Ia terusir dari Karimata oleh perompak Bugis yang terkenal pada masa itu. Nakhoda Mangkuto kemudian mencari perlindungan di negeri Banjar, di mana putranya Tayan lahir, hasil dari pernikahannya sewaktu di Karimata. Pada masa selanjutnya, ia pindah lagi ke Piabung, Lampung bagian selatan, dan memfokuskan usahanya pada perdagangan lada dengan wilayah Banten.
Nakhoda Mangkuto meninggal dunia sekitar tahun 1740. Anaknya, Tayan, yang kemudian bernama Nakhoda Muda, meneruskan usaha perdagangan lada dengan Kesultanan Banten, di mana kemudian membuat dirinya menjadi orang kaya dan akhirnya punya pengaruh yang cukup besar.