Menggulingkan sapiSapi secara rutin berbaring untuk tidur.
Menggulingkan sapi adalah aktivitas yang konon dilakukan dengan cara mengendap-endap mendekati sapi yang sedang lengah atau tertidur sambil berdiri, lalu mendorongnya hingga terjatuh sebagai hiburan. Praktik menggulingkan sapi ini umumnya dianggap sebagai legenda urban[1] dan kisah-kisah tentang tindakan semacam itu dipandang sebagai bualan.[2] Anggapan bahwa penduduk pedesaan mencari hiburan semacam itu karena kurangnya alternatif lain dipandang sebagai sebuah stereotipe.[3][4] Konsep menggulingkan sapi tampaknya berkembang pada tahun 1970-an, meskipun kisah tentang hewan yang tidak bisa bangun kembali jika terjatuh memiliki preseden sejarah yang sudah ada sejak zaman Kekaisaran Romawi.
Sapi secara rutin berbaring dan dapat dengan mudah kembali berdiri kecuali jika sedang sakit atau terluka. Penelitian ilmiah telah dilakukan untuk menentukan apakah menggulingkan sapi secara teoretis mungkin dilakukan, dengan kesimpulan yang bervariasi. Semuanya sepakat bahwa sapi adalah hewan berukuran besar yang sulit dikejutkan dan umumnya akan melawan saat ada upaya untuk menggulingkannya. Perkiraan menunjukkan bahwa diperlukan gaya antara 3.000 dan 4.000 newton (670 dan 900 pon-gaya), dan setidaknya dibutuhkan empat atau mungkin hingga empat belas orang untuk dapat melakukannya. Dalam situasi nyata ketika sapi harus dibaringkan ke tanah, atau "dijatuhkan", seperti untuk keperluan penandaan cap, perawatan kuku, atau penanganan medis hewan, diperlukan tali pengekang atau peralatan mekanis khusus untuk menahan sapi sebelum direbahkan. Pada kasus yang jarang terjadi, sapi bisa berbaring atau terjatuh di dekat parit atau lereng yang menghalangi kemampuan normalnya untuk bangun tanpa bantuan. Praktik menggulingkan sapi memiliki banyak referensi dalam budaya populer dan juga digunakan sebagai kiasan.
Penelitian ilmiah
Seekor sapi sehat yang berbaring miring tidaklah lumpuh; ia dapat bangun kapan pun ia mau.
Beberapa versi dari legenda urban tersebut menyebutkan bahwa karena sapi tidur sambil berdiri, mungkin saja untuk mendekati dan mendorongnya tanpa disadari oleh hewan tersebut.[5] Akan tetapi, sapi hanya tidur ringan saat berdiri, dan mereka mudah terbangun.[6] Mereka berbaring untuk tidur nyenyak.[7] Selain itu, banyak sumber meragukan kelayakan praktik ini, karena sebagian besar sapi memiliki berat lebih dari 450 kilogram (990 pon) dan dengan mudah menahan gaya yang lebih kecil dari itu.[6][8]
Sebuah penelitian pada tahun 2005 yang dipimpin oleh Margo Lillie, seorang ahli zoologi di Universitas British Columbia, beserta mahasiswanya, Tracy Boechler, menyimpulkan bahwa menggulingkan seekor sapi akan membutuhkan gaya sebesar hampir 3.000 newton (670Â lbf)[5] sehingga mustahil untuk dilakukan oleh satu orang saja. Perhitungannya menemukan bahwa dibutuhkan lebih dari empat orang untuk memberikan gaya yang cukup demi menggulingkan seekor sapi,[5] berdasarkan pada perkiraan bahwa satu orang mampu mengerahkan gaya sebesar 660 newton (150Â lbf). Namun, karena sapi dapat menahan tubuhnya sendiri, Lillie dan Boechler memperkirakan bahwa lima atau enam orang kemungkinan besar akan dibutuhkan.[7] Terlebih lagi, sapi sangat waspada terhadap lingkungan sekitarnya dan sangat sulit untuk dikejutkan, karena indra penciuman dan pendengarannya yang sangat baik.[7][9] Analisis Lillie dan Boechler menemukan bahwa jika sapi tidak bergerak, prinsip-prinsip fisika statis menunjukkan bahwa dua orang mungkin dapat menggulingkan sapi jika pusat massanya didorong melewati kukunya sebelum sapi tersebut sempat bereaksi. Namun, sapi tidaklah kaku atau tidak responsif, dan semakin cepat manusia harus bergerak, semakin sedikit gaya yang bisa mereka kerahkan. Karena itu, Lillie dan Boechler menyimpulkan bahwa sangat tidak mungkin sapi benar-benar dapat dijatuhkan dengan cara ini.[5] Lillie menyatakan, "Menurut saya, hal ini menjadikan fisika dari semua itu menjadi mustahil."[7]
