Suku Bare'e atau bahasa Belandanya Bare'e-stammen (De Bare'e-Sprekende jilid 1 halaman 119)[1] yang pada waktu itu sudah banyak yang beragama Islam yang disebut Belanda dengan nama Mohammadisme, dan sebagian kecil Orang Poso masih beragama Lamoa (Langit), cara Belanda mengidentifikasikan Alfouren yang disebut Belanda dengan istilah Toradja yaitu Orang Toraja tersebut berpenampilan seperti Gelandangan yang berbeda penampilannya dengan Suku Bare'e yang merupakan Suku Asli di wilayah Grup Poso-Tojo.
Kemudian orang-orang yang berpenampilan seperti Gelandangan tersebut diberinama Alfouren yang kemudian diganti oleh A. C. Kruyt dan Dr. N. Adriani dengan nama Toradja (Toraja), sementara yang sudah beragama islam masih disebut Suku Bare'e (Bare’e-Stammen).
Setelah mempelajari Watu Mpoga'a,[2] maka para gelandangan yang telah menjadi Umat Kristen tersebut mengetahui asal-usul mereka sebelum berada di wilayah Grup Poso-Tojo yaitu berasal dari wilayah Wotu.[3]
Dan Wilayah Poso dan Todjo kemudian dinamakan Grup Poso-Tojo (Toraja Poso-Tojo, atau Toraja Timur (Toradja Bare’e) dengan Bahasa Bare’e (Bare'e-Taal)[4] sebagai bahasa asli di wilayah tersebut.
Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur[5] untuk mengenang peristiwa tersebut dan menghormati jasa nelayan.
Referensi
↑De Bare'e-Sprekende de Toradja in midden celebes jilid 1 halaman 119, ", Diakses 29 Mei 2023.
↑DATA CAGAR BUDAYA DI SULAWESI TENGAH (per Des 2014) ", Diakses 29 Mei 2023.
↑Idwar Anwar (2005). Ensiklopedi Sejarah Luwu. Collaboration of Komunitas Kampung Sawerigading, Pemerintah Kota Palopo, Pemerintah Kabupaten Luwu, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, and Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. ISBN 979-98372-1-9.
↑De Bare'e-Sprekende de Toradja in midden celebes The Series, ", Diakses 29 Mei 2023.
↑"Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-10-30. Diakses tanggal 2006-11-20.