Pemilihan umum presiden Indonesia 2014
Dalam pemilihan umum presiden Indonesia 2014, di mana Prabowo Subianto dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersaing dengan Jokowi, istilah pasukan nasi bungkus, yang mulai menyebar dari Kaskus ke media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter.
Pasukan nasi bungkus sebagai pendukung Prabowo diuraikan oleh Majalah Detik, yang memberitakan kesaksian seseorang yang mengaku dibayar 2,5 juta rupiah per bulan, ditambah makan dan minum, untuk menangkis berita negatif tentang Prabowo yang muncul di Facebook dan Twitter. Ia, beserta beberapa puluh orang lain, memperoleh tempat kerja dan jadwal tetap serta diberikan fasilitas yang dibutuhkan seperti komputer dan jaringan internet. Selain membela Prabowo, mereka juga bertugas memberi komentar-komentar negatif mengenai Jokowi.[5]
Pasukan Nasi Bungkus
Kami pasukan nasi bungkus
Laskar cyber pejuang di belakang komputer
Senjata kami facebook dan twitter
Menyerang lawan tak pernah gentar
Patuh setia pada yang bayar
Kami pasukan nasi bungkus
Hidup dari cacian dan fitnah harian
Tetap gagah bertopeng relawan
Tak kenal menyerah selalu melawan
Identitas diri jarang ketahuan
Kami pasukan nasi bungkus
Punya sejuta akun siluman
Bagai pedang terhunus
Siap menghujam setiap orang
Kami pasukan nasi bungkus
Tak takut dosa apalagi neraka
Kami bisa tertawa di balik luka
Demi sebungkus nasi dan kiriman pulsa
—Fadli Zon[6]
Hal sebaliknya disampaikan oleh Fadli Zon, wakil ketua umum Gerindra, yang justru menyindir para relawan Jokowi di media sosial sebagai pasukan nasi bungkus. Sindiran ini ia sampaikan melalui sebuah puisi berjudul Pasukan Nasi Bungkus:[6][7] Selain itu, Fadli juga berharap adanya tindakan tegas oleh institusi yang berwenang terhadap akun-akun yang dianggapnya sebagai pasukan nasi bungkus tersebut.[8] Puisi Fadli membuat istilah pasukan nasi bungkus menjadi semakin terkenal di berbagai media sosial, salah satunya di twitter, di mana diskusi tentang pasukan nasi bungkus ini menjadi sangat ramai, bahkan muncul tagar #panasbung yang di-retweet ratusan kali.[2]
Menanggapi tuduhan Fadli tersebut, Kubu Jokowi menyampaikan bantahan dan menyatakan bahwa relawan mereka di media sosial tidak dibayar. Juru bicara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang mencalonkan Jokowi, Eva Kusuma Sundari mengatakan, "...Salah kalau nasi bungkus, kita makan prasmanan sayur lodeh...".[9][10] Sementara itu, para pendukung Jokowi di media sosial, yang menyebut diri mereka Jokowers, juga membantah sindiran Fadli dan menyatakan bahwa pendukung Prabowolah yang merupakan pasukan nasi bungkus. Hal ini didasarkan dari penyelidikan yang mereka lakukan terhadap ratusan akun yang sering memberikan komentar negatif terhadap Jokowi. Mereka mendapati bahwa sebagian besar akun tersebut punya kecenderungan alamat Protokol Internet (IP) yang terkonsentrasi, dengan 7-9 IP induk, menunjukkan bahwa banyak akun yang dikelola oleh satu orang dan bahwa akun-akun tersebut dikelola dan diatur dari beberapa tempat secara terkonsentrasi.[11][12][13]