Meskipun ahli biologi Steven Vogel setuju bahwa akan dibutuhkan gaya sekitar 3.000 newton untuk mendorong jatuh sapi yang sedang berdiri, ia berpendapat bahwa penelitian oleh Lillie dan Boechler melebih-lebihkan kemampuan mendorong individu manusia.[10] Menggunakan data dari Cotterell dan Kamminga, yang memperkirakan bahwa manusia mengerahkan gaya dorong sebesar 280 newton,[11] Vogel mengemukakan bahwa seseorang yang memberikan gaya pada ketinggian yang dibutuhkan untuk menggulingkan sapi mungkin menghasilkan dorongan maksimum yang tidak lebih dari 300 newton. Berdasarkan perhitungan ini, setidaknya dibutuhkan 10 orang untuk menggulingkan sapi yang tidak bereaksi. Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa kebutuhan gaya gabungan ini mungkin bukanlah hambatan terbesar untuk kejahilan semacam itu. Sapi yang berdiri tidaklah tertidur dan, seperti hewan lainnya, memiliki refleks yang selalu waspada. "Jika sapi tersebut hanya sedikit melebarkan posisi berdirinya tanpa adanya perpindahan keseluruhan dari pusat gravitasinya," katanya, "sekitar 4.000 newton atau 14 orang pendorong akan dibutuhkan—sebuah tantangan yang cukup sulit untuk dilakukan tanpa membuat sapi tersebut marah."[10]
Asal-usul sejarah
Kepercayaan bahwa hewan tertentu tidak dapat bangun jika didorong hingga jatuh memiliki preseden sejarah. Julius Caesar mencatat sebuah kepercayaan bahwa rusa besar Eropa tidak memiliki sendi lutut dan tidak bisa bangun jika terjatuh.[12][13]Plinius mengatakan hal yang sama tentang kaki belakang seekor hewan yang ia sebut achlis, yang menurut penerjemah Plinius pada abad ke-19, Bostock dan Riley, hanyalah nama lain untuk rusa besar tersebut.[14] Mereka mencatat bahwa kepercayaan Plinius mengenai kaki belakang achlis (rusa besar) yang tidak bersendi adalah keliru.[14]
Wartawan Jake Steelhammer meyakini bahwa mitos urban Amerika tentang menggulingkan sapi ini berasal dari tahun 1970-an. Mitos ini "merambah dengan cepat ke tahun 80-an", katanya, "ketika film-film seperti Tommy Boy dan Heathers menampilkan ekspedisi menggulingkan sapi."[17] Kisah-kisah tentang menggulingkan sapi cenderung merupakan cerita dari tangan kedua, ungkapnya, yang diceritakan oleh seseorang yang tidak mengaku pernah menggulingkan sapi namun mengenal orang lain yang mengatakan pernah melakukannya.[17]
Praktik kedokteran hewan dan peternakan
Sebuah tempat penahan anak sapi yang digunakan untuk penandaan cap di Australia
Sapi mungkin perlu direbahkan atau dijatuhkan secara sengaja untuk jenis praktik peternakan tertentu dan penanganan medis. Ketika dilakukan untuk tujuan medis, hal ini sering disebut "perebahan" (casting), dan bila dilakukan tanpa bantuan mekanis, diperlukan pemasangan tali sepanjang 9 hingga 12 meter (30 hingga 40Â ft) di sekeliling tubuh dan kaki hewan tersebut. Setelah tali diamankan dengan simpul tiang yang tidak mudah tergelincir, tali tersebut ditarik ke belakang hingga hewan kehilangan keseimbangan. Begitu sapi dipaksa berbaring dalam posisi rebah sternal (bertumpu pada dadanya), ia dapat digulingkan ke sisinya dan kakinya diikat untuk mencegahnya menendang.[18][19]
