Nurtami Soedarsono (lahir 15 Juni 1974) adalah seorang dokter gigi, akademisi, dan peneliti kedokteran gigi forensik Indonesia. Ia menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi di Universitas Indonesia dari tahun 2020 hingga 2024.
Masa kecil dan pendidikan
Nurtami lahir di Jakarta[1] pada tanggal 15 Juni 1974.[2] Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dan putri dari seorang dosen ekonomi Universitas Indonesia. Nurtami telah mengembangkan minat dalam ilmu kesehatan dan seni sejak kecil. Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, ia memutuskan untuk belajar kedokteran gigi di Universitas Indonesia. Skripsi sarjananya membahas tentang kedokteran gigi forensik, sebuah topik yang tidak populer di kalangan sebayanya saat itu.[1]
Setelah lulus pada tahun 1997, ia membantu dalam kasus identifikasi post-mortem di RS Cipto Mangunkusumo, dibimbing oleh ahli forensik Mun’im Idris. Karena sering lembur dan terlibat dalam identifikasi bencana, Nurtami sempat dipertanyakan oleh orang tuanya, meskipun mereka kemudian mendukungnya karena pekerjaannya sering dikaitkan dengan insiden besar nasional.[1]
Setelah diterima untuk gelar doktor kedokteran gigi di Tokyo Medical and Dental University pada tahun 2001, Nurtami belajar bahasa Jepang selama enam bulan sebelum memulai studinya di Departemen Patologi Molekuler. Pembimbing doktoralnya adalah Minoru Takagi dan Akira Yamaguchi. Ia juga melakukan penelitian tentang genom manusia dan latar belakang genetika beberapa penyakit di Riken di Yokohama di bawah supervisi Yoshiyuki Sakaki dan Toshio Kojima sebagai ketua tim.[3] Ia lulus dari Universitas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Tokyo pada tahun 2006.[1]
Karier
Setelah meraih gelar doktor, Nurtami kembali ke Indonesia dan mulai bekerja sebagai dosen di fakultas kedokteran gigi Universitas Indonesia, di samping melanjutkan penelitiannya di bidang kedokteran gigi forensik serta patologi. Bahasa Indonesia: Sebagai peneliti forensik, ia kerap berkolaborasi dengan ahli patologi, antropolog, pakar DNA, dan tim forensik kepolisian dalam mengidentifikasi jenazah.[1] Ia menjadi konsultan forensik untuk laboratorium forensik DNA kepolisian nasional yang baru didirikan pada tahun 2007[1] dan menjadi visiting scholar di Universitas Columbia pada tahun 2009.[4] Ia, bersama dengan rekan forensik kedokteran gigi Astiti Handayani, terlibat dalam operasi identifikasi korban bencana dalam kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak pada tahun 2012.[5]
Nurtami memegang jabatan manajerial di fakultas kedokteran gigi sejak kembali dari Jepang pada tahun 2006. Ia menjabat sebagai manajer mahasiswa fakultas tersebut dari tahun 2006 hingga 2008, di mana ia bertanggung jawab atas kesejahteraan mahasiswa dan mengelola program pertukaran dan kegiatan mahasiswa. Kiprahnya berlanjut dengan pengangkatannya sebagai asisten pimpinan program magister fakultas dari tahun 2011 hingga 2014.[3] Pada tanggal 10 Januari 2014, Nurtami memangku jabatan sebagai wakil dekan kedua fakultas, yang bertanggung jawab atas sumber daya, usaha, dan administrasi umum.[6] Menjabat hingga 2 Agustus 2018 dan kemudian dilantik sebagai Ketua Program Magister Fakultas.[7]
Nurtami (kedua dari kiri) bersama wakil rektor lainnya di sebelah kanannya pada tahun 2024.
Pada 21 Oktober 2020, Nurtami dilantik sebagai wakil rektor tiga Universitas Indonesia yang bertanggung jawab terhadap penelitian dan inovasi.[8] Selama masa jabatannya, universitas ini mengadakan penghargaan inovasi dan festival untuk mendukung penemuan dan startup dari masyarakat umum.[9][10] Beliau melakukan kunjungan mewakili universitas ke Swiss dan Belanda[11][12] dan menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama di bidang penelitian dan inovasi, termasuk dengan perusahaan minyak negara Pertamina dalam inkubator bisnis[13] dan Otorita Ibu Kota Nusantara.[14] Ia juga mengawal pengembangan bus listrik untuk angkutan umum di universitas.[15] Masa jabatannya berakhir dengan pengangkatan Hamdi Muluk pada 16 Desember 2024.[16]
Pada tanggal 14 Oktober 2024, Nurtami terpilih sebagai anggota Dewan Kesehatan Indonesia dan ketua kolegium kedokteran gigi forensik[17] setelah memenangkan pemilihan internal dengan 13 suara.[18][19]