Mandi Tian Mandaring, juga dikenal dengan sebutan Bapagar Mayang, merupakan salah satu upacara daur hidup masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Upacara ini dilakukan untuk perempuan yang mengandung anak pertama ketika usia kandungan memasuki tujuh bulan. Tradisi ini berfungsi sebagai ungkapan syukur, doa keselamatan, serta simbol pembersihan diri bagi ibu dan anak yang akan dilahirkan.[1]
Asal-usul
Tradisi ini berakar dari kebudayaan Banjar yang memadukan unsur pra-Islam dengan nilai-nilai Islam.[2]
Istilah Tian Mandaring berarti wanita yang pertama kali mengandung, sedangkan Bapagar Mayang diambil dari pagar ritual yang terbuat dari batang tebu dan dihiasi mayang pinang (bunga jantan dari pohon pinang).
Makna utama dari upacara ini adalah penyucian lahir dan batin menjelang kelahiran. Prosesi ini juga diartikan sebagai doa agar bayi terlahir dengan selamat, sehat, dan membawa kebahagiaan bagi keluarga. Selain itu, tradisi ini mencerminkan nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan kasih sayang yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Banjar.[3]
Rangkaian Upacara
Upacara Mandi Tian Mandaring biasanya dilaksanakan di dalam pagar yang disebut pagar mayang. Tiang-tiang pagar dibuat dari batang tebu yang diikat bersama tombak, sedangkan sekelilingnya digantungkan mayang pinang. Di dalam pagar disiapkan berbagai perlengkapan seperti air bunga tujuh rupa, air mayang, asam kamal (air asam jawa untuk keramas), kasai temu giring (bedak tradisional), dan galas dandang berisi air yang telah dibacakan doa.
Perempuan yang akan menjalani upacara mengenakan kain berwarna kuning, warna yang melambangkan kesucian dan doa keselamatan. Ia dibimbing menuju pagar mayang sambil membawa nyiur balacuk (kelapa muda bertunas) yang dibungkus kain kuning. Saat berjalan menuju tempat upacara, peserta diiringi lantunan salawat Nabi Muhammad SAW sebagai tanda keberkahan dan doa keselamatan.
Di dalam pagar mayang, calon ibu duduk di atas kuantan batiharap (kuali tanah liat yang dibalik) beralaskan anyaman bamban. Beberapa perempuan tua atau dukun beranak menyiram air bunga ke kepala sambil melangir atau mengusapnya secara lembut. Salah satu tahap penting adalah memukul upung mayang di atas kepala calon ibu. Jika kuncup mayang pecah dalam satu kali pukulan, hal itu dianggap pertanda baik bahwa proses persalinan akan berjalan lancar.[1]
Simbolisme dan Penutup
Siraman air bunga dilakukan tiga kali dengan arah tangkai berbeda, ke atas, ke bawah, dan mendatar, yang melambangkan keselarasan antara langit, manusia, dan bumi. Setelah itu, dua tangkai bunga mayang disematkan di telinga sebagai sumping, dan calon ibu menjalani ritual memasukkan lingkaran benang berulas-ulas sambil melangkah maju dan mundur sebagai simbol keseimbangan hidup antara usaha dan doa.
Di pintu keluar pagar mayang, diletakkan kuali tanah dan telur ayam yang kemudian diinjak hingga pecah. Tindakan ini dimaknai sebagai pembuangan sial dan perlindungan dari gangguan roh jahat. Setelah selesai, calon ibu dirias dan disisir rambutnya, lalu sebuah cermin dengan lilin menyala diputar tiga kali di hadapannya sambil ditaburi minyak likat baburih. Tahap ini menjadi doa agar anak yang lahir kelak berwajah rupawan dan berhati baik.[1]
Nilai Budaya
Mandi Tian Mandaring mencerminkan perpaduan antara adat lokal dan ajaran Islam. Upacara ini menegaskan nilai-nilai kesucian, kebersamaan, serta penghormatan terhadap kehidupan baru yang akan lahir. Selain menjadi ritual spiritual, prosesi ini juga berfungsi memperkuat solidaritas antarperempuan dan menjaga kesinambungan tradisi Banjar yang diwariskan turun-temurun.
123Henraswati, Wajidi, Ganie, T. N., Syarifuddin R., & Wibowo, A. (2012). Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pontianak: Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak.
↑“Mengenal Tradisi Mandi Tian Mandaring, Upacara Usia Kehamilan 7 Bulanan Khas Kalimantan Selatan.” HerStory.co.id. Diakses 2025.
↑“Mandi Tian Marinding: Prosesi Tujuh Bulanan Khas Banjar.” Budaya-Indonesia.org. Diakses 2025.