Meja anak sapi atau tempat penahan anak sapi, yang juga disebut "meja miring" atau "alat perebah", adalah sebuah penemuan yang relatif modern yang dirancang untuk digunakan pada anak sapi yang sedang dicap. Anak sapi digiring masuk ke sebuah lorong jepit, dikurung, lalu dimiringkan oleh peralatan tersebut ke sisinya untuk memudahkan penandaan dan kastrasi.[20][21]
Meja miring hidrolik untuk sapi dewasa telah ada sejak tahun 1970-an dan dirancang untuk mengangkat serta memiringkan sapi ke sisinya guna memungkinkan perawatan hewan, terutama pada bagian alat kelamin hewan, dan untuk perawatan kuku.[22] (Tidak seperti kuda, sapi umumnya tidak bersikap kooperatif dengan tukang ladam saat berdiri.)[23] Seorang dokter hewan asal Kanada menjelaskan, "Menggunakan meja tersebut jauh lebih aman dan lebih mudah daripada mencoba masuk ke bawah untuk memeriksa hewan itu," dan ia mencatat bahwa sapi yang dimiringkan di atas meja berlapis bantalan biasanya akan berhenti meronta dan menjadi tenang dengan cukup cepat.[22] Salah satu desain, yang dikembangkan di Kolese Kedokteran Hewan Barat di Saskatoon, Saskatchewan, menyertakan "kenyamanan sapi" sebagai aspek perawatan yang unik dalam penggunaan peralatan jenis ini.[23]
Rebah tanpa disengaja
Sapi dapat terjatuh dengan sendirinya tanpa disengaja. Karena tubuhnya yang besar dan kakinya yang relatif pendek, sapi tidak dapat berguling. Sapi yang berbaring dan berguling ke sisinya dengan kaki mengarah ke atas tanjakan bisa terjebak dan tidak dapat bangun tanpa bantuan, yang berpotensi berakibat fatal. Dalam kasus seperti itu, dua orang dapat menggulingkan atau membalikkan sapi ke sisi lainnya, sehingga kakinya mengarah ke bawah tanjakan, memungkinkannya untuk bangun sendiri.[24] Dalam satu kasus terdokumentasi mengenai "menggulingkan sapi di kehidupan nyata", seekor sapi bunting berguling ke dalam selokan di New Hampshire dan terjebak dalam keadaan terbalik hingga diselamatkan oleh pemadam kebakaran sukarela. Pemilik sapi tersebut berkomentar bahwa ia pernah melihat kejadian ini "satu atau dua kali" sebelumnya.[25]
Trauma atau penyakit juga dapat menyebabkan sapi tidak mampu untuk berdiri. Hewan semacam itu terkadang disebut "downer." Terkadang hal ini terjadi sebagai akibat dari kerusakan otot dan saraf saat beranak atau penyakit seperti mastitis.[26] Cedera kaki, otot robek, atau semacam infeksi besar juga dapat menjadi penyebabnya.[27] Sapi ambruk (downer) sangat didorong untuk berdiri dan memiliki peluang pemulihan yang jauh lebih besar jika mereka mampu melakukannya. Jika tidak mampu bangun, beberapa sapi berhasil bertahan hidup—dengan perawatan medis—hingga 14 hari lamanya dan pada akhirnya mampu kembali berdiri. Penanganan medis yang tepat untuk sapi yang ambruk demi mencegah cedera lebih lanjut meliputi tindakan menggulingkannya dari satu sisi ke sisi lainnya setiap tiga jam, memberikan pakan ternak dalam jumlah kecil secara hati-hati dan sering, serta menyediakan akses ke air bersih.[26]
Kematian
Rigor mortis menyebabkan kekakuan otot, yang sangat terlihat jelas pada bagian tungkai
Kombinasi kembung dan rigor mortis menyebabkan sapi yang mati tampak "telentang" (perut menghadap atas)
Hewan yang mati mungkin tampak seperti telah didorong hingga jatuh, tetapi ini sebenarnya adalah proses rigor mortis, yang menegangkan otot-otot bangkai tersebut,[28] yang dimulai enam hingga delapan jam setelah kematian dan berlangsung selama satu hingga dua hari. Hal ini sangat terlihat jelas pada bagian tungkainya, yang akan menjulur lurus kaku.[29] Kembung pascamati (post-mortem) juga terjadi karena adanya pembentukan gas di dalam tubuh.[30] Proses ini dapat mengakibatkan bangkai sapi berakhir dalam posisi telentang dengan keempat kakinya terangkat ke udara.
