"Maka sumalah Sultan Suryanullah itu, bertinggal anak laki-laki dua orang itu. Yang tua menjadi raja bernama Sultan Rahmatullah, yang muda menjadi Dipati bernama Pangeran Anom. Ia itu disebut orang Pangeran di Hangsana karena dalam paseban itu ada kayu hangsana".
Raden Dipati atau Pangeran Dipati merupakan gelar berganda yaitu seorang Raden atau Pangeran yang menjabat sebagai Dipati atau Perdipati ("wakil" Putra Mahkota). Pangeran yang menyandang gelar ini biasanya Pangeran ke-2 atau adik Putra Mahkota (adik dari Sultan). Gelar Pangeran Dipati ini sering dipakai di pulau Kalimantan, pulau Jawa, dan lain-lain. Perkembangan selanjutnya gelar adik Putera Mahkota ini disebut Pangeran Dipati Anom (Anum= muda), karena Putra Mahkota juga disebut Pangeran Dipati Tuha (Tua).[2]
Pangeran yang menyandang gelar Pangeran Dipati:
Pangeran Anom bergelar Pangeran di Hangsana (Dahangsana), Pangeran ke-2 atau putera kedua dari Sultan Suryanullah atau adik Sultan Rahmatullah, raja Banjar.[3]
Pangeran Demang, Pangeran ke-2 atau putera kedua dari Sultan Rahmatullah; adik Sultan Hidayatullah, raja Banjar; ayahanda Putri Juluk I, Raden Gulu dan Raden Warjo.[1][4][5][6][7][8][9][10][11]
Catatan kaki
12Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar (dalam bahasa Melayu). Diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBNÂ 9789836212405. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)ISBN 983-62-1240-X
↑Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia) (1993). Hikayat Banjar dan Kotaringin. Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. hlm. 139. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)