Mia Karisna Pratiwi (lahir pada 19 Juni 1994) adalah seorang aktivis lingkungan asal Bali, Indonesia. Ia dikenal karena upayanya dalam menangani krisis sampah plastik. Ia merupakan manajer operasional di Griya Luhu, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada solusi pengelolaan limbah berkelanjutan di Bali. Organisasi tersebut memiliki tujuan untuk mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan melalui teknologi. Salah satu hasilnya yaitu, Ia bisa mengembangkan bank sampah digital yang bertujuan untuk mengumpulkan hingga memroses sampah dengan manajemen yang lebih baik.[1] Pemilik nama Ni Putu Oka Mia Krisna Pratiwi ini masuk ke dalam daftar 100 Women (BBC) 2021,[2] sebuah penghargaan tahunan yang diberikan kepada perempuan berpengaruh di seluruh dunia dan menjadi satu-satunya perempuan perwakilan Indonesia.
Karier dan aktivisme
Perempuan kelahiran Bali ini menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri 1 Gianyar (Dosman). Ia kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung dan lulus pada tahun 2019. Setelah lulus, ia kembali ke Bali dan bergabung dengan organisasi nirlaba Griya Luhu dan mengawali kariernya sebagai manager proyek. Pada saat itu, Ia hanya mendampingi satu bank sampah di salah satu desa di Tampaksiring, Gianyar. Semakin lama, bank sampah tersebut terus berkembang, hingga tahun 2022 Griya Luhu sudah mendampingi 114 bank sampah di 28 Desa di Kabupaten Gianyar.[3]
Mia berperan penting dalam pengembangan bank sampah digital, sebuah sistem berbasis aplikasi yang membantu masyarakat desa di Bali dalam mengelola sampah secara lebih efektif. Melalui sistem ini, sampah dapat dikumpulkan, diproses, dan datanya didokumentasikan untuk mendukung perubahan kebijakan terkait pengelolaan limbah.[4] Sebagai seorang aktivis, Mia berkomitmen untuk mengatasi masalah persampahan di Bali, sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan Tuhan. Ia percaya bahwa meskipun manusia menjadi penyebab polusi, mereka juga memiliki peran dalam mencari solusinya.[5]
Penghargaan
Pada 2021, Mia terpilih sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam 100 Women BBC, sebuah inisiatif BBC yang menyoroti peran perempuan dalam berbagai bidang di abad ke-21. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi Mia dalam memperjuangkan solusi pengelolaan sampah yang inovatif dan berkelanjutan. Dalam wawancaranya dengan BBC, Mia menyatakan bahwa penghargaan ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar untuk terus berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sampah, baik di Bali maupun di tingkat global.[6]
Publikasi
Sebagai aktivis lingkungan, Mia juga aktif menulis. Salah satu tulisannya berjudul "Evaluating the collection and composition of plastic waste in the digital waste bank and the reduction of potential leakage into the ocean" yang ditulis bersama koleganya. Artikel ini membahas mengenai pencemaran plastik laut yang diakibatkan oleh kebocoran dari kegiatan pengelolaan sampah di darat, terutama di masyarakat pesisir. Mereka menawarkan mengenai Digitalisasi Pengelolaan Sampah melalui aplikasi seluler ke bank sampah. Data tentang pengelolaan sampah diperoleh dari Aplikasi Griya Luhu yang telah digunakan di 13 desa di sekitar Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bank sampah digital dan pelanggan telah tumbuh pesat dalam 1 tahun. Jumlah unit bank sampah meningkat dari 0 menjadi 80 unit dengan peningkatan menjadi total 5500 nasabah pada periode yang sama dengan maksimal 20 ton sampah yang dikelola per bulan. Secara umum, bank sampah digital telah menunjukkan kinerja yang menjanjikan dalam mencegah kebocoran sampah ke laut dengan penurunan IWG sebesar 54,04%. Dibandingkan dengan persentase penurunan ini, Tulikup sebagai desa berisiko tinggi memiliki penurunan yang cukup rendah (30,30%) dan harus diprioritaskan. Selanjutnya, kemampuan mengelola desa dengan jumlah penduduk/jumlah nasabah yang tinggi perlu ditingkatkan.[7]