Berbagai individu mengklaim pernah melakukan praktik menggulingkan sapi,[31] yang sering kali dilakukan saat berada di bawah pengaruh alkohol.[2] Klaim-klaim ini, hingga saat ini, tidak dapat diverifikasi secara tepercaya,[5] dan Jake Swearingen dari Modern Farmer pada tahun 2013 mencatat bahwa YouTube, yang merupakan sumber populer untuk video tantangan dan aksi nekat, "gagal menampilkan satu pun video asli tentang praktik menggulingkan sapi".[32]
Orang-orang iseng terkadang mendorong jatuh patung sapi buatan. Di sepanjang Michigan Avenue di Chicago pada tahun 1999, dua pria yang "tampak mabuk" merobohkan enam sapi kaca serat yang merupakan bagian dari pameran seni publik Cows on Parade. Empat pelaku vandalisme lainnya memindahkan patung "Wow cow" dari kursi penjaga pantainya di Oak Street Beach dan menelantarkannya di jalan lintas bawah pejalan kaki.[33] Setahun kemudian, Kota New York menambatkan sapi-sapi seni CowParade mereka, termasuk karya "A Streetcow Named Desire", pada landasan beton "untuk mencegah rasa tidak hormat dari para penjatuh sapi dan pencuri."[34]
Praktik menggulingkan sapi telah ditampilkan dalam berbagai film dari tahun 1980-an dan setelahnya, seperti Heathers (1988), Tommy Boy (1995), Barnyard (2006), dan I Love You, Beth Cooper (2009).[17][35][36] Praktik ini juga digunakan sebagai judul sebuah film dokumenter tahun 1992 karya Randy Redroad, yakni Cow Tipping—The Militant Indian Waiter.[37]
Variasi dari tindakan menggulingkan sapi juga pernah terlihat di media populer seperti film Cars (2006), yang menampilkan variasi berbentuk kendaraan yang disebut menggulingkan traktor (tractor-tipping), dan permainan video Fallout: New Vegas, yang memungkinkan karakternya untuk mengendap-endap mendekati dan menggulingkan seekor Brahmin, hewan mirip sapi berkepala dua dalam permainan tersebut. Permainan papan Battle Cattle didasarkan pada praktik ini, di mana sapi-sapi bersenjata berat memiliki "Tipping Defense Numbers".[38]
Dalam lagu the Little Willies berjudul "Lou Reed" dari album debut eponim mereka tahun 2006, Norah Jones bernyanyi tentang peristiwa fiktif di mana musisi Lou Reed menggulingkan sapi di Texas.[39] Pada media lain, serial televisi The Big Bang Theory menggunakan cerita tentang menggulingkan sapi sebagai salah satu elemen untuk memperkuat sifat karakter pedesaan dari Penny.[40]
Istilah cow tipping (menggulingkan sapi) terkadang digunakan sebagai kiasan untuk merobohkan sesuatu yang besar. Dalam buku A Giant Cow-Tipping by Savages, penulis John Weir Close menggunakan istilah tersebut untuk mendeskripsikan merger dan akuisisi kontemporer.[41] "Tipping sacred cows" (menggulingkan sapi suci) telah digunakan secara sengaja sebagai metafora campuran dalam beberapa judul buku mengenai pelayanan Kristen dan manajemen bisnis.[42][43]
Referensi
↑Zotti, Ed (1996). Brunvand, Jan Harold (ed.). American Folklore: An Encyclopedia. New York and London: Garland Publishing. hlm. 354. ISBN 0-8153-3350-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 13, 2023. Diakses tanggal May 23, 2016– via Google Books.
12Eaton, Joe (September 6, 2006). "Cow Tipping? Probably Bull". The Roanoke Times. Roanoke, Virginia. Diarsipkan dari asli tanggal Februari 20, 2016. Diakses tanggal November 29, 2015.
