Masjid Agung Sultan Abdullah (bahasa arab: مسجد السلطان عبد الله الكبير) adalah masjid utama di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, yang terletak di jantung Kota Tubei, berdekatan dengan kantor bupati, DPRD, KPU, dan Polsek setempat.[1] Masjid ini menempati lahan seluas 100.000 m² dengan bangunan utama seluas 1.000 m². Menampilkan arsitektur yang terdiri dari menara utama setinggi 45 meter dan empat menara pendukung berbahan granit impor dari Tiongkok. Desain eksterior didominasi warna hijau, kuning, dan putih, dilengkapi kubah utama berlapis emas serta kubah-kubah kecil pada menara. Struktur kubah menggunakan material beton frikas yang tahan lama, didukung sistem ventilasi bawah kubah untuk menjaga sirkulasi udara. Dengan kapasitas 3.500 jemaah, masjid ini dilengkapi fasilitas pendukung seperti perpustakaan Islam, ruang serbaguna untuk kegiatan sosial dan pendidikan, serta pusat kajian keagamaan. Keberadaannya berfungsi ganda sebagai tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi di Kabupaten Lebong.[2]
Etimologi
Nama Sultan Abdullah berasal dari gelar atau nama lain Ki Karang Nio, seorang raja yang pernah berkuasa di Tanah Rejang pada masa lampau. Nama "Sultan Abdullah" ini diberikan dan disahkan oleh pemerintah Kabupaten Lebong sebagai penghormatan kepada Ki Karang Nio sebagai tokoh sejarah penting di daerah tersebut.[3]
Masjid Agung Sultan Abdullah ini berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus destinasi wisata religi yang memadukan nilai spiritual dengan warisan budaya lokal. Masjid ini mengangkat nama Sultan Abdullah, tokoh bersejarah dari Tanah Rejang, melalui arsitekturnya yang mencolok dengan menara utama setinggi 45 meter dan empat menara pendukung berbahan granit impor, didominasi warna hijau, kuning, dan putih.
Fasilitas seperti replika Ka'bah untuk latihan manasik haji, ruang pertemuan, dan area penginapan mendukung perannya sebagai pusat kegiatan keagamaan dan edukasi. Meski lokasinya agak terpencil dari pusat permukiman, masjid tetap menjadi simbol penting dalam kehidupan masyarakat, sekaligus daya tarik wisata yang dikembangkan melalui peningkatan infrastruktur oleh pemerintah daerah. Keberadaannya mencerminkan integrasi antara fungsi keagamaan, pelestarian sejarah, dan pengembangan pariwisata berbasis budaya di Lebong.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.