Di dalam Museum Galunggung terdapat bukan hanya barang-barang sisa kejayaan peninggalan kerajaan Galunggung sebagai salah satu kerajaan di wilayah Priangan Timur[2] saja tetapi juga barang-barang yang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya di zaman itu. Salah satu peninggalan kerajaan adalah kursi bupati tahun 1745
Naskah-naskah kuno
Museum Galunggung menyimpan naskah-naskah kuno seperti manuskrip Sanghyang Siksakandang Karesian[3] serta benda-benda yang terkait dengan penyebaran Islam sebagai peninggalan para ulama yang telah menyebarkan agama Islam di wilayah Tasik, salah satunya adalah Syeikh Kuro.
Di salah satu sudut museum, ada perpustakaan Al-Hikmah yang menyimpan kitab-kitab agama serta buku keilmuan Islam klasik.[2]
Senjata tradisonal
Selain itu, ada pula senjata tradisional[1] seperti golok dan kujang yang dimiliki Kerajaan Galunggung, kerajaan Sumedang Larang serta Banten.
Piring keramik
Piring-piring yang pernah dipakai oleh Sunan Gunung Djati pun tersimpan dalam museum ini.[3]
Sejarah berdirinya
Museum Galunggung didirikan demi mengenang kejayaan Kerajaan Sukapura yang berada di bawah Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Wiradadaha I pada tahun 1641 sampai dengan masa Raden Tumenggung Wiratanuningrat pada tahun 1937. Setelah tahun 1937, Kerajaan Sukapura berganti nama menjadi Kabupaten Tasikmalaya.[3]
Museum ini didirikan pada 20 Februari 2020 yang digagas oleh Irjen. Pol. Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N selaku mantan Kapolda Jabar serta tokoh budaya Sunda[4] agar ingatan kolektif masyarakat Tasikmalaya tidak memudar terkait dengan sejarah dan budayanya sendiri.[2]