↑Ward, Philip (2012). The Book of Common Fallacies: Falsehoods, Misconceptions, Flawed Facts, and Half-Truths That Are Ruining Your Life. New York, N.Y.: Skyhorse Publishing. hlm. 107. ISBN 978-1-61608-336-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 13, 2023. Diakses tanggal November 29, 2015– via Google Books. In his article at the Harvard Crimson, John Larew insists that since he arrived at college, every time he has told someone (especially someone from the city) where he grew up (deep in the country), they inevitably ask what he does for fun, and whether or not he's been cow tipping...[T]he New York Times... perpetuates the mistake when the editor writes 'Saturday night is associated with pleasure and abandon, with toppling cows in rural Pennsylvania'.
↑Semke, Matt. "The Statics of Cow Tipping". University of Nebraska – Lincoln (UNL) College of Engineering and Mechanics Course Project. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 27, 2008. Diakses tanggal April 17, 2007.
↑Caesar, Julius; Aulus Hirtius (1879). "XXVII". Caesar's Commentaries on the Gallic and Civil Wars. New York: Harper & Brothers. hlm. 154. ISBN 0-217-45287-6.
↑Caesar, Caius Julius (1915). "Book VI, paragraph XXVII". Dalam Rhys, Ernest (ed.). The Commentaries of Caius Julius Caesar: The War in Gaul. Diterjemahkan oleh W. A. MacDevitt. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 1, 2021. Diakses tanggal May 23, 2016– via Project Gutenberg.
12Pliny the Elder (1855). "16: The Animals of the North; the Elk, the Achlis, and the Bonasus". The Natural History. Diterjemahkan oleh Bostock, John; Riley, Henry Thomas. London: Taylor and Francis. Diarsipkan dari asli tanggal August 5, 2011. Diakses tanggal July 31, 2013– via Perseus Digital Library.
12Cassidy, Richard; Clasby, Michael. "Matthew Paris and Henry III's Elephant"(PDF). Henry III Fine Rolls Project. The National Archives and King's College London. hlm. 1–4. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal Januari 13, 2016. Diakses tanggal Mei 19, 2016.
↑"Rope Squeeze". University of Pennsylvania Veterinary Medicine. 2016. Diarsipkan dari asli tanggal May 23, 2016. Diakses tanggal May 16, 2016.
↑"Burley Method of Casting". New Bolton Center Field Service Department. 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 25, 2016. Diakses tanggal Mei 16, 2016.
↑"Tipping Tables". Stark Engineering. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 5, 2016. Diakses tanggal Mei 16, 2016.
12Gunville, Lynne (Oktober 28, 2014). "Vet Table Tilts a Cow's World". Canadian Cattlemen. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juni 1, 2016. Diakses tanggal Mei 16, 2016.
12"The Downer Cow". The Cattle Site. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 12, 2020. Diakses tanggal May 16, 2016.
↑Van Metre, David C.; Garry, Frank B. (Desember 2008). "Figuring out down cows"(PDF). Western Dairy News. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal Januari 29, 2013. Diakses tanggal Mei 16, 2016.
↑Boden, Edward, ed. (1998). Black's Veterinary Dictionary (Edisi 19th). Lanham, Maryland: Barnes & Noble Books. hlm. 449. ISBN 0-389-21017-X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 13, 2023. Diakses tanggal May 24, 2016– via Google Books.
↑"Postmortem Changes". University of Georgia College of Veterinary Medicine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 12, 2016. Diakses tanggal Mei 19, 2016.
↑"Post Mortem Changes 5". University of Georgia College of Veterinary Medicine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 18, 2016. Diakses tanggal Mei 19, 2016.
↑Parsons, Ryan (Januari 2, 2006). "Barnyard Poster and Trailer". The Can Magazine. Minds Eye One. Diarsipkan dari versi asli pada Juni 6, 2016. Diakses tanggal Mei 24, 2016.
↑Fowlds, Sean (April 30, 2007), "Tipping Over Sacred Cows", Ministry Today, diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 8, 2015 (review of Change Your Church for Good: The Art of Sacred Cow Tipping by Brad Powell)
McCoy, Red; Rightious, Duke (2005). The Official Cow Tipper's Handbook: The Original Cow Tipping Guide for Serious Cow Tippers. Falling Lane Publishers. ISBNÂ 978-0-9774876-0-8.