Museum Puri Lukisan (bernama lengkap Museum Puri Lukisan Ratna Wartha) adalah museum yang menjadi tempat dari berbagai koleksi kesenian budaya Bali berupa lukisan dan hasil ukiran kayu dari yang tradisional sampai yang modern. Museum ini merupakan museum seni tertua di Bali yang menyimpan koleksi sejak tahun 1930 hingga saat ini.[2] Museum ini menyimpan koleksi kesenian berbagai budaya Bali, termasuk Ubud, Sanur, Batuan, Young Artist, dan sekolah Keliki.[3] Museum Puri Lukisan berada di Jalan Tjokorda Gde Putra Sudharsana (Raya Ubud), Gianyar, dan berjarak sekitar 40 menit dari bandara Ngurah Rai.
Pendirian Museum Puri Lukisan didasarkan pada kekhawatiran adanya pemiskinan budaya Bali, di mana akan sulit untuk menemukan hasil karya budaya Bali di masa depan, akibat sudah menyebarnya hasil karya seniman Bali ke berbagai penjuru dunia pada beberapa dekade lalu. Ide untuk melestarikan hasil karya seniman Bali sebenarnya sudah ada sejak tahun 1936 dengan mendirikan perkumpulan seniman "Pitamaha" oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati (Raja Ubud), Walter Spies (pelukis asal Jerman), dan Rudolf Bonnet (pelukis asal Belanda). Setelah berjalan beberapa waktu, ide pendirian museum muncul dan dimulailah pendiriannya yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 31 Januari 1954, dan kemudian diresmikan pada tanggal 31 Januari 1956 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Yamin.[2]
Sejarah
1936
Rudolf Bonnet bersama dengan Raja Ubud pada saat itu, Tjokorda Gde Agung Sukawati, serta saudara laki-lakinya, Tjokorda Gde Raka Sukawati, mendirikan yayasan untuk seniman Bali yang dinamakan "Pitamaha". Yayasan ini beranggotakan 125 seniman yang berkumpul tiap minggu untuk mendiskusikan hasil karya lukisan dan ukiran kayu mereka. Namun, jalannya organisasi tersebut terganggu setelah adanya Perang Dunia Kedua, yang diikuti dengan pendirian organisasi baru bernama "Ubud Painters Group" oleh seniman I Gusti Nyoman Lempad di bawah bimbingan Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Rudolf Bonnet. Organisasi ini pun tidak berlangsung lama yang akhirnya membuat kesadaran untuk pendirian museum.[4]
1953
Didirikan Yayasan Ratna Wartha yang melaksanakan ide pendirian museum. Pada tahun ini, dilakukan perancangan Museum Puri Lukisan. Desain museum tersebut dibuat oleh Rudolf Bonnet dengan pembiayaan dari berbagai sumber.[4]
1954
Peletakan batu pertama museum dilakukan oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo. Nama museum ini adalah Museum Puri Lukisan yang berarti istana dari berbagai lukisan. Gubernur Sarimin Reksodiharjo ikut mendukung dalam pembangunan museum ini.[4]
Contoh lukisan dengan nuansa wayang (Boma dan Kesna)
1956
Museum Puri Lukisan selesai didirikan dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Yamin serta resmi dibuka kepada masyarakat umum tanggal 31 Januari 1956. Tjokorda Gde Agung Sukawati menjabat sebagai direktur dan Rudolf Bonnet sebagai kurator. Awal mula koleksi didominasi oleh donasi dari hasil karya Rudolf Bonnet. Kemudian, museum menerima berbagai donasi karya serta pembelian terhadap hasil karya yang menunjukkan perkembangan kesenian Bali yang unik dan berharga.[4]
Bangunan dan koleksi
"Birth of Anoman" karya I Gusti Nyoman Deblog (1906โ1986)
Bangunan museum terdiri dari empat bagian, yaitu:
Bangunan I (Bangunan Timur), bangunan pertama saat masuk, berisi koleksi karya awal dari Ubud dan desa-desa sekitarnya. Di bangunan ini terdapat lukisan dengan nuansa wayang dari abad ke-10 sampai abad ke-15 dan karya abad ke-20 oleh I Wayan Tutur yang berjudul "The Death of Karna" (1935).[2][5]
