Artikel atau bagian ini sedang dalam perubahan besar untuk sementara waktu. Untuk menghindari konflik penyuntingan, dimohon jangan melakukan penyuntingan pada halaman ini selama pesan ini ditampilkan.
Halaman ini terakhir disunting pada 12.48, 8 November 2025 (UTC) (6 bulan lalu)– (hapus singgahan). Pesan ini dapat dihapus jika halaman ini sudah tidak disunting dalam beberapa jam. Jika Anda adalah penyunting yang menambahkan templat ini, harap diingat untuk menghapusnya setelah selesai atau menggantikannya dengan {{Akan dikerjakan}} di antara masa-masa menyunting Anda.
Depan Kantor Kecamatan Gondang.
Pabrik Gula Kedung Banteng merupakan salah satu pabrik gula yang terletak di Sragen pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang hanya beroperasi selama 1 tahun dan kini sudah tidak lagi beroperasi. Pabrik gula tersebut telah dibakar ketika resmi tidak beroperasi. Namun, bangunan yang tersisa dalam kompleks pabrik tersebut sampai sekarang masih berdiri. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama Omah Londo atau juga Sinder Gondang. Pada tahun 2018 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen menetapkan bangunan tersebut menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Sragen. Bangunan yang tersisa dalam kompleks tersebut dianggap layak untuk dikembangkan karena berpotensi memiliki nilai ekonomi.[1]
Meskipun gedung utama pabrik untuk produksi gula sudah dibakar, ada beberapa bangunan yang masih berdiri, bahkan beberapa bangunan di kompleks tersebut yang masih aktif digunakan untuk pemerintah Indonesia sekarang ini. Bangunan yang sekarang ini masih berdiri tersebut dulunya merupakan tempat tinggal para pegawai. Kini, bangunan rumah pegawai tersebut aktif dimanfaatkan oleh pemerintah, seperti kantor camat, rumah dinas camat, puskesmas, sekolah, dan koramil. Akan tetapi, terdapat terdapat pula beberapa bangunan yang mangkrak dan tidak terawat. Bangunan tersebut kini dikembangkan menjadi tempat wisata setelah kelompok karang taruna setempat merenovasi dan mengecat ulang.[1]
Kekhasan Omah Londo
Penanda Cagar Budaya Kompleks Perumahan Sinder Gondang.
Bangunan Omah Londo ini setidaknya memiliki tiga poin kekhasan yang menjadi daya tarik nilai ekonomi. Pertama, bangunan ini memiliki nilai sejarah, khususnya terkait sejarah industri gula di Indonesia atau di dunia melalui gelombang kolonialisme. Kedua, dari segi arsitektur bangunan ini sangat khas dengan bentuk perpaduan Jawa dan Eropa. Selain itu, bangunan yang sampai sekarang ini masih berwarna cat putih dan berdiri menandakan bangunan Belanda yang kokoh. Ketiga, nilai mistis yang berkembang di masyarakat, seperti kehadiran hantu noni Belanda. Selain itu, terdapat pula satu-satunya ubin dari bangunan yang berwarna kuning. Dua hal mistis tersebut memang dapat menjual perhatian dan daya tarik pengunjung sebagai dark tourism, artinya pengunjung mencari sensasi untuk merasakan kengerian mistis ala Eropa. Kendati demikian, hal-hal mistis tersebut tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya.
Melalui kekhasan tersebut, pemuda karang taruna setempat dan masyarakat luas bersama-sama mempromosikan rumah tersebut melalui sosial media, seperti mengunggah di Instagram. Bangunan yang khas tersebut, selain menjadi daya tarik wisatawan untuk sekadar berkunjung, juga menarik perhatian masyarakat untuk menjadikannya lokasi pre-wedding.[2] Dengan demikian, bangunan Belanda yang sudah tua dan tampak mengerikan tersebut justru memiliki multiperspektif, tidak hanya dari sisi mistis tetapi juga kebahagiaan dalam bentuk pernikahan.