Pada zaman dahulu, Nusa Penida berstatus sebagai koloni dari Kerajaan Klungkung. Pulau ini dipandang potensial sebagai wilayah pengasingan bagi orang-orang yang dianggap bermasalah dari Klungkung, Gianyar, dan Bangli (Sedimen, 1984). Nusa Penida dianggap memiliki kelebihan karena jauh dari Bali daratan, arus lautnya deras, dan bergelombang laut tinggi, sehingga sulit bagi para tahanan untuk meloloskan diri. Alasan lainnya, kondisi geografi Nusa Penida yang tandus dan musim kemarau yang relatif panjang, fitambah lagi stereotip bahwa Nusa Penida menjadi pusat ilmu hitam pada masa itu, sehingga cocok dijadikan sebagai koloni tahanan. Faktor inilah yang membuat pemerintah Hindia Belanda menyebutnya sebagai bandieten eiland ('pulau penjahat').[5]
Geografi
Batas wilayah
Batas wilayah Kecamatan Nusa Penida adalah sebagai berikut:
Masyarakat Nusa Penida pada umumnya menggunakan bahasa Bali dialek Nusa Penida (basa Nosa).[7] Sedangkan masyarakat Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Bali daratan dengan pengaruh bahasa Bali Nusa Penida.