Pangeran Erickson Arthur Siahaan (lahir 14 Agustus 1988), adalah seorang dokter spesialis kedokteran jiwa asal Indonesia yang dikenal luas atas dedikasi dan inovasinya dalam bidang kesehatan mental.[1]
Erickson berasal dari suku Batak Toba dan menganut agama Kristen Advent. Ia menonjol sebagai pelopor terapi musik untuk orang dengan gangguan jiwa di Indonesia, sebuah inovasi yang membawanya meraih Rekor MURI pada tahun 2022.[2]
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Pangeran Erickson Arthur Siahaan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Perguruan Advent di Jakarta, lalu menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di mana ia meraih gelar Dokter Umum (dr.) setelah menyelesaikan studinya pada rentang tahun 2007 hingga 2012.[3]
Melanjutkan minatnya di bidang kesehatan mental, ia kemudian mengambil spesialisasi Kedokteran Jiwa di universitas yang sama dan berhasil memperoleh gelar Sp.KJ pada tahun 2021.
Setelah menyelesaikan pendidikan spesialisasinya, dr. Erickson memfokuskan praktik klinisnya di wilayah Cileungsi, Jawa Barat. Ia berpraktik di beberapa rumah sakit, termasuk Radjak Hospital Cileungsi 1 dan RSUD Cileungsi, di mana ia memberikan layanan psikiatri komprehensif.[5]
Selain praktik langsung, dr. Erickson juga menyediakan konsultasi secara daring melalui platform telemedisin seperti Alodokter dan Yesdok, memperluas akses layanan kesehatan mental bagi masyarakat luas.
Salah satu pencapaian terbesar dr. Erickson adalah pengembangan modul terapi musik yang inovatif untuk orang dengan gangguan jiwa, khususnya penderita skizofrenia.
Modul ini merupakan hasil riset dan tesisnya yang kemudian diakui secara resmi oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2022 sebagai "Terapi Musik Pertama untuk Orang dengan Gangguan Jiwa di Indonesia".
Selain praktik klinis dan inovasi terapi, dr. Erickson juga dikenal sebagai sosok yang aktif dalam edukasi kesehatan mental kepada masyarakat luas.[6] Salah satu penampilannya yang cukup dikenal adalah dalam program "Dear Doctor" di kanal YouTube Tribunnews, di mana ia membahas berbagai topik penting seperti gejala lanjutan yang dialami penyintas COVID-19 dan cara mengatasi ketakutan akibat berita simpang siur.[7]
dr. Erickson juga aktif dalam berbagai kegiatan komunitas dan profesional. Ia adalah pendiri "Jakarta Left Handed Community" sebuah komunitas yang menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu sosial yang lebih luas di luar bidang kedokteran jiwa. Selain itu, ia sering diundang sebagai pembicara dalam konferensi dan seminar profesional, seperti acara BATIK 6 x ICOSPI 2025,[8] yang mempertemukan para ahli dan praktisi di bidang psikiatri dan kesehatan mental untuk berbagi ilmu dan pengalaman.