Nadran merupakan upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di pesisir utara Pulau Jawa, termasuk wilayah Subang, Indramayu dan Cirebon. Upacara ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas keberlimpahan hasil tangkapan ikan, sekaligus memohon agar hasil tangkapan pada tahun berikutnya lebih melimpah dan agar terhindar dari kendala dalam mencari nafkah di laut. Nadran biasanya dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Selain rangkaian ritual adat, kegiatan ini juga diiringi dengan pertunjukan kesenian tradisional dan penyelenggaraan pasar malam yang berlangsung selama sekitar satu minggu. Di Kabupaten Indramayu, umumnya Upacara Adat Nadran diselenggarakan antara bulan Oktober sampai Desember yang bertempat di Pantai Eretan Kulon, Eretan Wetan, Dadap, Limbangan dan Karangsong. Sedangkan di Kabupaten Subang, di antaranya adalah di Pantai Blanakan.[1]
Nadran merupakan tradisi yang lahir dari akulturasi budaya Islam dan Hindu, dan telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Istilah nadran diyakini oleh sebagian masyarakat berasal dari kata nazar dalam Islam, yang berarti pemenuhan janji. Inti dari upacara ini adalah persembahan sesajen berupa ritual yang berasal dari tradisi Hindu untuk menghormati roh leluhur kepada penguasa laut, dengan tujuan memperoleh limpahan hasil laut sekaligus sebagai bentuk ritual tolak bala.[2]
Sesajen yang diserahkan, disebut ancak, berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain-lain. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak mengelilingi lokasi tertentu dengan iringan pertunjukan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, serta seni kontemporer seperti drumben. Selama pelaksanaan upacara, biasanya juga digelar wayang kulit yang berlangsung selama satu minggu. Nadran, yang kadang disebut labuh saji, juga dipahami sebagai pesta laut masyarakat nelayan. Upacara ini menjadi wujud ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dari hasil laut, sekaligus memohon keselamatan selama melaut dan kelimpahan tangkapan di masa mendatang.[2]
Persiapan
Tahap persiapan dalam upacara nadran dilakukan oleh panitia bersama masyarakat dengan menyiapkan berbagai bahan untuk pembuatan meron atau jolen sebagai wadah utama sesaji yang akan dilarung. Bahan yang digunakan meliputi kayu balok, bambu, batang pisang, serta kertas kraf atau karton. Jolen dibuat dari belahan bambu yang dibentuk menyerupai perahu, kemudian ditopang oleh empat batang kayu balok dan lima batang pohon pisang. Setelah rangka terbentuk, jolen ditutup dengan kertas karton, lalu dihias dengan berbagai ornamen seperti kertas minyak berbentuk bendera, makanan dan minuman ringan, batang tebu, ranting beringin, pring wulung, boneka simbol nakhoda, ilir (kipas anyaman bambu), serta antena simbol radar. Proses pembuatannya melibatkan partisipasi masyarakat dari berbagai kelompok usia.[3]
Bersamaan dengan pembuatan jolen, dilakukan penyembelihan hewan kurban, seperti kambing atau kerbau, oleh jagal di area dekat makam desa. Pada kambing, bagian daging diolah untuk konsumsi bersama, sementara tulang, kulit, dan kepala yang tidak dipisahkan dibungkus kain mori dan ditempatkan dalam jolen. Pada kerbau, sebelum disembelih dilakukan ritual pemandian menggunakan tujuh jenis air, yaitu air laut, air kelapa muda, air muara, campuran air tawar dan asin, air pandai besi, air sumur atau mata air, serta air kemasan. Darah pertama hasil penyembelihan ditampung untuk dijadikan bagian dari sesaji larungan bersama bagian kepala, tulang, dan kulit, sedangkan dagingnya dibagikan kepada masyarakat.[3]
Isi jolen sebagai sesaji terdiri atas berbagai unsur, antara lain kepala kambing beserta tulang dan kulit, bekakak ayam, aneka buah, makanan ringan, tebu, boneka, hasil laut dalam bentuk olahan makanan, kelapa, perlengkapan rumah tangga, rokok dan cerutu, roti, minuman seperti sirop, air mineral, dan arak putih, bubur merah dan putih, kelapa muda, peralatan dapur, anak ayam sebagai simbol kehidupan, uang receh, berbagai jenis minuman tradisional (wedang), hasil bumi, lampu minyak, serta air bunga tujuh rupa. Selain itu, terdapat pula perlengkapan simbolik seperti juwadah pasar yang berisi benda-benda kebutuhan sehari-hari. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, sesaji dalam jolen dipersembahkan kepada berbagai roh yang diyakini memiliki kekuasaan di laut. Setiap roh dipercaya memiliki kesukaan tersendiri terhadap jenis sesaji tertentu, sehingga kelengkapan sesaji dianggap penting dalam pelaksanaan ritual.[3]
Persiapan juga melibatkan peran perempuan, terutama ibu-ibu dan remaja putri, yang mengelola dapur umum untuk menyediakan makanan bagi para peserta kegiatan, termasuk pembuat jolen, peserta tahlil, dan penonton acara. Kegiatan ini dilakukan secara sukarela tanpa imbalan, bahkan dalam beberapa kasus mereka turut menyumbang bahan kebutuhan dapur. Selain itu, kaum laki-laki membuat ancak dari daun kelapa sebagai wadah tambahan sesaji untuk keperluan tahlilan, yang berisi antara lain bekakak ayam, tumpeng, jajanan pasar, buah-buahan, rokok, bubur merah dan putih, bunga tujuh rupa, serta berbagai makanan dan minuman lainnya. Dalam tradisi ini, komposisi sesaji mengikuti ketentuan adat yang diwariskan secara turun-temurun dan tidak diperkenankan untuk dikurangi maupun ditambah.[3]
Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
1234Hermana, Hermana and Heryana, Agus and Nisfiyanti, Yanti and Adhi, Wisnu and Hendarin, E. Tisna and Madiyo, Madiyo and Halimah, Siti (2012) Nadran: upacara syukuran masyarakat nelayan Indramayu. hlm. 103-120. BPNB Jawa Barat, Bandung.