Terna yang kokoh, tinggi 2—4 m, bagian-bagiannya berbau aromatis apabila diremas. Helaian daun lanset sempit, 40—90 cm x 7(—20) cm, meluncip di ujungnya; biasanya berambut beledu rapat di sisi bawahnya, atau setidaknya pada tepi dan sisi bawah tulang daun utama; pelepah berambut rapat dekat helaian daun; ligula rata, hingga 1cm, berambut; tangkai daun 3–7cm.[6]
Perbungaan bentuk bulir (racemose) di pucuk, tegak atau agak melengkung, panjang hingga lk. 35cm, tatkala masih kuncup terlindungi oleh dua helai seludang bunga yang panjang. Sumbu karangan bunga tegak, kekar, hijau, berambut rapat, menopang hingga 60 kuntum bunga tunggal atau lebih, beberapa yang terbawah mungkin berupa pasangan 2 kuntum. Daun pelindung sekunder (brakteola) 2–4cm, putih, beberapa berujung ungu-merah. Bakal buah hingga lk. 0,9 × 1,2cm, berambut rapat di luarnya. Kelopak hingga lk. 3,2cm panjangnya, bertaju-3, putih, berambut beledu di sisi luarnya. Mahkota dengan tabung hingga 1,2cm, putih, taju sebelah atas hingga 4 × 2,5cm, berambut rapat di sisi luarnya, dua taju sampingnya sedikit lebih kecil. Bibir bunga (labellum) bundar telur lebar, panjang hingga 6 cm dan bagian yang terlebar mencapai lebih dari 3cm, tepinya berkerut-merut, sebelah ujung membentuk tepian menonjol; bagian dalam bibir berwarna merah dengan bintik-bintik kuning, sebelah tepinya kuning bergaris-garis merah-ungu.[4][6]
Buah kapsul cenderung bulat, garis tengah hingga 3cm, berambut kaku (miang) pendek, jingga merah. Biji bersudut 3-4, panjang lk. 5 mm.[6]
Terna ini biasa didapati di hutan-hutan primer dan wilayah liar lain yang sejuk lembap, hingga ketinggian sedang.[6]
Manfaat
Buah dan biji
Semua bagian tumbuhan berbau keras, mengandung semacam minyak terbang. Di Jawa, rimpangnya dipakai untuk mengobati bisul dan luka-luka.[7] Di Ambon, rimpang ini dicampur dengan buah pinang dan dikunyah, untuk membaguskan dan menyaringkan suara dalam bernyanyi.[2] Kulit buah yang diremas dalam air dipakai untuk membersihkan dan mengharumkan pakaian dan rambut.[2]
↑Burman, N.L. 1768. Flora Indica: cui accedit series zoophytorum indicorum, nec non Prodromus Florae Capensis. p. 2. Lugduni Batavorum :Apud Cornelium Haek;[1 Mar-6 Apr 1768].
12Holttum, R.E. 1950. "The Zingiberaceae of the Malay Peninsula". The Gardens' Bulletin, Singapore. Vol. XIII(1): 155-6. Singapore:Govt. Print. Off. [30 June 1950]
1234567Ibrahim, H., 2001. Alpinia malaccensis (Burm.f.) Roscoe. In: van Valkenburg, J.L.C.H. and Bunyapraphatsara, N. (Editors). Plant Resources of South-East Asia No. 12(2): Medicinal and poisonous plants 2. Backhuys Publisher, Leiden, The Netherlands, pp. 59-60. Internet Record from ProseabaseDiarsipkan 2017-08-12 di Wayback Machine.. PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation, Bogor, Indonesia. Accessed from Internet: 11-Aug-2017
12Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna IndonesiaI: 577-8. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda-1922- I: 529-30)
Muchtaridi M, Musfiroh I, Subarnas A, Rambia I, Suganda H, Nasrudin ME. 2014. "Chemical composition and locomotors activity of essential oils from the rhizome, stem, and leaf of Alpinia malaccensis (Burm.f.) Roxb of Indonesian spices". J. Appl. Pharmaceut. Sci.4(1): 52-56Diarsipkan 2017-08-12 di Wayback Machine..