Dewi (Nike Ardilla), seorang gadis Sunda dari kampung, mewarisi rumah peninggalan neneknya (Nani Somanegara) di Kota Bandung yang baru meninggal dunia seminggu sebelumnya. Memiliki kepribadian yang baik hati, periang, lucu, dan terbuka, Dewi memutuskan pindah dari kampung, meninggalkan kedua orang tua Dewi dan tinggal seorang diri di rumah peninggalan neneknya sembari fokus belajar demi masuk ITB yang merupakan kampus impian Dewi, karena bercita-cita menjadi arsitek. Meskipun telah meninggal, arwah sang nenek tetap hadir di sekitar lingkungan rumah untuk mengawasi dan memberi wejangan pada Dewi, meskipun tidak diketahui maupun disadari oleh Dewi dan orang-orang di sekitarnya.
Tidak lama setelah menempati rumah warisan itu, Dewi didatangi oleh dua perempuan asing, Susi (Sylvana Herman), mengaku seorang penyanyi, dan Ayu (Dian Nitami) seorang peragawati. Keduanya bersikeras ingin menyewa salah satu kamar di rumah Dewi setelah menemukan iklan yang dimuat di surat kabar, meskipun Dewi sendiri tidak mengetahui bagaimana iklan tersebut dapat terbit. Persaingan antara Susi dan Ayu untuk mendapatkan kamar pun membuat Dewi kebingungan. Di tengah situasi tersebut, Dewi kembali bertemu dengan Mang Usul (Hussein Wijaya), seorang sopir taksi paruh baya yang berasal dari kampung yang sama dengannya. Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja ketika Mang Usul mengantar salah satu calon penyewa ke rumah Dewi. Sejak saat itu, Mang Usul kerap singgah untuk membantu mengurus rumah serta menjaga Dewi. Sikap Mang Usul yang kebapakan, protektif, tetapi jenaka membuat Dewi tidak lagi merasa sendirian dan sudah menganggap Mang Usul sebagai om sendiri.
Silih waktu berlalu, Susi dan Dewi sudah menjadi sepasang sahabat, tetapi di sisi lain, akan selalu ada orang baru berdatangan ke rumah Dewi, seperti Jepri (Totow Manoe) yang pernah mencoba maling rumah Dewi tetapi sudah bertobat, pembantu baru bernama Elisabet (Aguy Sabarwati) yang jenaka namun galak, hingga sahabat dewi bernama Yeni (Fitriasari) yang merupakan anak orang kaya yang kabur dari rumah demi mencari perhatian ayahnya agar bisa mendapatkan mobil baru, sementara Dewi berusaha mencari jalan keluar atas persoalan hal kecil maupun hal besar yang dihadapi berawal seorang diri hingga bersama-sama dari teman dan penghuni baru di rumah itu, sehingga terbentuk karakter Dewi yang menjadi lebih dewasa dan peka berkat pengalaman pelajaran baru yang diambil selama tinggal dirumah warisan nenek. Sinetron ini banyak menyinggung kritik sosial dari isu ketimpangan ekonomi, lapang kerja dan industri perfilman Indonesia pada masa itu.