Gambaran umum
Manorathapūraṇī memiliki karakteristik yang sejalan dengan kitab-kitab komentar lainnya, yakni menjelaskan latar belakang munculnya suatu sutta. Disebutkan bahwa sebab kemunculan suatu sutta ada empat macam: timbul karena kecenderungan (ajjhāsaya) diri sendiri, timbul karena kecenderungan pihak lain, timbul atas dasar pertanyaan, dan timbul karena adanya suatu peristiwa tertentu. Kitab ini juga menjelaskan kosakata penting secara gramatikal beserta maknanya, misalnya penjelasan dalam Cakkavatti Sutta (AN 3.14) atas kata rāja (raja), yang dimaknai sebagai sosok yang membuat rakyatnya mencintainya melalui empat saṅgahavatthu (dasar-dasar perangkulan).
Selain itu, penyusun kitab ini turut menyisipkan kisah legenda, cerita rakyat, riwayat, berbagai pengetahuan tambahan, serta adat istiadat India kuno ke dalam penjelasan atas sutta-sutta. Hal ini tidak hanya memperjelas konteksnya, tetapi juga memberikan wawasan seputar budaya dan sejarah kuno bagi para pengkaji. Sebagai contoh, terdapat kisah kepiting emas dan burung merak emas yang lengah karena terpikat suara wanita hingga mencelakai dirinya sendiri, yang muncul dalam penjelasan atas sutta kedua. Kitab ini juga memuat data geografis pada masanya, misalnya keterangan bahwa dari Jambudīpa (istilah kuno untuk wilayah India dan sekitarnya) sejauh 700 yojana terdapat sebuah negeri bernama Suvaṇṇabhūmi, yang dapat dicapai dengan kapal berlayar mengikuti angin dalam waktu 7 hari 7 malam.
Kitab ini menjabarkan pokok-pokok Dhamma penting, seperti dukkha, tujuh bojjhaṅga, dan empat paṭisambhidā; serta 37 bodhipakkhiyadhamma (dhamma yang menunjang jalan mulia), yakni empat satipaṭṭhāna, empat sammappadhāna, empat iddhipāda, lima indriya, lima bala, tujuh bojjhaṅga, dan ariya-aṭṭhaṅgikamagga. Kitab ini juga memuat uraian rinci mengenai praktik Dhamma, misalnya dalam Aparaacchāsaṅghātavagga dijelaskan bahwa mettā, yakni pemancaran cinta kasih kepada segenap makhluk, salah satu dari empat brahmavihāra, menjadi landasan bagi vaṭṭa (putaran/siklus), landasan bagi vipassanā (pandangan-terang), sarana untuk berdiam berbahagia pada masa kini, serta landasan bagi nirodha (pelenyapan [penderitaan]), tetapi tidak bersifat lokuttara (adiduniawi) karena masih mengambil makhluk sebagai objeknya.
Manorathapūraṇī juga menguraikan riwayat para Buddha di masa lampau, riwayat hampir seluruh siswa dan siswi utama Sang Buddha, serta tempat-tempat Beliau menjalani masa vassa, mulai dari vassa pertama yang dijalani di Isipatana Migadāya hingga vassa ke-45 yang dijalani di Jetavana Mahāvihāra atau Pubbārāma dekat kota Sāvatthī. Di samping itu, kitab ini juga memuat ramalan tentang lenyapnya status kebhikkhuan (sāsana) serta sosok bhikkhu terakhir.