Kecamatan Lamongan sebagai ibu kota kabupaten memiliki sejarah yang panjang. Wilayah ini didirikan oleh Rangga Hadi atau Mbah Lamong yang merupakan santri Sunan Giri dari Gresik. Beliau mendapatkan kepercayaan untuk mendirikan pemukiman sekaligus menyebarkan Agama Islam. Pemukiman ini mengalami perkembangan yang pesat dan mencapai puncaknya dengan diresmikannya Kadipaten Lamongan. Mbah Lamong diangkat sebagai adipati Lamongan pertama dan bergelar Tumenggung Surajaya. Pengangkatan ini terjadi pada tanggal 26 Mei 1569 M yang sekarang diakui sebagai HUT Kabupaten Lamongan.[5]
Geografi
Peta administrasi Lamongan
Lamongan adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan bagian timur. Geografinya berupa dataran rendah dan mengalami urbanisasi yang cukup pesat karena perannya sebagai ibu kota kabupaten. Walaupun begitu, kecamatan ini masih memiliki areal persawahan yang luas terutama di sebelah barat dan selatan.
Batas wilayah Kecamatan Lamongan adalah sebagai berikut:[6]
Nama Lamongan tidak bisa dilepaskan dari sosok Mbah Lamong atau Rangga Hadi. Rangga Hadi mendapatkan perintah dari Sunan Giri untuk menyebarkan Agama Islam di barat Kesunanan Giri (Giri Kedaton), sebuah kerajaan besar di Gresik. Hadi mengawali perjalanannya dengan menyusuri sungai yang saat ini dikenal dengan sebutan Kali Lamong. Pada awalnya, Hadi berdakwah di Babat sebelum berpindah ke timur di wilayah Kecamatan Lamongan sekarang. Oleh masyarakat setempat, Rangga Hadi dijuluki Mbah Lamong yang berasal dari kata Bahasa Jawa kuno 'La/Ra' yang artinya baik dan 'Mong' yang artinya momong. Pada masa Sunan Prapen (Sunan Giri IV), Lamongan mengalami perkembangan yang pesat dan statusnya diangkat menjadi kadipaten. Rangga Hadi juga resmi diangkat sebagai adipati pertama bergelar Tumenggung Surajaya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 26 Mei 1569 M yang sekarang diakui sebagai HUT Kabupaten Lamongan.[5] Sekarang Mbah Lamong dimakamkan di Musholla Mbah Lamong Kelurahan Tumenggungan, sebuah musholla kecil di tengah pemukiman padat penduduk.[7]
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Lamongan terdiri dari 12 desa dan 8 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT), yakni sebagai berikut:[8]
Nasi Boranan atau Sego Boran adalah kuliner khas Kabupaten Lamongan yang berasal dari Dusun Kaotan, Desa Sumberejo. Nama kuliner ini berasal dari "boran" yang berarti wakul atau wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Kuliner ini umumnya dijajakan secara lesehan di sekitar pasar maupun pinggir jalan di wilayah Lamongan. Nasi boranan disajikan dengan berbagai pilihan lauk yang beragam, seperti ikan bandeng, ayam, tahu, tempe, jeroan, telur, dan lainnya.[9][10] Namun, lauk yang paling unik dibanding lainnya adalah ikan sili yang merupakan ikan air tawar lokal dan kian langka.[11]