Masisir dalam terminologi bahasa dari gabungan kata "mahasiswa", "Indonesia" dan "Mesir". Muncul sebelum tahun 1990 di kalangan para Warga Negara Indonesia yang tinggal di Mesir, menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo. Besarnya antusias warga negara Indonesia terhadap ilmu teologi, ditambah dengan bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa ilmu keislaman Indonesia tersebar masif berkat ahli-ahli Islam yang datang dari Timur tengah, khususnya Universitas Al-Azhar. Bertambahlah jumlah warga negara Indonesia yang menuntut ilmu di negeri Mesir.
Penduduk masisir yang terus bertambah, menjadikan persaudaraan antar sesama menjadi banyak dan kuat. Dimulai dari sebuah perkumpulan segelintir orang yang menggunakan istilah masisir, hingga kalimat masisir tersebut menyebar, menyatu pada setiap percakapan sehari-hari masisir sendiri. Tidak jelas perkumpulan yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, tetapi banyak yang berpendapat lebih pada anggota kelompok studi walisongo[1]
Meskipun terdengar kurang baku, tetapi saat ini, hampir semua kalangan masisir sudah menerima dan memahami istilah masisir. Dewasa ini, kata masisir mulai digunakan dibeberapa artikel, buku, surat kabar terkait mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Mesir.
Demografi Masisir
Sesuai dengan data pemilu presiden dan wakil presiden 2019,[2] jumlah masisir lebih dari 5.000 mahasiswa aktif, tercampur antara yang berada di Ma'had al-Azhar, Daurah lugah, studi: S1,S2 bahkan S3.
Pada awal mulanya, mereka datang secara Independen, dan belum terorganisasi. Semakin kemari, seiring dengan banyaknya minat belajar ke Al-Azhar, bermunculan mediator yang membantu administrasi pendaftaran bagi Calon mahasiswa Universitas Al-Azhar. Dan kini, Kemenag melalui Diktis[3] nya, bersama OIAAI,[4] mengakomodir seluruh rangkaian administratif guna pendaftaran menjadi calon mahasiswa Al-Azhar.
Selain menuntut ilmu, banyak di antara mereka yang aktif diberbagai kajian, penelitian, pemerintahan yang dalam hal ini melalui organisasi mahasiswa[5] terstruktur. beberapa di antara mereka juga mendidikan usaha kecil-kecilan yang belum berizin, untuk menopang biaya hidup mereka selama di Mesir. Sebut saja industri tempe yang banyak bermunculan persis seperti yang dikisahkan dalam film "Ketika Cinta Bertasbih".