Genus Pan terdiri dari dua spesies yang masih ada: bonobo dan simpanse. Secara taksonomi, kedua spesies kera ini secara kolektif disebut panin;[3][4] namun, kedua spesies tersebut lebih umum disebut secara kolektif menggunakan istilah umum simpanse. Bersama dengan manusia, gorila, dan orang utan, mereka adalah bagian dari famili Hominidae (kera besar, atau hominid). Berasal dari Afrika Sub-Sahara, simpanse dan bonobo saat ini keduanya ditemukan di hutan Kongo, sementara hanya simpanse yang juga dapat ditemukan lebih jauh ke utara di Afrika Barat. Kedua spesies ini terdaftar sebagai terancam punah dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN, dan pada tahun 2017 Konvensi Spesies Migratif memilih simpanse untuk mendapatkan perlindungan khusus.[5]
Simpanse dan bonobo: perbandingan
Simpanse (P. troglodytes), yang hidup di sebelah utara Sungai Kongo, dan bonobo (P. paniscus), yang hidup di sebelah selatannya, pernah dianggap sebagai spesies yang sama, tetapi sejak tahun 1928 mereka telah diakui sebagai spesies yang berbeda.[6] Selain itu, P. troglodytes dibagi menjadi empat subspesies, sementara P. paniscus tidak terbagi. Berdasarkan pengurutan genom, kedua spesies Pan yang masih ada ini berpisah sekitar satu juta tahun yang lalu.
Perbedaan yang paling mencolok adalah simpanse berukuran sedikit lebih besar, lebih agresif, dan didominasi jantan, sementara bonobo lebih ramping, damai, dan didominasi betina. Rambut mereka biasanya berwarna hitam atau cokelat. Jantan dan betina berbeda dalam hal ukuran dan penampilan. Simpanse dan bonobo merupakan beberapa di antara kera besar yang paling sosial, dengan ikatan sosial yang terjalin di seluruh komunitas yang besar. Buah adalah komponen terpenting dalam makanan simpanse; namun mereka juga memakan tumbuh-tumbuhan, kulit kayu, madu, serangga, dan bahkan simpanse atau monyet lainnya. Mereka dapat hidup lebih dari 30 tahun baik di alam liar maupun di penangkaran.
Simpanse (Pan troglodytes) (kiri) dan bonobo (Pan paniscus) (kanan)
Simpanse dan bonobo sama-sama merupakan kerabat terdekat umat manusia yang masih hidup. Mereka menggunakan berbagai alat yang canggih dan membangun sarang tidur yang rumit setiap malam dari cabang dan dedaunan. Kemampuan belajar mereka telah dipelajari secara ekstensif. Bahkan mungkin terdapat kebudayaan yang khas di dalam populasi mereka. Studi lapangan mengenai Pan troglodytes dipelopori oleh primatolog Jane Goodall.