Bangunan II, berada di sebelah kiri, berisi hasil karya yang colorful dari gaya lukisan Young Artist dan beberapa karya dengan gaya modern. Salah satu karya yang berada di bangunan ini adalah "Barong Dance" (1970) yang dibuat oleh I Gusti Made Kwandji.[2][5]
Bangunan III (Bangunan Utara), berada di sebelah kanan, berisi hasil karya klasik dan tradisional. Salah satu karya yang ada di bangunan ini adalah 'Temple Festival" (1938) yang dibuat oleh I Gusti Ketut Kobot.[2][5]
Bangunan IV (Bangunan Selatan), digunakan untuk acara pameran khusus.[5]
Koleksi museum terdiri dari beberapa kategori, yaitu lukisan wayang kamasan, ukiran kayu, lukisan karya anggota Pitamaha, lukisan karya I Gusti Nyoman Lempad, dan lukisan Bali Modern. Koleksi-koleksi tersebut dipamerkan dalam empat galeri, yaitu pertama adalah Galeri Pitamaha (lukisan Bali tahun 1930โ1945) dan I Gusti Nyoman Lempad, kedua adalah Galeri Ida Bagus Made (lukisan Bali tahun 1945-saat ini dan koleksi lukisan Ida Bagus Made), ketiga adalah Galeri Wayang (lukisan Bali tahun 1945-saat ini dan lukisan wayang kamasan), serta keempat adalah galeri yang menampilkan informasi sejarah para pendiri Museum Puri Lukisan.[2]
Koleksi
"Embasnyane Anoman" karya I Gusti Nyoman Deblog (1906โ1986)
Karya lukis Gelgel
Perang antara Boma dan Krishna
Boma dan Kesna
Tumpek Landep (karya gegambaran warsa 1975) ring Museum Puri Lukisan
Adnyana, I Wayan Kun (2018). Pita Maha: Gerakan Seni Lukis Bali 1930-an. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Adnyana, I Wayan Kun, dkk (2017). Seni Lukis Batuan. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Burhan, Muhammad Agus (2011). Seni Lukis Modern Indonesia: Dari Pusat ke Pinggiran. Yogyakarta: BP. ISI. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Lasminah, Putu (1982). Ida Bagus Gelgel: Hasil Karya dan Pengabdiannya(PDF). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Mann, Richard I. (2006). Treasures of Bali: A Guide to Museums in Bali. Denpasar: Gateway Books International Published in Collaboration with the Museum Association of Bali. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Merinda, Maria Fransiska (2016). Happy Shopping Bali. Jakarta: Elex Media Komputindo. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Setia, Putu (2006). Bali yang Meradang: Buku Ketiga Trilogi "Menggugat Bali". Denpasar: PT. Pustaka Manikgeni. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Sheehan, Sean (1998). Essential Bali and Lombok. Lanham: National Book Network. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Spanjaard, Helena (2007). Pioneers of Balinese Painting: The Rudolf Bonnet Collection. Amsterdam: Rudolf Bonnet, Rijksuniversiteit te Leiden, Rijksmuseum voor Volkenkunde (Netherlands), Rudolf Bonnet Foundation. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Subhiksu, Ida Bagus Kade; Utama, Gusti Bagus Rai (2018). Daya Tarik Wisata Museum Sejarah dan Perkembangannya di Ubud Bali. Yogyakarta: Deepublish. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Sudana, I Nengah, dkk (1991). Buku Petunjuk Museum Le Mayeur. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Provinsi Bali. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Sukawati, Tjokorda Oka A.A. (2006). Kembang Rampai Desa Ubud. Denpasar: Pustaka Nayottama. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Widia, Wayan (1985). Mengenal Seorang Tokoh Idealis Pendiri Museum Puri Lukisan Ratna Wartha Ubud: Tjokorda Gde Agung Sukawati. Jakarta: Proyek Pengembangan Permuseuman Bali, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Win, Bu (2000). Mengenal Sepintas Seni Budaya Bali. Jakarta: PT. Mapan (Mitra Aksara Panaitan). Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)