Dalam fisika atom, momen magnetik elektron, atau secara spesifik momen dipol magnetik elektron, adalah momen magnetik dari suatu elektron yang disebabkan oleh sifat intrisik spin dan muatan listriknya. Nilai momen magnetik elektron ini kira-kira sebesar −9,284764×10−24J/T.
Momen magnetik elektron telah diukur dengan keakuratan 7,6 bagian dalam 1013.[1]
Jika elektron digambarkan sebagai suatu partikel bermuatan klasik yang secara harfiah berputar pada sumbunya dengan momentum sudutL, momen dipol magnetiknya μ dinyatakan sebagai[2]
di mana me adalah massa diam elektron. Perlu dicatat bahwa momentum sudutL dalam persamaan ini dapat berupa momentum sudut spin, momentum sudut orbital, atau momemtum sudut total. Namun pada kenyataannya hasil klasik yang diperoleh tidak sesuai dengan faktor kesebandingan bagi momen magnetik. Karenanya, hasil klasik tersebut dikoreksi dengan mengalikannya dengan faktor koreksi tak berdimensi g, yang dikenal sebagai faktor-g:[3]
Sejak Uhlenbeck dan Goudsmit[4] pertama kali mempostulatkan elektron yang berputar dengan momentum sudut dan momen magnetik ≡ ≡ satu magneton Bohr, momen magnetik elektron memainkan peranan penting dalam pengembangan teori kuantum. Contohnya, dalam makalahnya yang populer pada tahun 1927, Dirac[5] memperlihatkan bahwa momen magnetik elektron merupakan konsekuensi alami dari fungsi gelombangrelativistiknya. Dua puluh tahun kemudian, perhitungan Schwinger[6] mengenai koreksi radiatif membantu elektrodinamika kuantum modern untuk mendapat pijakan. Saat ini, kesesuaian antara nilai teoretis dan eksperimen dari momen magnetik elektron menjadi parameter pemeriksaan yang baik bagi teori elektrodinamika kuantum.[7]
Minat dalam pengukuran secara akurat pertama kali dicetuskan oleh Breit,[8] pada tahun 1947, ketika ia menyarankan bahwa nilai yang sebenarnya mungkin agak lebih besar dari nilai Dirac, . Dengan cara ini, ia menjelaskan ketidaksesuaian antara nilai teoretis dan eksperimental pada pembelahan hiperhalus dari atom hidrogen.[9] Pada saat yang sama, elektrodinamika kuantum dikembangkan dari suksesnya perhitungan Bethe[10] terhadap pergeseran Lamb[11] dan, pada tahun 1948, Schwinger menggunakan teori baru untuk menunjukkan bahwa koreksi radiatif menghasilkan orde pertama pada konstanta struktur hiperhalus, α.[6]
↑Hestenes, D.; Weingartshofer, A. (2012). The Electron: New Theory and Experiment (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm.179. ISBN9789401135702.