Sejarah
Pasca Perang Dunia II dan kependudukan Jepang di Batavia, Mr. J.E. Ysebaert–residen Batavia yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Layanan Administratif Sementara[1][2][3]–merasa prihatin dengan nasib anak-anak korban perang di daerah Batavia. Mr. Ysebaert dan mendekati Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ (Vikaris Apostolik Batavia) agar umat Katolik dapat menolong. Pemerintah kota meminjamkan sebidang tanah beserta bangunan di atasnya di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan yang dipakai untuk merawat orang sakit jiwa. Mgr. Willekens meminta agar Kongregasi Bruder Budi Mulia di Gunung Sahari dan Batavia Vincentius Vereeniging (Yayasan Vincentius Batavia, turunan dari Vereeniging van den H. Vincentius a Paulo) untuk menanggulangi masalah berat anak-anak telantar ini.
Yayasan St. Vincentius ini bekerjasama dengan Bruder-bruder Budi Mulia untuk mewujudkan fasilitas yang layak bagi anak-anak. Para burder dengan cepat membangun rumah bambu dan memilih tenaga bantu, karena pada Juni 1947 sudah tiba 250 anak yang dikumpulkan dalam hunian Rustenburg (kini Cawang), di Rawa Badak dan Tanjung Priok. Panti Asuhan Desa Putera akhirnya rampung didirikan didirikan pada tanggal 30 Juni 1947 dan pengelolaan Panti Asuhan ini dipercayakan sepenuhnya kepada Bruder Budi Mulia (BM).
Beberapa hari sesudah berdirinya panti, sebagian anak yang lebih besar melarikan diri. Mereka sudah besar, maka malam hari melarikan diri dengan membawa barang apa saja dari panti. Pada tahun-tahun pertama, dari seribu anak yang diterima, kurang lebih tujuh ratus keluar dengan diam-diam. Pada tahun 1951 sekitar 40 anak pada suatu malam menyerang ketiga Bruder, mengunci mereka di kantor, lalu kabur dengan membawa barang apa saja. Akhirnya, secara perlahan-lahan anak yang hanya tahu bermain ini dilatih dan dibiasakan bekerja di bengkel kayu sederhana. Bengkel ini mulai berjalan stabil pada tahun 1954. Pada 1974, bengkel tersebut diperluas dengan bengkel besi dan latihan montir.
Pada 1998, bengkel kayu itu diganti dengan tempat pembuatan lilin indah. Penjilidan buku, peternakan sapi (1962-1985), kuda, itik dan ayam serta perkebunan kelapa dan ceruk menjadi tempat kesibukan dan pelatihan anak-anak. Anak yang pernah sekolah diberi kursus, supaya menjadi guru bagi yang lain. Bangku untuk sekolah dan peralatan lain dibuat di bengkel sendiri.
Pada akhir 1950, Sekolah Guru Bantu (SBG) dibuka selama dua tahun sesudah SD Desa Putra, yang pada 1952 sudah menjadi SBG dengan 172 siswa. Lalu pada 1960, unit sekolah tersebut menjadi SMP. Penerimaan anak jalanan dihentikan karena daya tampung terbatas, mutu pendidikan ditingkatkan, rumah bambu diganti bangunan batu, sekolah dilengkapi dengan Sekolah Rakyat (SR), SR Pertanian, SR Pertukangan dan kursus agama dibuka dengan kapel bagus yang didirikan di kompleks Desa Putera. Kapel ini menjadi Stasi untuk umat Katolik yang tinggal di sekitarnya.
Karena banyak gedung terbakar pada 1963, maka dibangun kembali dengan yang lebih baik dan luas. Bengkel penjilidan berkembang menjadi percetakan sederhana dan dengan bantuan CEBEMO dan mesin cetak bekas dari Belanda ditingkatkan menjadi Sekolah Teknik Menengah Grafika.
Kini Desa Putera diakui sebagai Perguruan Grafika Terbaik dengan percetakan modern yang menghasilkan cetakan bermutu. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan formal dilatih dalam Graphic Training Centre. Usaha lain adalah klinik sederhana untuk anak-anak asrama, yang kemudian menjadi poliklinik untuk umum juga, yang dikelola oleh Yayasan Melania (1973; sejak 1992 oleh Yayasan Budi Mulia) sebagai Balai Kesehatan Masyarakat dengan dokter dan perawat.[4] [5]