Setelah lulus dari OSVIA, Paulus Manurung ditempatkan sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Asisten Demang Balige dengan pangkat Gediplomeerd Ambtenaar voor de Inlandschen Bestuurdienst (GAIB).
Bupati Kepala Daerah Tingkat II Dairi
Pasukan militer Belanda di pusat kota Sidikalang pada tahun 1949.
Pada tanggal 12 September 1947, pada masa Agresi Militer Belanda I, Residen Tapanulidr. Ferdinand Lumban Tobing mengeluarkan Surat Residen Tapanuli No. 1256 yang berisikan perintah bahwa terhitung sejak 1 Oktober 1947, Paulus Manurung ditempatkan sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II untuk wilayah Dairi yang berkedudukan di Sidikalang. Dengan demikian, Paulus Manurung menjadi Bupati Dairi pertama dan tanggal penempatannya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Dairi.[4]
Pada 23 Desember 1948, pasukan militer Belanda tiba di Dairi dan menguasai wilayah Sidikalang dan Tigalingga. Sebelum mereka tiba, Paulus Manurung bersama pejabat lainnya, di antaranya Kepala Polisi H. Sihombing, Camat Sumbul Mangaraja Lumban Tobing, sudah meninggalkan pusat kota Sidikalang. Mereka mengungsi ke desa Karing yang jaraknya 6 kilometer dari pusat kota. Namun, pada 27 Desember 1948, pasukan militer Belanda berhasil menemukan mereka di tempat itu. Mereka akhirnya ditangkap.
Penangkapan ini sekaligus mengakhiri jabatan Paulus Manurung sebagai Bupati Dairi. Komandan TNI Sektor III, Selamat Ginting, mengambil alih pemerintahan di Dairi dan menetapkan Wedana Karo Kampung, Gading Barklomeus Pinem, sebagai penjabat Bupati Dairi menggantikan Paulus Manurung.[5]