Mengare adalah sebuah pulau kecil yang berada di baratdaya Kabupaten Gresik, dan secara administratif masuk ke dalam wilayah kecamatan Bungah.
Pulau Mengare ini dulunya berada di delta Bengawan Solo lama, sebelum pada akhirnya pemerintah Hindia Belanda membuat terusan/kanal sepanjang 12km di tahun 1890[1] untuk mengubah aliran Bengawan Solo agar tidak lagi bermuara di Selat Madura namun di Laut Jawa. Pembuatan kanal ini dilakukan agar tidak terjadi sedimentasi berlebihan di Selat Madura yang pada akhirnya akan mengganggu arus kapal di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Penduduk Mengare banyak yang berprofesi sebagai nelayan dan petambak, terutama tambak Bandeng. Ikan bandeng hasil budidaya warga Mengare kerap menjadi pemenang dalam lelang bandeng kawak yang diselenggarakan dalam even Pasar Bandeng, sebuah even tradisional yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Gresik sehari sebelum hari raya Idul Fitri.
Geografi
Pulau Mengare terbagi menjadi 3 wilayah desa, yaitu: Desa Watuagung, Desa Kramat, dan Desa Tanjung Widoro. Mengare bisa ditempuh melalui jalur darat dari Sembayat, Manyar melalui jalanan sempit yang meliuk-liuk dan terbentuk dari pematang-pematang tambak.
Sejarah
Pulau Mengare bermula dari kisah seorang putri dari keraton Solo, Jawa Tengah, yang hendak dijodohkan dengan bangsawan dari China. Tidak ingin dijodohkan, sang putri melarikan diri dengan naik perahu melalui Sungai Bengawan Solo hingga akhirnya terdampar di Bengawan Legowo, yang kini dikenal sebagai Telaga Pacar di Desa Kramat, Pulau Mengare.[2][3]
Wisata
Sejarah
Benteng Lodewijk merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh Belanda guna menghadang pasukan musuh yang hendak mendarat di pelabuhan Tanjung Perak.
Alam
Pulau Mengare menawarkan eksotisme alam khususnya hutan mangrove yang bisa dijelajahi dengan perahu.
Referensi
↑Whitten, Tony; Roehayat, Emon Soeriaatmadja; Afiff, Suraya A. (1996). The ecology of Java and Bali. Oxford University Press. hlm.129. ISBN9789625930725.