Lava bantal berbahAliran sungai opak yang melewati lava bantal berbah
Lava bantal berbah merupakan salah satu fenomena alam berupa lava bantal yang terdapat di bawah Jembatan kali Opak desa Watuagung, secara administratif terletak di Perbatasan Kalurahan Jogotirto–Kalurahan Kalitirto, Jogotirto, Berbah, Sleman dan pada koordinat 7° 48' 29,6" LS dan 110° 27 '33.7" BT. Lokasi situs ini sangat mudah dijangkau, bahkan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Akses menuju situs ini dari Kota Yogyakarta dapat melalui simpang empat ringroad Blok O. Lava bantal berbah terbentuk dari aktivitas vulkanologi purba di selatan Jawa terutama di wilayah yang berada di sekitar pegunungan karst selatan Jawa.[1][2] Lava Bantal (pillow lava) adalah batuan lava basal berumur 56 juta tahun yang terbentuk dari lelehan lava Gunung Merapi yang menyentuh air dan membeku sekaligus menunjukkan proses awal pembentukan gunung api purba pertama di Jawa sekaligus representasi masa-masa awal pembentukan gunung api di Pulau Jawa.[3] Pada situs warisan geologi, lava bantal berbah memiliki dua objek Geoheritage yaitu Lava Bantal dan Watuadeg yang terletak di sebelah timur .[4] Lava Bantal telah ditetapkan sebagai salah satu geoheritage dan destinasi wisata di Kabupaten Sleman sejak 2016.[5][6][7][8][9]
Deskripsi
Contoh lava bantal bawah air
Dinamakan Lava Bantal karena bentuk batuannya mirip seperti tumpukan bantal yang terbentuk akibat dari lava hasil erupsi lelehan yang berkontak langsung dengan fluida (massa air yang bisa di laut atau danau).[10] Pembekuan yang cepat terjadi karena kontak lava dengan massa air sehingga mineral–mineralnya tidak terbentuk dengan baik dan membentuk geometri mirip tumpukan bantal. Soesilo dkk (1996) menguraikan bahwa kenampakan lava bantal kadang membulat akan tetapi yang paling menonjol adalah memanjang seperti tabung. Kenampakan seperti ini terbentuk akibat dari lava hasil erupsi lelehan yang berkontak langsung dengan fluida (massa air, bisa di laut atau danau). Pembekuan yang cepat karena kontak dengan massa air menyebabkan mineral-mineralnya tidak terbentuk dengan baik, dan membentuk geometri serupa bantal (Prasetyadi, 2012).[11]
Menurut para geolog, dahulu gunung api purba berada di bawah laut dan lava bantal berfungsi sebagai penopang. Pembentukan aliran lava basal bersturktur bantal terjadi pada kedalaman 2.600 – 2.700 meter di bawah pemukaan laut. Soesilo, et. al (1996) mengungkapkan bahwa kenampakan lava bantal kadang membulat tetapi yang paling menonjol yaitu memanjang seperti tabung dengan diameter 1,5 – 4 meter dan memiliki kekar-kekar radial berarah N 95° – 132° (menunjukkan pusat erupsi yang terdapat di sebelah barat sampai barat laut). Lava-lava ini dibungkus oleh mineral palagonit tipis, hitam bercak-bercak putih, bertekstur vitroverik dengan tebal 1,5 – 2,5 cm (kenampakan bertingkat-tingkat dan terkadang menyusup ke dalam tubuhnya). Zeolit dan kuarsa mengisi lubang gas berdiameter 0,01 – 0,017 m (rata-rata 0,015 m) atau 1 – 1,7 cm (rata-rata 1,5 cm) sebanyak 10 – 15 % dan berdiameter mencapai 15 mm mencapai kedalaman 0,03 – 0,04 m atau 3 – 4 cm. [1][2][11] Sayatan tipis pada bagian ± 0,75 cm kearah dalam dari permukaan kulit memperlihatkan adanya diameter lubang gas sebesar 1 mm (Soesilo dkk, 1996). Proses pembekuan ini tertahan oleh tekanan hidrostatis yang membentuk batuan lonjong tak beraturan yang sekarang disebut sebagai batuan lava bantal. Ciri fisik batuan ini berwarna hitam, keras, dan bertekstur tidak beraturan.[3]
Soesilo, et.al (1996) menyimpulkan bahwa lava bantal ini terbentuk pada kedalaman kurang dari 500 meter atau bahkan lebih dangkal lagi. Kenampakan kulit palagonit yang bertingkat-tingkat dan sebagian diantaranya menyusup dalam tubuh lava cenderung terbentuk pada lingkungan yang dangkal. Hal ini lebih diyakinkan dengan kehadiran struktur sedimen gradasi terbalik pada breksi batuapung, silang-siur, hummocky, laminasi sejajar dan bergelombang pada batu pasir vulkanik di atas lava tersebut. Akan tetapi, tektonik lava bantal berbah ini diyakini bukan batuan lantai samudra (dasar Samudra Hindia) melainkan penunjaman kerak Samudra Hindia di bawah kerak BenuaEurasia, yang sekarang menjadi Pulau Jawa. Karena bukan berasal dari gunung api tengah Samudra Hindia (Mid Oceanic Ridge Basalts/MORB) dan tidak ada struktur sesar besar yang menggeser batuan itu dari tempat semula, maka diperkirakan lava bantal berbah terletak tidak jauh dari sumbernya yaitu Gunung Merapi.[1][11]
Berdasarkan pada kajian geologi yang telah dilakukan, di kaki Pegunungan Selatan Jawa Tengah, dalam seri Oligo-Miosen, setidaknya terjadi 2 episode aliran lava bantal bersamaan dengan kegiatan gunungapi bawah laut.
Episode pertama yaitu pada Kala Oligosen berupa lava basal andesit yang mengalir bersamaan dengan pengendapan Formasi Kebo pada lingkungan laut dalam.
Episode kedua adalah aliran lava basal andesit (lava bantal di Berbah) yang mengalir pada Kala Miosen Awal bersamaan dengan pengendapan Formasi Semilir bagian bawah.
Lava bantal berbah termasuk ke dalam Formasi Semilir yang terdapat di dalam satuan batu pasir vulkanik (Rahardjo, 1995). Bagian bawah satuan ini ditempati oleh lava bantal berturut-turut ke arah atas disusun oleh perulangan batupasir vulkanik tebal, berlaminasi dengan sisipan batulempung dan lensa batulempung vulkanik. Diantara lapisan batupasir vulkanik tersebut terdapat lensa lava bantal dan di bagian atas satuan ini berangsur-angsur menjadi klastika kasar dengan ditemukan perselingan batupasir vulkanik dengan breksi batuapung. Berkali-kali batu pasir bergradasi menjadi batupasir vulkanik berbatuapung dan breksi batuapung. Secara keseluruhan, satuan ini berwarna putih dengan kemiringan lapisan cenderung ke arah timur tenggara (Soesilo dkk, 1996).[11]
Pada tahun 2015, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta akan melakukan penelitian terhadap Lava Bantal yang ada di aliran Sungai Opak, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman untuk pelestarian warisan geologi berusia ribuan tahun tersebut.[12]
1234Pusat Survei Gelogi - Badan Geologi KESDM. "Layanan Informasi Warisan Geologi Indonesia". Layanan Informasi Warisan Geologi Indonesia (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 2026-07-26. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)