Medaka (bahasa Jepang: メダカ) adalah nama Jepang untuk spesies ikan Oryzias latipes. Ikan ini adalah anggota genus Oryzias (ikan beras), satu-satunya genus dalam subfamili Oryziinae. Ikan kecil asli Jepang ini, yang panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 3,6 cm (sekitar 1,4 inci), hidup di berbagai habitat perairan tenang seperti sawah, rawa, kolam, sungai berarus lambat, hingga kolam pasang surut. Spesies ini bersifat euryhaline, artinya mampu beradaptasi baik di lingkungan air tawar maupun air payau.[3]
Medaka dikenal sebagai ikan akuarium yang populer berkat daya tahannya yang tinggi serta variasi warnanya yang menarik, mulai dari putih krem hingga kekuningan di alam liar, dan dapat berwarna putih, kuning muda, atau oranye pada hasil budidaya. Selain itu, populasi transgenik dengan warna mencolok seperti kuning terang, merah, atau hijau juga telah dikembangkan, mirip dengan GloFish, meskipun penjualannya dilarang di Uni Eropa.[4]
Di Jepang, medaka telah dipelihara sebagai hewan peliharaan sejak abad ke-17 dan memiliki nilai budaya tersendiri.[5] Dalam proses reproduksinya, setelah pembuahan, induk betina membawa telur yang menempel di bagian depan siripnya untuk sementara waktu sebelum menempelkannya pada tanaman air atau benda lain di sekitarnya.[4]
Ekologi
Medaka umumnya ditemukan di habitat perairan dangkal seperti kolam kecil, sungai berarus lambat, dan area persawahan.[6] Spesies ini memiliki toleransi tinggi terhadap suhu air yang ekstrem, mampu bertahan hidup antara 0 hingga 42 °C, meskipun kondisi ideal bagi mereka berada pada kisaran 15–28 °C.[7]
Sebagai pemakan larva nyamuk dan plankton berukuran kecil, medaka berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat bagi manusia. Dalam hal reproduksi, ikan ini tergolong produktif: betina dapat menghasilkan 10–20 butir telur per kali pemijahan, bahkan mampu bertelur setiap hari di lingkungan laboratorium. Medaka merupakan spesies yang berkembang biak secara musiman, biasanya bertelur pada periode antara musim semi hingga musim panas, dengan preferensi menempelkan telur di sekitar tumbuhan air di sawah atau kolam dangkal.[8] Telur-telur tersebut akan menetas setelah 4 hingga 10 hari.[9]
Selain itu, medaka memiliki sistem ginjal yang sangat efisien, memungkinkan mereka beradaptasi di berbagai tingkat salinitas, termasuk air asin dan air payau.[10] Di alam liar, rata-rata umur hidupnya mencapai sekitar dua tahun, sementara dalam kondisi laboratorium, mereka dapat hidup hingga tiga hingga lima tahun. Medaka dikenal sebagai ikan yang hidup berkelompok (schooling fish), dan menariknya, penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali wajah individu lain dari spesiesnya sendiri.[11]
Budaya
Di Jepang, medaka tidak hanya dipelihara sebagai hewan peliharaan tetapi juga banyak digunakan dalam pendidikan. Di dalam ruang kelas sekolah dasar di Jepang, para siswa sering membesarkan medaka untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam merawat organisme hidup, serta untuk menumbuhkan apresiasi yang lebih luas terhadap siklus hidup hewan.[12]