Sejarah
Masjid ini dianggap dibangun di atas makam Sayyidah Zainab saudara perempuan Hasan dan Husain. Beberapa sejarawan menganggap bahwa Sayyidah Zainab diasingkan ke Mesir beberapa bulan setelah Pertempuran Karbala, di mana ia menetap selama sembilan bulan sebelum kematiannya, dan ia dimakamkan di situs ini.[1] Dengan demikian, lokasi tersebut dianggap sebagai salah satu tempat paling terkenal dalam sejarah Islam dan makam paling populer untuk dikunjungi di kalangan Sunni dan Syiah Isma'ili. Namun, banyak orang lain, terutama Syiah Dua Belas, percaya bahwa Sayyidah Zaynab dimakamkan di Damaskus, Suriah, di mana masjid dengan nama yang sama berada saat ini.
Tidak ada catatan akurat tentang kapan masjid ini dibangun di atas makam Sayyidah Zaynab, dan tidak ada referensi sejarah yang tersedia saat ini kecuali perintah Utsmaniyah Ali Pasha untuk renovasi pada tahun 1547, dan sejak itu ada renovasi lain, termasuk yang dilakukan oleh Amir Abdul Rahman pada tahun 1768 dan yang pada tahun 1940 oleh Kementerian Wakaf yang menghancurkan bangunan lama sepenuhnya dan membangun bangunan saat ini. Sejak saat itu, masjid tersebut tidak terdaftar sebagai artefak sejarah Islam. Masjid pada saat itu terdiri dari tujuh koridor yang sejajar dengan dinding kiblat dengan pelat persegi yang ditutupi dengan kubah. Di sisi berlawanan dari dinding kiblat adalah makam Sayyidah Zaynab, dikelilingi oleh pagar kuningan dan diatapi oleh kubah tinggi. Pada tahun 1969, Kementerian Wakaf menggandakan luas masjid.[2]
Pada tahun 2022, otoritas Mesir memulai upaya pemeliharaan dan renovasi di Masjid Al-Sayyidah Zainab,[3] yang berpuncak pada kunjungan Presiden Abdul Fattah as-Sisi dan Mufaddal Saifuddin pada 12 Mei 2024, untuk menandai selesainya pembangunannya.[4]