Parhusip sendiri merupakan salah satu sub-marga dari marga Nainggolan yang mana silsilahnya adalah sebagai berikut:
Toga Nainggolan memiliki dua orang putra yaitu Sibatu dan Sihombar. Kemudian Sibatu menikah dengan Boru Limbong dan memiliki dua orang putra, yaitu Sibatuara dan Parhusip yang menjadi leluhur marga Parhusip.
Parhusip memiliki dua orang putra, yaitu Tuan Marnaning dan Manahan Laut yang kelak menjadi anak parpadanan yang mana ia diangkat menjadi anak dari Guru Sinungsungan Siregar Silali. Lalu Parhusip mengangkat putri dari Guru Sinungsungan menjadi putrinya yaitu yang bernama Siboru Sitatap Birong yang kemudian menikah dengan marga Ompu Tahan Datu Sihotang Sorganimusu.
Tuan Saribupasir memiliki seorang putra yang bernama Pasir Lando dan kemudian ia mengangkat salah satu bere-nya (keponakannya) yang merupakan anak dari lae-nya (iparnya), Ompu Sibaung yang adalah keturunan Tuan Pangorian Siahaan menjadi putranya juga, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuan Saribupasir memiliki dua orang putra, menjadi Pasir Lando dan Marulak Uhum/Ompu Marolop Siahaan yang kemudian menurunkan marga Siahaan Nainggolan. Lalu Pasir Lando memiliki seorang putra yang bernama Lindi Niaek.
Cicit dari Sibatuara yaitu Pangulu Raja menikah dengan dengan Sampulu Nauli Boru Panjaitan, yang merupakan adik dari adik iparnya sendiri yaitu Pinta Omas Boru Panjaitan, istri dari Lindiniaek, keturunan Parhusip, yang mana mereka berdua sama-sama menikahi putri dari Raja Sijorat Panjaitan. Hal ini mengakibatkan perdebatan antara Sibatuara dan adiknya Parhusip,[2] untuk merebut hak kesulungan masing-masing. Parhusip mengklaim bahwa mereka berhak menjadi "abang" karena isterinya adalah anak pertama, sedangkan adiknya yang menikah dengan Sibatuara adalah anak bungsu. Namun pada hakikatnya Sibatuara tetap menjadi anak sulung karena Sibatuara lahir lebih dahulu.[3]
Tokoh
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.
Beberapa tokoh yang bermarga Parhusip, diantaranya adalah: