Pabrik Gula Barongan adalah salah satu pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta, tepatnya di Desa Sumberagung, Jetis, Bantul. Pabrik ini merupakan bagian dari perkembangan industri gula di wilayah Vorstenlanden pada masa kolonial Hindia Belanda. Saat ini, bangunan pabrik tersebut sudah tidak ada lagi, dan lokasi bekasnya digunakan sebagai laboratorium kesehatan hewan di bawah pengelolaan Balai Pengkajian dan Bioteknologi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta. [1]
Industri gula merupakan salah satu industri berbasis pertanian dengan menjadikan tebu sebagai bahan baku utama untuk menghasilkan gula. Sebagai salah satu bahan pokok masyarakat, gula memiliki permintaan yang cukup tinggi baik di pasar lokal maupun internasional.[2]
Pabrik Gula Barongan (KITLV)
Sejarah
Pabrik Gula Barongan diperkirakan telah berdiri sebelum tahun 1867. Pabrik ini awalnya didirikan oleh George Weijnschenk, seorang pengusaha perkebunan pada masa kolonial. Pabrik ini menjadi bagian dari jaringan industri gula di Yogyakarta, yang pada abad ke-19 pernah mencatat keberadaan 19 pabrik gula besar di wilayah tersebut.[1]
Kepemilikan
Setelah didirikan oleh George Weijnschenk, kepemilikan Pabrik Gula Barongan beralih ke perusahaan N.V. Cultuurmaatschappij de Vorstenlanden, sebuah perusahaan perkebunan yang mengelola berbagai komoditas di kawasan Vorstenlanden. [1]
Penutupan dan Pasca Penutupan
Pabrik Gula Barongan berhenti beroperasi pada tahun 1937. Setelah penutupan, hasil perkebunan tebu yang sebelumnya diproses di pabrik ini dialihkan ke Pabrik Gula Padokan. Pada masa Agresi Militer Belanda II (1948–1949), kompleks bekas Pabrik Gula Barongan pernah digunakan sebagai kamp internir untuk menahan orang-orang Belanda.[1]
Warisan
Saat ini, seluruh bangunan Pabrik Gula Barongan sudah tidak tersisa. Bekas lokasi pabrik telah dialihfungsikan menjadi laboratorium kesehatan hewan milik BPBTDK Dinas PertanianDaerah Istimewa Yogyakarta. Di antara banyak pabrik gula yang pernah ada di Yogyakarta, hanya Pabrik Gula Madukismo yang masih bertahan hingga kini sebagai pabrik gula aktif dan menjadi warisan sejarah industri gula di daerah tersebut.[1]