Parang Maya merupakan kepercayaan lokal/mitos masyarakat Dayak terkait upaya menyakiti orang lain melalui kekuatan gaib.[1]
Asal kata
Kata “Parang Maya” berasal dari bahasa Kutai. Istilah ini terdiri dari dua unsur: parang yang berarti menebas atau memotong dengan senjata seperti mandau, dan maya yang berarti bayangan atau pantulan diri seseorang ketika terkena cahaya. Dengan demikian, parang maya bermakna “menebas bayangan,” yaitu tindakan simbolis yang diyakini berhubungan dengan roh atau jiwa seseorang yang tampak melalui bayangan tersebut.[2]
Peran
Parang maya dalam konteks penyembuhan
Parang Maya dalam konteks pengobatan dilakukan dengan menggunakan sehelai daun khusus yang telah ditentukan oleh tetua adat dan dianggap suci dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit berdasarkan firasat dan pengalaman leluhur. Metode ini juga dianggap dapat meredakan sakit hati yang timbul akibat rasa cemburu, kehilangan pasangan, persaingan cinta, atau konflik dalam urusan bisnis.[2]
Parang maya dalam konteks mencelakai
Parang Maya sebagai sarana untuk mencelakai memiliki beragam media sesuai adat dan kebiasaan tiap komunitas Dayak.[2]
Ritual ini dapat dilakukan dengan media parang yang dibakar, kemudian diberi mantra tertentu sehingga diyakini dapat bergerak sendiri, menghilang, dan menyerang orang yang menjadi sasaran.[3] Dalam versi lain, praktik ini dilakukan dengan cara menebas mayang atau tungkul (jantung pisang) menggunakan senjata mandau. Apabila jantung pisang tersebut mengeluarkan cairan merah menyerupai darah segar, maka diyakini orang yang menjadi sasaran akan meninggal.[4] Cara lain dilakukan dengan menggoreng biji merica sambil melafalkan mantra tertentu, di mana jumlah biji yang digunakan ditentukan hingga proses selesai, kadang disertai bacaan doa. Selain itu, ada versi yang dilakukan dengan memanggang atau menggoreng foto seseorang di dekat api atau bara. Ada pula praktik membuat patung kecil menyerupai orang yang menjadi sasaran, lalu diperlakukan seolah patung tersebut adalah orang yang hendak ditaklukkan atau dilukai.[2]
Korban yang terkena parang maya biasanya mengalami kematian secara tiba-tiba, seolah-olah mengalami serangan jantung, tanpa menunjukkan gejala sakit sebelumnya.[5]
Dalam konteks seni tari
Tari Parang Maya dikenal pada periode 1980 - 1985, tetapi sempat menuai kritik. Meski demikian, bentuk drama tari tersebut tetap ditampilkan di berbagai daerah. Seiring perkembangannya, tarian ini masih sesekali ditampilkan dalam acara adat seperti Erau, dan Pelas Tahun. Tarian ini ditampilkan dengan menggunakan busana adat Dayak Kenyah. Beberapa tokoh yang terlibat dalam pengembangannya termasuk Zailani Idris, Aji bing, Bakti Hartaviv Nurgan, Achmad Rizal dan Wiwin Lauda.[2]
12345Caturwati, Endang (2014). Deskripsi seni Kalimantan Timur(PDF). Jakarta: Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)