189-X
Zapperi, Roberto. "Alessandro Farnese, Giovanni della Casa and Titian's Danae in Naples". Journal of the Warburg and Courtauld Institutes, Volume 54, 1991. 159–171