Melaka Belanda (1641-1825) adalah periode terpanjang Malaka di bawah kekuasaan asing. Belanda menguasai Malaka selama hampir 183 tahun. Kekuasaan Belanda menunjukan tanda berkurangnya kepentingan Malaka di wilayah tersebut. Belanda lebih memilih Batavia (kini Jakarta) sebagai pusat ekonomi dan administratif di wilayah tersebut dan mereka menguasai Malaka untuk mencegah kota tersebut dikuasai oleh negara Eropa lainnya.
Melaka Belanda merupakan salah satu kawasan pelabuhan bagi sistem perdagangan maritim Belanda di Asia Tenggara. Belanda menjadikan Melaka Belanda sebagai pusat perdagangan barang bekas dari Tiongkok. Namun para pedagang Tiongkok tidak lagi menjual barang bekas di Melaka Belanda sejak tahun 1683 akibat liberalisasi dan instituÂsionalisasi perdagangan luar negeri diberlakukan oleh Dinasti Qing yang berkuasa atas Tiongkok. Para pedagang Tiongkok lebih memilih pelabuhan-pelabuhan bebas di Asia Tenggara yang tidak berada dalam kekuasaan Belanda. Alasan utamanya ialah biaya pelabuhan yang mahal dan aturan yang rumit di pelabuhan-pelabuhan milik Belanda di Asia Tenggara termasuk di Melaka Belanda.[1]
Referensi
↑Ota, Atsushi (2023). ""Perniagaan Haram" di Lampung: Respons Masyarakat Setempat terhadap Perluasan Perdagangan, Sekitar 1760-1800". Dalam Saputro, Christian Heru Cahyo (ed.). Lampung Tempo Doeloe. Semarang: Cipta Prima Nusantara. hlm. 39. ISBN 978-623-380-035-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.